RE Nainggolan: PGI Agar Menjadi Lembaga Penjalin Persahabatan Lintas Agama

PGI Daerah Kota Medan sebagai lembaga oikumene dari berbagai denominasi gereja harus mampu hadir ditengah masyarakat dan menjadi wadah penjalin persahabatan lintas agama. Hal ini disampaikan tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM menghadiri acara Pelantikan Pengurus Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia Daerah (PGI-D) Kota Medan periode 2019-2024 di Gedung Alfa Omega, Jalan Pangeran Diponegoro Medan, Jumat (7/2/2020). Adapun pengurus PGI-D yang dilantik yakni Majelis Pekerja Lengkap (MPL), Majelis Pertimbangan (MP), Badan Pengawas Perbendaharaan (BPP) dan Majelis Pekerja Harian (MPH). Acara berlangsung hikmat dan dihadiri sejumlah undangan diantaranya Plt Wali Kota Medan Ir Akhyar Nasution, Ketua Umum PGI-W Sumut Bishop Darwis Manurung,S.Th.,M.Psi, Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Medan Pdt Johny Alexander Lontoh,M.Min.,M.Th, Pdt Eben Siagian, Ketua Sumatera Berdoa JA Ferdinandus, Ketua GAMKI Medan Parulian Tampubolon,SSn, Jadi Pane,SPd, mewakili FKUB Kota Medan, Mewakili Kepala Kantor Kemenag Medan, DPRD Medan, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Medan Hannalore Simanjuntak, perwakilan Kodim 02/01 BS dan undangan lainnya. Mengawali sambutannya, mantan Sekdaprovsu itu mengucapkan selamat bertugas kepada pengurus PGI-D Kota Medan periode 2019-2024 yang baru saja dilantik dan dikukuhkan oleh Ketua PGI-W Sumut Bishop Darwis Manurung. Kepengurusan yang baru diajak untuk bekerja keras dalam mewujudkan kehadiran PGI-D di tengah masyarakat Kota Medan. Menurutnya, ada beberapa hal yang diharapkan untuk dilakukan oleh kepengurusan yang baru. Pertama, sebagai lembaga yg akan menghimpun berbagai gereja yg oikumenis dan transformatif,untuk menjalin kegiatan bersama untuk menghadapi tantangan zaman ini..misalnya pencegahan peredaran narkoba, lingkungan yg bersih,indah, masalah kemiskinan, disabilitas dlsbnya yg dihadapi olh masyarakat. Kemudian, PGI harus membangun persahabatan dengan lembaga agama lain, Saling menghormati, sefaham dan sepakat antar lemb agama yang berbeda, utk saling menjaga ,sehingga tetap tercipta kerukunan umat beragama. "PGI harus bersuara lebih keras jika rumah ibadah agama lain diganggu oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. PGI jangan eklusif, namun membuka diri," ujar mantan Bupati Tapanuli Utara ini. Selanjutnya, dalam rangka krisis kebangsaan, PGI harus hadir dan memberi penguatan tentang rasa kebangsaan, jangan ekstrem , hindari intoleransi. "Dengan demikian, harus ada tekad kesepahaman bagi kita di Kota Medan bahwa sikap ekstrim yang menyimpang dari nilai-nilai kebangsaan kita, NKRI, adalah musuh bersama," ujarnya. Tidak dipungkiri, lanjutnya, pasca reformasilah muncul persoalan-persoalan agama. "Kita hampir tidak pernah bicarakan masalah agama sebelum reformasi. Pada masa itulah ada jemaat kristen jadi panitia MTQ, dan sebaliknya jemaah muslim membantu kepanitiaan perayaan agama lainnya. Reformasi dan otonomi daerah muncul, maka krisis nasionalisme, krisis kebangsaan kerap muncul dan harus disikapi," ujarnya. Untuk itulah, PGI-D Medan untuk mengambil peran dalam membangun suasana kondusif di Kota Medan yang merupakan miniaturnya Indonesia. Senada juga disampaikan Ketua PGI-W Sumut BishopDarwis Manurung, bahwa warga yang tinggal di kota Medan sangat beragam. "Boleh dikatakan, hampir dari semua suku dan agama yang ada di Indonesia ini, ada di Medan. Kita adalah miniaturnya Indonesia. Keberagaman itu menjadi kekuatan kita namun juga ada ancaman dan resiko yang harus kita minimalisir," ujarnya. Selain itu, lanjut Darwis, sebagaimana dikemukakan RE Nainggolan juga bahwa persoalan lingkungan harus menjadi bagian perhatian bersama. "Setiap munsim hujan, sejumlah daerah tergenang. Mari, PGI-D Medan hadir dengan suara kenabiannya untuk memberikan solusi bagi kota ini bekerjasama dengan pemerintah," ujarnya. Sebelumnya, Plt Wali Kota Medan mengajak untuk bersama-sama membangun peradaban kota lewat jalan budaya. "Kita bangun bersama peradaban Kota Medan lewat budaya yakni budaya tertib, sopan santun, tolong menolong dan saling menghargai. Itu menjadi kekuatan kita. Untuk mewujudkannya butuh energi dari seluruh lintas sektoral. Untuk itu, mari kita himpun energi itu demi Medan Rumah Kita yang kita cintai," ajaknya.[R]


