Soekirman, Sang Bupati Model Literasi

SOEKIRMAN sangat mencintai literasi. Perjalanan dan pengalamannya yang panjang di lingkungan akademis dan dunia aktivis, membuat ia selalu bersentuhan dengan dunia baca tulis. Seiring dengan itu, ketrampilan membaca cepat pun tumbuh, dan ketrampilan menulisnya cukup baik. Bibit kecintaannya kepada literasi sudah mulai tumbuh disaat masih anak-anak dan remaja. Tatkala masih duduk di bangku SMP di Lubuk Pakam, Soekirman dan temannya sudah mulai menyewakan buku-buku novel, komik dan silat bersambung. Dan menginjak masa remaja, tepatnya di bangku SMA, Soekirman dan teman-temannya terlibat dalam dunia surat-menyurat melalui Sahabat Pena. Ia dan teman-temannya membentuk sebuah perkumpulan sahabat pena di Lubuk Pakam, yang bermarkas di kantor pos. Ia menjadi ketua dari perkumpulan sahabat pena itu. Tradisi membaca Soekirman dari dulu hingga sekarang masih terawat dengan baik. Dalam berbagai kesempatan dan momentum yang lowong, Soekirman selalu menyempatkan untuk membaca. Hingga ia menjadi seorang Bupati yang tentu super sibuk, Soekirman masih memiliki minat membaca yang tinggi. Dari wawancara dengan Soekirman (2020), ia menyatakan bahwa di sela-sela kesibukan sebagai kepala daerah, ia selalu sempatkan untuk membaca. Dalam setiap tahunnya rata-rata Bupati Serdang Bedagai ini membaca sebanyak 6 buku. Selain membaca buku-buku teks, Soekirman juga membaca info-info aktual melalui media sosial dan media massa online. Kegemarannya membaca membuat Soekirman sering mendatangi toko buku diberbagai kota disela-sela ia sedang menjalankan tugasnya. Bila ia sedang bertugas di satu kota, ia sempatkan waktunya untuk datang ke toko buku di kota tersebut. Bila menemukan buku-buku yang menarik dan ia sukai di toko buku itu, Soekirman membelinya untuk menambah koleksi perputakaan pribadinya. Kebiasaan ini menumbuhkan ide untuk membuat perpustakaan mininya di kediaman pribadinya. Sekitar 4000 buku berlatar sosial, budaya, ekonomi, filsafat, agama telah ia koleksi menjadi perpustakaan pribadinya. Kecintaannya pada buku, membuat Soekirman sering memberikan oleh-oleh buku kepada para sahabat dan kepada tamu-tamu pentingnya. Selain membaca, Soekirman juga gemar mengkoleksi surat-surat pribadi dan surat-surat keluarga. Melalui wawancara, Soekirman (2019) menyampaikan bahwa hingga saat ini, ia telah mengumpulkan sebanyak 500 surat. Surat-surat ini ia kumpulkan dari keluarga pihak istri, dan surat-surat keluarga dari pihak orang tuanya, serta surat-suratnya sendiri. Ada tiga kategori surat yang telah ia kumpulkan, pertama surat-surat terkait korespondensi dengan keluarga, kedua surat-surat korespondensi dengan sahabat dan partner kerjanya (surat-surat kerja), dan ketiga surat-surat dengan para sahabat pergerakannya (surat-surat pergerakan). Secara historis, surat-surat ini dikelompokkan pada tiga masa: pertama, surat-surat di era kolonial dan masa kemerdekaan awal. Kedua, surat-surat di masa orde baru dan masa reformasi. Dan ketiga, surat-surat di era milenial. Dari paparan korespondensi di dalam surat-surat tersebut juga kaya akan perspektif, yakni mengandung perspektif sosio historis, sosio kultural, dan sosio filosofis. Kecintaannya dengan dunia literasi, membuat Soekirman rajin menulis berbagai tema. Utamanya terkait tema-tema sosial, pedesaan, pertanian, lingkungan, budaya, ekonomi, dan pemerintahan. Di sela-sela kesibukannya sebagai Bupati, ia masih sempatkan waktu untuk menulis. Dari kegemarannya menulis ini, Soekirman telah menghasilkan 12 buku karyanya. Keduabelas buku