Dukung Pemenuhan Kebutuhan Hunian, Bank BTN Akan Terbikan Efek Beragunan Aset dan Obligasi

Direktur Finance, Planning, & Treasury Bank BTN Nofry Rony Poetra./Repro
Direktur Finance, Planning, & Treasury Bank BTN Nofry Rony Poetra./Repro

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. bersiap untuk kembali menggalang dana dari pasar modal pada tahun depan.


Penggalangan dana itu rencananya dilakukan melalui penerbitan Efek Beragun Aset (EBA) dan obligasi. Dana segar tersebut nantinya akan digunakan untuk menopang target bisnis perseroan, terutama dalam rangka pemenuhan kebutuhan hunian di Indonesia.

Direktur Finance, Planning, & Treasury Bank BTN Nofry Rony Poetra mengatakan setiap tahun perseroan aktif menghimpun dana dari pasar modal. Namun, kondisi likuiditas yang cukup positif pada tahun ini membuat Bank BTN menggeser opsi tersebut pada tahun depan.

Tidak hanya itu, Nofry mengatakan, Bank BTN juga akan menyasar nasabah ritel pada tahun depan. Pasalnya, perseroan melihat potensi besar pada nasabah ritel yang mulai melirik instrumen investasi selain saham.

"Kami akan melanjutkan proses sekuritisasi pada kuartal pertama di 2022. Kami akan menyasar tidak hanya nasabah institusional, tapi juga nasabah ritel yang mulai berinvestasi di EBA ritel," jelas Nofry dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat (19/11).

Terkait obligasi, Nofry menuturkan pihaknya masih akan memantau arah pergerakan suku bunga acuan.

"Kami akan melakukan penerbitan obligasi sebelum bank sentral menaikkan suku bunga acuan," ujarnya.

Hingga 30 September 2021, emiten perbankan bersandi saham BBTN ini berhasil mencatatkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Bank BTN telah  menyalurkan kredit dan pembiayaan sebesar Rp270,27 triliun per 30 September 2021 atau naik 6,03% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp254,91 triliun.

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi masih menjadi penopang utama pertumbuhan kredit BBTN dengan kenaikan sebesar 11,74% yoy menjadi Rp129,98 triliun pada 30 September 2021. Kemudian, KPR Non-Subsidi juga turut menunjukkan kenaikan di level 2,11% yoy menjadi Rp81,88 triliun per 30 September 2021.