Sisi Gelap Transaksi Online, Daring dan E-Commerce

PERDAGANGAN secara  on line /daring/e-commerce sudah banyak dibahas oleh  para  pakar, termasuk dampak yang ditimbulkannya dari berbagai aspek. Dampak negatif lingkungan yang  ditimbulkannya belum pernah  dibahas.

Salah satu dampak lingkungan yang ditimbulkannya  adalah meningkatnya  jejak karbon per unit produk.
      
Konsep jejak karbon ( carbon foot print) diartikan sebagai jumlah/kuantitas carbon yang teremisi ke atmosfer dalam satuan berat tertentu dalam lintasan proses produksi  suatu benda,sejak penambangan/perolehan bahan baku hingga distribusi /pemasaran. Makin besar bobot  karbon yang  dilepas ke atmosfir, makin besar pula jejak karbon  yang  dikandungnya.

Di dalam masyarakat negara maju, produk yang mengandung jejak  karbon lebih kecil, dinilai/dihargai lebih tinggi dari produk yang berjejak karbon lebih besar. Seperti  diketahui  bahwa karbon termasuk golongan gas rumah kaca yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfir bumi.

 Sebagai contoh, sepasang  sepatu  yang  diproduksi di Jepang. Dengan metode perhitungan jejak  karbon yang akurat, diketahui bahwa untuk memproduksi sepasang  sepatu  sejak dari pengadaan  bahan baku, proses produksi,menghasilkan jejak karbon sebanyak 50 gram.

Sepatu tersebut  kemudian  diekspor dalam  jumlah banyak  (100.000 pasang) ke Indonesia, menggunakan  moda  transportasi  laut (kapal cargo) yang memuat  ratusan kontainer. Sesampainya di pelabuhan Tanjung  Prioritas, jejak karbonnya dihitung kembali dan diperoleh angka 65 gram. Penambahan itu dihasilkan dari total emisi karbon selama di perjalanan dibagi total tonase barang dan penumpang/awak kapal. Dari gudang pelabuhan,sepatu  itu diangkut dengan truk kontainer menuju kota tujuan berikutnya.

Di kota berikutnya,jejak karbon sudah meningkat lagi menjadi 75 gram.Ini angka yang dihasilkan dengan cara perdagangan konvensional. Perdagangan secara on line pasti menghasilkan  jejak  karbon lebih besar,karena  barang  diangkut  dengan  moda angkutan udara (cargo udara) dalam satuan/tonase lebih kecil,dan diantar secara khusus sampai ke rumah pembeli,sehingga menghasilkan jejak  karbon  lebih besar per unit barang.

Dengan  contoh  ilustrasi di atas ,menjadi jelas,dibalik kemudahan transaksi on line,ternyata mengandung dampak negatif terhadap lingkungan yang selama ini luput dari perhatian kita.Fenomena ini sama juga dengan perilaku kaum jet set yang lebih suka menggunakan pesawat pribadi untuk melakukan perjalanan dibanding pesawat komersial. Mereka kerap mempraktekkan gaya hidup berjejak karbon tinggi.

Diharapkan di masa depan, kita lebih serius memikirkan solusi untuk mengurangi  dampak negatif dari berbagai aspek kehidupan,demi kelangsungan hidup spesies kita di bumi. [***]
 

PERDAGANGAN secara  on line /daring/e-commerce sudah banyak dibahas oleh  para  pakar, termasuk dampak yang ditimbulkannya dari berbagai aspek. Dampak negatif lingkungan yang  ditimbulkannya belum pernah  dibahas.

Salah satu dampak lingkungan yang ditimbulkannya  adalah meningkatnya  jejak karbon per unit produk.
      
Konsep jejak karbon ( carbon foot print) diartikan sebagai jumlah/kuantitas carbon yang teremisi ke atmosfer dalam satuan berat tertentu dalam lintasan proses produksi  suatu benda,sejak penambangan/perolehan bahan baku hingga distribusi /pemasaran. Makin besar bobot  karbon yang  dilepas ke atmosfir, makin besar pula jejak karbon  yang  dikandungnya.

Di dalam masyarakat negara maju, produk yang mengandung jejak  karbon lebih kecil, dinilai/dihargai lebih tinggi dari produk yang berjejak karbon lebih besar. Seperti  diketahui  bahwa karbon termasuk golongan gas rumah kaca yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfir bumi.

 Sebagai contoh, sepasang  sepatu  yang  diproduksi di Jepang. Dengan metode perhitungan jejak  karbon yang akurat, diketahui bahwa untuk memproduksi sepasang  sepatu  sejak dari pengadaan  bahan baku, proses produksi,menghasilkan jejak karbon sebanyak 50 gram.

Sepatu tersebut  kemudian  diekspor dalam  jumlah banyak  (100.000 pasang) ke Indonesia, menggunakan  moda  transportasi  laut (kapal cargo) yang memuat  ratusan kontainer. Sesampainya di pelabuhan Tanjung  Prioritas, jejak karbonnya dihitung kembali dan diperoleh angka 65 gram. Penambahan itu dihasilkan dari total emisi karbon selama di perjalanan dibagi total tonase barang dan penumpang/awak kapal. Dari gudang pelabuhan,sepatu  itu diangkut dengan truk kontainer menuju kota tujuan berikutnya.

Di kota berikutnya,jejak karbon sudah meningkat lagi menjadi 75 gram.Ini angka yang dihasilkan dengan cara perdagangan konvensional. Perdagangan secara on line pasti menghasilkan  jejak  karbon lebih besar,karena  barang  diangkut  dengan  moda angkutan udara (cargo udara) dalam satuan/tonase lebih kecil,dan diantar secara khusus sampai ke rumah pembeli,sehingga menghasilkan jejak  karbon  lebih besar per unit barang.

Dengan  contoh  ilustrasi di atas ,menjadi jelas,dibalik kemudahan transaksi on line,ternyata mengandung dampak negatif terhadap lingkungan yang selama ini luput dari perhatian kita.Fenomena ini sama juga dengan perilaku kaum jet set yang lebih suka menggunakan pesawat pribadi untuk melakukan perjalanan dibanding pesawat komersial. Mereka kerap mempraktekkan gaya hidup berjejak karbon tinggi.

Diharapkan di masa depan, kita lebih serius memikirkan solusi untuk mengurangi  dampak negatif dari berbagai aspek kehidupan,demi kelangsungan hidup spesies kita di bumi. [***]