itu ia hasilkan dari tahun 2001 hingga tahun 2019. Berikut buku-buku yang telah ia tulis: Orang LSM Naik Haji (2001); Sayum Sabah, Sistem Pertanian Polikultur (2005); Sejarah Pemerintahan Jawa Klasik (2007); Wong Jowo di Sumatera (2008); Daerah Istimewa Surakarta (2010); Ensiklopedia Serat Centhini (2012); Bang Kirman (2012); Perahu Gethek Nyabrang Jaladri (2013); Serdang Bedagai Kampung Kami (2013); Onderneming Van Sergai (2014); Serser Sauduran, Kumpulan Cerpen bahasa Batak (2016); Surat dari Medan, Merawat Budaya Literasi untuk Bangsa (2019). Selain menulis buku, Soekirman juga menulis pantun dan puisi. Hampir setiap minggu Soekirman membuat pantun. Pantun-pantun yang ia buat ini, ia sampaikan dalam berbagai pidato saat menjalankan tugas-tugasnya sebagai Bupati. Sampai saat ini, Soekirman telah membuat 30 puisi yang bertema sosial, lingkungan, dan romantisme. Bagi Soekirman, menulis puisi adalah bagian dari refleksi dan dialog diri atas kehidupan sosial dan ketuhanannya. Soekirman, selain menjadi role model literasi membaca dan menulis, ia juga telah menjadi role model literasi budaya. Soekirman sangat memahami nilai-nilai budaya Jawa dan Batak. Ia mampu berbahasa Jawa dengan sangat baik, dan juga mampu berbahasa Batak dengan sangat baik. Selain bisa nembang Jawa, Soekirman juga bisa mendalang. Dalam berbagai kesempatan ia menjadi seorang dalang pewayangan. Kemampuannya berbahasa Batak dan memahami nilai-nilai adat Batak, membuat ia sering diundang dalam berbagai forum yang diselenggarakan oleh komunitas Batak. Ia juga menginisiasi gerakan kampung budaya di daerahnya. Gerakan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya leluhur untuk dikembangkan dalam tatanan masyarakat di kampung atau di desa. Wujud dari gerakan ini, Soekirman telah mencanangkan Kampung Budaya Jawa yang terletak di kampung Ibus desa Sei Rampah kabupaten Serdang Bedagai. Diharapkan sebagai kampung rujukan budaya Jawa, kampung ini juga menjadi tujuan wisata budaya. Dalam rencana program Soekirman, menyusul akan dikembangkan juga Kampung Budaya Melayu, Kampung Budaya Simalungun, Kampung Budaya Minangkabau, Kampung Budaya Banten, Kampung Budaya Batak Toba, dan kampung budaya lainnya di kabupaten yang ia pimpin. Baginya gerakan literasi budaya lokal ini tidak saja memperkuat eksistensi nilai dan norma budaya leluhur, juga membentengi generasi kita untuk tidak kehilangan jati dirinya di era globalisasi ini. Keseriusannya dalam mengembangkan literasi budaya ini menghantarkan Soekirman memperoleh Penghargaan Anugerah Budaya kategori Kepala Daerah dari PWI Pusat. Soekirman juga menggunakan media sosial untuk komunikasi dan menyampaikan pesan-pesan moral dan sosialnya. Selain facebook, ia juga menggunakan Whatsapp, twitter dan youtube. Semua akun-akun pribadi media sosialnya ia kelola sendiri. Inilah potret seorang Soekirman. Ia telah menjadi role model literasi bagi masyarakatnya di Kabupaten Serdang Bedagai. Ini ia lakukan karena ia sadar bahwa ketrampilan literasi menjadi bagian penting yang harus dikuasai untuk bisa bertahan dan eksis hidup di abad 21 ini. Seperti yang pernah soekirman katakan, ”Masa depan kita adalah Literasi”. Ia merujuk Alvin Toffler dalam bukunya The Future Shock (1970) yang mengatakan bahwa masa depan umat manusia adalah informasi, siapa yang menguasai informasi maka dialah yang menguasai dunia. Itulah sebabnya, dalam berbagai kesempatan dan pidatonya, Soekirman selalu menyampaikan pesan-pesan pentingnya literasi untuk masa depan.[R] Agus Marwan, Sekjend Forum Masyarakat Literasi Indonesia – FORMALINDO


