Seperti Jerman, Reunifikasi Korea Butuh Keutamaan Diplomasi Yang Luar Biasa

Teuku Rezasyah/RMOLSumut
Teuku Rezasyah/RMOLSumut

Reunifikasi atau penyatuan Korea Utara dan Korea Selatan membutuhkan jalan diplomasi dengan tingkat keutamaan yang tinggi dari dua belah pihak yang terlibat langsung.


Tanpa hal tersebut, maka hal itu akan menemukan jalan yang sulit.

Demikian disampaikan Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (Unpad) Teuku Rezasyah dalam dikusi virtual World View 'Pasang Surut Reunifikasi Korea' yang digelar oleh Kantor Berita Politik RMOL, Senin (12/7/2021).

"Bersatunya Korea ini memerlukan pengedepanan diplomasi yang luar biasa," katanya.

Salah satu contoh yang menunjukkan betapa diplomasi yang luar biasa diperlukan dalam reunifikasi negara dapat dilihat dari bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur. Menurutnya, bersatunya Jerman ini merupakan hal yang diinisiasi banyak hal mulai dari induk semang masing-masing yakni Uni Sovyet dan Amerika Serikat yang sudah 'lelah'. Kemudian, adanya jalur-jalur diplomasi antara Jerman Timur dan Jerman Barat yang berani mengambil resiko berdiplomasi dibalik layar hingga adanya resiko-resiko terhadap perekonomian yang berani mereka ambil.

"Mereka berani bernegosiasi dibelakang Uni Sovyet dan Amerika. Saat itu tentara dan peralatan perang dikembalikan ke Sovyet, tentara di pensiunkan dan dibayar dana pensiun, mereka berani ambil resiko rasio ekonomi mereka turun," ujarnya.

Pada sisi lain kata Teuku Rezasyah, kepentingan negara-negara kawasan juga menjadi hal yang ikut bersumbangsih dalam terciptanya reunifikasi tersebut. Sebab, bersatunya dua Korea ini akan menjadi kekuatan baru di semenanjung Korea.

"Tentu ada beberapa negara yang berkepentingan dalam hal ini seperti Jepang, China, Rusia dan lainnya," ungkapnya.

Karena itu, kata Teuku, kunci utama dari reunifikasi ini sepenuhnya harus mendapat dukungan dari seluruh pihak dan terutama masing-masing Korea.

"Izinkanlah Korea masing-masing berbicara dari hati ke hati dan mengupayakan konsensus bilateral. Misalnya pembangunan di perbatasan akan jalan terus, kemudian jangan sampai salah satu induk semang dari keduanya memicu persoalan yang dapat mengarah pada persoalan integritas masing-masing," pungkasnya.