Lima Tokoh Wanita Indonesia yang Layak Masuk Bursa Capres

Puan Maharani/Net
Puan Maharani/Net

   Saat ini Indonesia memiliki beberapa tokoh perempuan yang sangat populer atas sepak terjangnya dalam dunia politik.


 Nama-nama mereka kerap muncul pada berbagai lembaga survey mengenai nama yamg layak masuk bursa calon presiden.

Dari data yang dikumpulkan redaksi, setidaknya ada lima sosok perempuan yang dinilai layak masuk bursa capres tersebut. 

Mungkinkah untuk kedepannya Indonesia bakal kembali memiliki Presiden wanita? Tidak ada yang tahu. Namun, tidak ada salahnya kita kenali lebih dalam terkait profil singkat dari masing-masingnya.

Susi Pudjiastuti

Susi Pudjiastuti merupakan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Dia menempati urutan teratas dengan elektabilitas 24,21 persen.

Sebelum menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Ada cerita menarik dan inspiratif dari seorang Susi. Bisa dibilang ia merupakan satu-satunya menteri dalam Kabinet Kerja, yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi formal. Sebab, Susi tidak lulus SMA dan hanya memiliki ijazah SMP. Namun, meskipun tidak mengenyam pendidikan tinggi, akan tetapi ia tidak bisa dipandang sebelah mata.

Pasca putus sekolah, Susi pun memutuskan untuk memulai usaha, seperti yang dilakukan oleh orangtua dan sang kakek. Dia kemudian memilih menjadi pengepul ikan di Pangandaran, Jawa Barat. Dengan modal Rp750 ribu dari hasil menjual perhiasan, ia pun mulai berbisnis pada 1983 silam.

Bisnis yang dilakukannya bisa disebut sukses, hingga akhirnya pada 1996, Susi  mendirikan pabrik pengolahan ikan yaitu  PT ASI Pudjiastuti Marine Product.

Tri Rismaharini

Wanita yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial ini memperoleh elektabilitas sebanyak 17,66 persen. Tri Rismaharini adalah Wali Kota Surabaya wanita pertama saat periode 2010-2015.

Sebelum menjabat sebagai Wali Kota, Risma, biasa ia disapa pernah menduduki posisi sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). Di bawah kepemimpinan nya saat iru, Surabaya berhasil mendapat predikat sebagai kota yang bersih dan asri. Bahkan, Kota Pahlawan ini berhasil meraih Piala Adipura pada 2011 untuk kategori Kota Metropolitan, setelah lima tahun berturut-turut belum pernah lagi memperolehnya.

Sebagai pemimpin, Risma juga dikenal sebagai sosok yang tegas dan tak kenal kompromi, khususnya saat dia menjalankan tugasnya. Sampai akhirnya pernah ada pejabat di DPRD yang berusaha untuk mendepak Risma dari jabatannya sebagai Wali Kota Surabaya. 

Khofifah Indar Parawansa

Wanita yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur ini, berdasarkan hasil survei memperoleh elektabilitas 11,07 persen.

Khofifah memulai karier politiknya saat masih berusia 27 tahun. Dia menjadi anggota DPR RI mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 1992-1997.

Selanjutnya, pada Pemilu 1997, Khofifah m terpilih kembali menjadi anggota DPR. Hanya saja pada periode ini, Khofifah hanya bertahan dua tahun saja, sebab ketika tahun 1998, terjadi peralihan rezim dari Orde Baru ke Era Reformasi.

Aktivis perempuan Nahdlatul Ulama (NU) ini pernah menjabat posisi menteri sebanyak dua kali, dengan kepemimpinan dua Presiden yang berbeda.

Yenny Wahid

Siapa yang tidak kenal Yenny Wahid, putri Presiden Gus Dur ini merupakan salah satu dari kelima tokoh wanita yang namanya masuk dalam bursa calon Presiden (capres) pada Pemilu 2024.

Berdasarkan hasil survei, Yenny Wahid  memperoleh elektabilitas 3,14 persen. Dengan perolehan tersebut, dia berhasil mengungguli tokoh perempuan lain, salah satunya Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah  yang hanya mempunyai elektabilitas 1,32 persen.

Hal yang membuatnya menarik adalah Yenny Wahid sama sekali tidak memiliki panggung formal sebagai pejabat publik. Meskipun sebenarnya dia adalah putri almarhum Presiden Gus Dur.

Puan Maharani

Walaupun terlahir sebagai bagian dari darah Bung Karno, Puan tidak langsung terjun ke dunia politik, akan tetapi dia turut menyaksikan bagaimana perjuangan kedua orang tuanya, Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kemas ketika menghadapi berbagai peristiwa politik yang terjadi.

Meski demikian, Puan hanya memperoleh elektabilitas sebanyak 4,01 persen. Berbicara tentang karier politiknya, Puan sendiri baru terjun ke dunia politik pada 2006. Ia menjadi anggota Dewan Pimpinan Pusat KNPI. Satu tahun berlalu, Puan akhirnya diangkat menjadi Ketua DPP PDI Perjuangan untuk Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat.

Walaupun banyak orang menganggap dia memiliki privilege sebagai cucu proklamator, tapi Puan tetap harus merangkak dari bawah untuk bisa mendapatkan posisinya yang sekarang. Saat ini Puan menjabat sebagai Ketua DPR RI.