PGI Daerah Kota Medan sebagai lembaga oikumene dari berbagai denominasi gereja harus mampu hadir ditengah masyarakat dan menjadi wadah penjalin persahabatan lintas agama. Hal ini disampaikan tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM menghadiri acara Pelantikan Pengurus Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia Daerah (PGI-D) Kota Medan periode 2019-2024 di Gedung Alfa Omega, Jalan Pangeran Diponegoro Medan, Jumat (7/2/2020). Adapun pengurus PGI-D yang dilantik yakni Majelis Pekerja Lengkap (MPL), Majelis Pertimbangan (MP), Badan Pengawas Perbendaharaan (BPP) dan Majelis Pekerja Harian (MPH). Acara berlangsung hikmat dan dihadiri sejumlah undangan diantaranya Plt Wali Kota Medan Ir Akhyar Nasution, Ketua Umum PGI-W Sumut Bishop Darwis Manurung,S.Th.,M.Psi, Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Medan Pdt Johny Alexander Lontoh,M.Min.,M.Th, Pdt Eben Siagian, Ketua Sumatera Berdoa JA Ferdinandus, Ketua GAMKI Medan Parulian Tampubolon,SSn, Jadi Pane,SPd, mewakili FKUB Kota Medan, Mewakili Kepala Kantor Kemenag Medan, DPRD Medan, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Medan Hannalore Simanjuntak, perwakilan Kodim 02/01 BS dan undangan lainnya. Mengawali sambutannya, mantan Sekdaprovsu itu mengucapkan selamat bertugas kepada pengurus PGI-D Kota Medan periode 2019-2024 yang baru saja dilantik dan dikukuhkan oleh Ketua PGI-W Sumut Bishop Darwis Manurung. Kepengurusan yang baru diajak untuk bekerja keras dalam mewujudkan kehadiran PGI-D di tengah masyarakat Kota Medan. Menurutnya, ada beberapa hal yang diharapkan untuk dilakukan oleh kepengurusan yang baru. Pertama, sebagai lembaga yg akan menghimpun berbagai gereja yg oikumenis dan transformatif,untuk menjalin kegiatan bersama untuk menghadapi tantangan zaman ini..misalnya pencegahan peredaran narkoba, lingkungan yg bersih,indah, masalah kemiskinan, disabilitas dlsbnya yg dihadapi olh masyarakat. Kemudian, PGI harus membangun persahabatan dengan lembaga agama lain, Saling menghormati, sefaham dan sepakat antar lemb agama yang berbeda, utk saling menjaga ,sehingga tetap tercipta kerukunan umat beragama. "PGI harus bersuara lebih keras jika rumah ibadah agama lain diganggu oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. PGI jangan eklusif, namun membuka diri," ujar mantan Bupati Tapanuli Utara ini. Selanjutnya, dalam rangka krisis kebangsaan, PGI harus hadir dan memberi penguatan tentang rasa kebangsaan, jangan ekstrem , hindari intoleransi. "Dengan demikian, harus ada tekad kesepahaman bagi kita di Kota Medan bahwa sikap ekstrim yang menyimpang dari nilai-nilai kebangsaan kita, NKRI, adalah musuh bersama," ujarnya. Tidak dipungkiri, lanjutnya, pasca reformasilah muncul persoalan-persoalan agama. "Kita hampir tidak pernah bicarakan masalah agama sebelum reformasi. Pada masa itulah ada jemaat kristen jadi panitia MTQ, dan sebaliknya jemaah muslim membantu kepanitiaan perayaan agama lainnya. Reformasi dan otonomi daerah muncul, maka krisis nasionalisme, krisis kebangsaan kerap muncul dan harus disikapi," ujarnya. Untuk itulah, PGI-D Medan untuk mengambil peran dalam membangun suasana kondusif di Kota Medan yang merupakan miniaturnya Indonesia. Senada juga disampaikan Ketua PGI-W Sumut BishopDarwis Manurung, bahwa warga yang tinggal di kota Medan sangat beragam. "Boleh dikatakan, hampir dari semua suku dan agama yang ada di Indonesia ini, ada di Medan. Kita adalah miniaturnya Indonesia. Keberagaman itu menjadi kekuatan kita namun juga ada ancaman dan resiko yang harus kita minimalisir," ujarnya. Selain itu, lanjut Darwis, sebagaimana dikemukakan RE Nainggolan juga bahwa persoalan lingkungan harus menjadi bagian perhatian bersama. "Setiap munsim hujan, sejumlah daerah tergenang. Mari, PGI-D Medan hadir dengan suara kenabiannya untuk memberikan solusi bagi kota ini bekerjasama dengan pemerintah," ujarnya. Sebelumnya, Plt Wali Kota Medan mengajak untuk bersama-sama membangun peradaban kota lewat jalan budaya. "Kita bangun bersama peradaban Kota Medan lewat budaya yakni budaya tertib, sopan santun, tolong menolong dan saling menghargai. Itu menjadi kekuatan kita. Untuk mewujudkannya butuh energi dari seluruh lintas sektoral. Untuk itu, mari kita himpun energi itu demi Medan Rumah Kita yang kita cintai," ajaknya.