SOEKIRMAN sangat mencintai literasi. Perjalanan dan pengalamannya yang panjang di lingkungan akademis dan dunia aktivis, membuat ia selalu bersentuhan dengan dunia baca tulis. Seiring dengan itu, ketrampilan membaca cepat pun tumbuh, dan ketrampilan menulisnya cukup baik. Bibit kecintaannya kepada literasi sudah mulai tumbuh disaat masih anak-anak dan remaja. Tatkala masih duduk di bangku SMP di Lubuk Pakam, Soekirman dan temannya sudah mulai menyewakan buku-buku novel, komik dan silat bersambung. Dan menginjak masa remaja, tepatnya di bangku SMA, Soekirman dan teman-temannya terlibat dalam dunia surat-menyurat melalui Sahabat Pena. Ia dan teman-temannya membentuk sebuah perkumpulan sahabat pena di Lubuk Pakam, yang bermarkas di kantor pos. Ia menjadi ketua dari perkumpulan sahabat pena itu. Tradisi membaca Soekirman dari dulu hingga sekarang masih terawat dengan baik. Dalam berbagai kesempatan dan momentum yang lowong, Soekirman selalu menyempatkan untuk membaca. Hingga ia menjadi seorang Bupati yang tentu super sibuk, Soekirman masih memiliki minat membaca yang tinggi. Dari wawancara dengan Soekirman (2020), ia menyatakan bahwa di sela-sela kesibukan sebagai kepala daerah, ia selalu sempatkan untuk membaca. Dalam setiap tahunnya rata-rata Bupati Serdang Bedagai ini membaca sebanyak 6 buku. Selain membaca buku-buku teks, Soekirman juga membaca info-info aktual melalui media sosial dan media massa online. Kegemarannya membaca membuat Soekirman sering mendatangi toko buku diberbagai kota disela-sela ia sedang menjalankan tugasnya. Bila ia sedang bertugas di satu kota, ia sempatkan waktunya untuk datang ke toko buku di kota tersebut. Bila menemukan buku-buku yang menarik dan ia sukai di toko buku itu, Soekirman membelinya untuk menambah koleksi perputakaan pribadinya. Kebiasaan ini menumbuhkan ide untuk membuat perpustakaan mininya di kediaman pribadinya. Sekitar 4000 buku berlatar sosial, budaya, ekonomi, filsafat, agama telah ia koleksi menjadi perpustakaan pribadinya. Kecintaannya pada buku, membuat Soekirman sering memberikan oleh-oleh buku kepada para sahabat dan kepada tamu-tamu pentingnya. Selain membaca, Soekirman juga gemar mengkoleksi surat-surat pribadi dan surat-surat keluarga. Melalui wawancara, Soekirman (2019) menyampaikan bahwa hingga saat ini, ia telah mengumpulkan sebanyak 500 surat. Surat-surat ini ia kumpulkan dari keluarga pihak istri, dan surat-surat keluarga dari pihak orang tuanya, serta surat-suratnya sendiri. Ada tiga kategori surat yang telah ia kumpulkan, pertama surat-surat terkait korespondensi dengan keluarga, kedua surat-surat korespondensi dengan sahabat dan partner kerjanya (surat-surat kerja), dan ketiga surat-surat dengan para sahabat pergerakannya (surat-surat pergerakan). Secara historis, surat-surat ini dikelompokkan pada tiga masa: pertama, surat-surat di era kolonial dan masa kemerdekaan awal. Kedua, surat-surat di masa orde baru dan masa reformasi. Dan ketiga, surat-surat di era milenial. Dari paparan korespondensi di dalam surat-surat tersebut juga kaya akan perspektif, yakni mengandung perspektif sosio historis, sosio kultural, dan sosio filosofis. Kecintaannya dengan dunia literasi, membuat Soekirman rajin menulis berbagai tema. Utamanya terkait tema-tema sosial, pedesaan, pertanian, lingkungan, budaya, ekonomi, dan pemerintahan. Di sela-sela kesibukannya sebagai Bupati, ia masih sempatkan waktu untuk menulis. Dari kegemarannya menulis ini, Soekirman telah menghasilkan 12 buku karyanya. Keduabelas buku itu ia hasilkan