dr. Ario Perbowo Putra: Jangan Remehkan Komorbid di Masa Pandemi

ilustrasi/Net
ilustrasi/Net

Pandemi covid yang merebak tahun 2020 lalu memakan banyak korban terutama mereka yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan.


Hal ini menyadarkan kita pentingnya mengetahui riwayat penyakit yang kita alami dan juga pentingnya untuk melakukan pemeriksaan rutin.

Demikian disampaikan Dokter Penyakit Dalam RS Premier Jatinegara Jakarta, dr. Ario Perbowo Putra dalam artikel yang dikirim oleh Corporate Communication PT Asuransi Jiwa Sequis Life, Jumat (8/4/2022).

"Penyakit komorbid merupakan penyakit penyerta lain selain penyakit utamanya. Dapat bersifat akut atau kronis menahun. Adanya komorbid bisa memperparah gejala atau beratnya derajat penyakit utama. Faktor risiko, seperti usia dan jenis kelamin dapat berbeda pada setiap komorbid, tidak bisa disamaratakan," katanya.

Dijelaskannya, banyak orang tidak menyadari apakah dirinya memiliki penyakit penyerta, misalnya sudah terbiasa minum kopi manis setiap hari padahal sebenarnya sudah ada gangguan diabetes, merasa kaki sering nyeri kesemutan saat mengonsumsi seafood tapi tidak juga memeriksakan diri. 

"Jika seseorang sudah tahu riwayat penyakit terdahulu dan ada obat yang biasa dikonsumsi rutin maka sudah pasti termasuk orang dengan komorbid. Sebaiknya, selalu informasikan perihal ini kepada dokter yang merawat," ungkapnya.

Bagi mereka yang belum mengetahui apakah memiliki komorbid atau tidak, dr. Ario menyarankan agar berkonsultasi dengan dokter. 

"Diagnosis akan dilakukan dokter melalui anamnesis tanda serta gejala sebelumnya, pemeriksaan fisik, dan beberapa pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan darah, pemeriksaan rekam jantung/elektrokardiogram(EKG), dapat juga melalui pemeriksaan pencitraan, seperti rontgen, ultrasonography, Computerized Tomography (CT) scan, atau  Magnetic Resonance Imaging (MRI)," kata dr. Ario.

Jika pasien terbuka dan jujur, dokter dapat mengetahui sejauh mana kondisi komorbid pasien tersebut terkontrol karena kondisi komorbid pada setiap pasien berbeda. Ada yang kondisi komorbidnya stabil terkontrol dan ada yang kambuh. 

"Jika pasien komorbid terinfeksi covid maka dokter dapat mengetahui derajat berat penyakit covid-19 dan dapat melaksanakan tatalaksana secara menyeluruh. Jika komorbid terkontrol akan sama dengan pasien tanpa komorbid," demikian dr. Ario.