Covid-19 Picu Pelemahan Harga Komoditas Unggulan Sumatera Utara

Harga CPO belakangan ini mengalami kenaikan setelah sempat terpuruk saat harga minyak mentah dunia mengalami penurunan. Harga minyak mentah dunia yang sempat -$40 per barel pernah menjadi sentimen negatif bagi harga CPO. Dimana harga CPO di pada awal pekan lalu sempat menyentuh level 2.018 ringgit per tonnya. Namun belakangan, sejak mulai ditemukannya obat covid 19 bernama remdesivir dari Gilead, ketegangan kapal Iran-AS, ketegangan AS-China di laut China selatan kembali membuat harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan. Dan akhirnya membuat harga CPO kembali menguat dikisaran 2.088 ringgit per ton di akhir perdagangan pekan ini. Namun, harga CPO dalam satu bulan terakhir ini mengalami pelemahan. Dari kisaran Rp 2.200 hingga Rp 2.300, saat ini harga CPO mendekati level psikologis Rp 2.000. kinerja harga CPO melemah dan mata uang Rupiah juga mulai menunjukan penguatan dikisaran 14.800-an per US Dolar. Kinerja mata uang Rupiah yang menguat juga akan mengurangi pendapatan eksportir. Disisi lain, tren perkembangan harga CPO yang terpuruk memperburuk pendapatan eksportir kita. Hal inilah yang menjadi kekuatiran saya, dimana penurunan harga CPO akan merugikan para petani sawit kita. Saat harga CPO dikisaran Rp 2.200 hingga Rp 2.300 saja harga TBS ditingkat petani plasma memang masih di atas Rp. 1.200 per Kg. "Tetapi ada petani lain yang hanya bisa menjual dikisaran Rp.1000-an per Kg. Dan ada masalah supply atau persediaan yang mengalami kenaikan. Dimana, saat sawit murah, permintaan CPO yang melambat membuat petani sawit menerima harga yang lebih murah. Dan pandemic corona membuat ekspektasi penyerapan sawit kedepan kian buram," kata pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, Minggu (3/5). Harga karet juga tak kalah menderita. Sejak awal tahun 2020 harga karet mengalami penurunan dari kisaran 183 Yen per Kg menjadi 160 Yen per Kg. lagi-lagi pandemic memperburuk harga komoditas unggulan Sumatera Utara. "Sawit dan karet yang menjadi unggulan SUMUT terpaksa harus turun harganya diterpa oleh buruknya kondisi ekonomi global akibat pandemic corona," pungkasnya.[R]


Harga CPO belakangan ini mengalami kenaikan setelah sempat terpuruk saat harga minyak mentah dunia mengalami penurunan. Harga minyak mentah dunia yang sempat -$40 per barel pernah menjadi sentimen negatif bagi harga CPO. Dimana harga CPO di pada awal pekan lalu sempat menyentuh level 2.018 ringgit per tonnya. Namun belakangan, sejak mulai ditemukannya obat covid 19 bernama remdesivir dari Gilead, ketegangan kapal Iran-AS, ketegangan AS-China di laut China selatan kembali membuat harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan. Dan akhirnya membuat harga CPO kembali menguat dikisaran 2.088 ringgit per ton di akhir perdagangan pekan ini. Namun, harga CPO dalam satu bulan terakhir ini mengalami pelemahan. Dari kisaran Rp 2.200 hingga Rp 2.300, saat ini harga CPO mendekati level psikologis Rp 2.000. kinerja harga CPO melemah dan mata uang Rupiah juga mulai menunjukan penguatan dikisaran 14.800-an per US Dolar. Kinerja mata uang Rupiah yang menguat juga akan mengurangi pendapatan eksportir. Disisi lain, tren perkembangan harga CPO yang terpuruk memperburuk pendapatan eksportir kita. Hal inilah yang menjadi kekuatiran saya, dimana penurunan harga CPO akan merugikan para petani sawit kita. Saat harga CPO dikisaran Rp 2.200 hingga Rp 2.300 saja harga TBS ditingkat petani plasma memang masih di atas Rp. 1.200 per Kg. "Tetapi ada petani lain yang hanya bisa menjual dikisaran Rp.1000-an per Kg. Dan ada masalah supply atau persediaan yang mengalami kenaikan. Dimana, saat sawit murah, permintaan CPO yang melambat membuat petani sawit menerima harga yang lebih murah. Dan pandemic corona membuat ekspektasi penyerapan sawit kedepan kian buram," kata pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, Minggu (3/5). Harga karet juga tak kalah menderita. Sejak awal tahun 2020 harga karet mengalami penurunan dari kisaran 183 Yen per Kg menjadi 160 Yen per Kg. lagi-lagi pandemic memperburuk harga komoditas unggulan Sumatera Utara. "Sawit dan karet yang menjadi unggulan SUMUT terpaksa harus turun harganya diterpa oleh buruknya kondisi ekonomi global akibat pandemic corona," pungkasnya.