dari tahun 2001 hingga tahun 2019. Berikut buku-buku yang telah ia tulis: Orang LSM Naik Haji (2001); Sayum Sabah, Sistem Pertanian Polikultur (2005); Sejarah Pemerintahan Jawa Klasik (2007); Wong Jowo di Sumatera (2008); Daerah Istimewa Surakarta (2010); Ensiklopedia Serat Centhini (2012); Bang Kirman (2012); Perahu Gethek Nyabrang Jaladri (2013); Serdang Bedagai Kampung Kami (2013); Onderneming Van Sergai (2014); Serser Sauduran, Kumpulan Cerpen bahasa Batak (2016); Surat dari Medan, Merawat Budaya Literasi untuk Bangsa (2019). Selain menulis buku, Soekirman juga menulis pantun dan puisi. Hampir setiap minggu Soekirman membuat pantun. Pantun-pantun yang ia buat ini, ia sampaikan dalam berbagai pidato saat menjalankan tugas-tugasnya sebagai Bupati. Sampai saat ini, Soekirman telah membuat 30 puisi yang bertema sosial, lingkungan, dan romantisme. Bagi Soekirman, menulis puisi adalah bagian dari refleksi dan dialog diri atas kehidupan sosial dan ketuhanannya. Soekirman, selain menjadi role model literasi membaca dan menulis, ia juga telah menjadi role model literasi budaya. Soekirman sangat memahami nilai-nilai budaya Jawa dan Batak. Ia mampu berbahasa Jawa dengan sangat baik, dan juga mampu berbahasa Batak dengan sangat baik. Selain bisa nembang Jawa, Soekirman juga bisa mendalang. Dalam berbagai kesempatan ia menjadi seorang dalang pewayangan. Kemampuannya berbahasa Batak dan memahami nilai-nilai adat Batak, membuat ia sering diundang dalam berbagai forum yang diselenggarakan oleh komunitas Batak. Ia juga menginisiasi gerakan kampung budaya di daerahnya. Gerakan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya leluhur untuk dikembangkan dalam tatanan masyarakat di kampung atau di desa. Wujud dari gerakan ini, Soekirman telah mencanangkan Kampung Budaya Jawa yang terletak di kampung Ibus desa Sei Rampah kabupaten Serdang Bedagai. Diharapkan sebagai kampung rujukan budaya Jawa, kampung ini juga menjadi tujuan wisata budaya. Dalam rencana program Soekirman, menyusul akan dikembangkan juga Kampung Budaya Melayu, Kampung Budaya Simalungun, Kampung Budaya Minangkabau, Kampung Budaya Banten, Kampung Budaya Batak Toba, dan kampung budaya lainnya di kabupaten yang ia pimpin. Baginya gerakan literasi budaya lokal ini tidak saja memperkuat eksistensi nilai dan norma budaya leluhur, juga membentengi generasi kita untuk tidak kehilangan jati dirinya di era globalisasi ini. Keseriusannya dalam mengembangkan literasi budaya ini menghantarkan Soekirman memperoleh Penghargaan Anugerah Budaya kategori Kepala Daerah dari PWI Pusat. Soekirman juga menggunakan media sosial untuk komunikasi dan menyampaikan pesan-pesan moral dan sosialnya. Selain facebook, ia juga menggunakan Whatsapp, twitter dan youtube. Semua akun-akun pribadi media sosialnya ia kelola sendiri. Inilah potret seorang Soekirman. Ia telah menjadi role model literasi bagi masyarakatnya di Kabupaten Serdang Bedagai. Ini ia lakukan karena ia sadar bahwa ketrampilan literasi menjadi bagian penting yang harus dikuasai untuk bisa bertahan dan eksis hidup di abad 21 ini. Seperti yang pernah soekirman katakan, ”Masa depan kita adalah Literasi”. Ia merujuk Alvin Toffler dalam bukunya The Future Shock (1970) yang mengatakan bahwa masa depan umat manusia adalah informasi, siapa yang menguasai informasi maka dialah yang menguasai dunia. Itulah sebabnya, dalam berbagai kesempatan dan pidatonya, Soekirman selalu menyampaikan pesan-pesan pentingnya literasi untuk masa depan. Agus Marwan, Sekjend Forum Masyarakat Literasi Indonesia – FORMALINDO