Pendekatan Akademik, JMSI Sulbar Sinergi Bersama Direktur Universitas Terbuka Majene

Rombongan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sulawesi Barat bertemu dengan Direktur Universitas Terbuka Majene, Anfas/Ist
Rombongan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sulawesi Barat bertemu dengan Direktur Universitas Terbuka Majene, Anfas/Ist

Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pengurus Daerah (Pengda) Sulawesi Barat melakukan pendekatan akademik ke Universitas Terbuka, Majene, Sulawesi Barat, Senin (10/10).


Rombongan JMSI Sulbar yang juga konstituen Dewan Pers ini dipimpin langsung oleh Ketua JMSI Sulbar, Idham beserta sejumlah pemilik media di keanggotaan JMSI. Mereka diterima langsung oleh Direktur Universitas Terbuka (UT) Majene, Anfas.

Dalam pertemuan itu, Idham menyebut JMSI merupakan salah satu organisasi perusahaan pers. Ia juga sharing tentang upaya pengembangan JMSI di Sulbar.

Bahkan pihaknya juga memberi ruang kepada Direktur UT untuk bergabung menjadi salah satu Dewan Pakar JMSI Sulbar.

"Beliau menyambut baik dan bersedia menjadi dewan pakar. Bahkan Pak Direktur UT juga mantan wartawan di Maluku," ujar Idham.

Sementara itu, Direktur UT Majene, Anfas menilai langkah sinergi bersama media adalah hal yang tepat karena perguruan tinggi dan media itu mempunyai visi yang sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Sepanjang muatannya menejahterakan anggota, bukan muatan yang aneh-aneh mengarah ke muatan politik, saya bersedia (menjadi Anggota Dewan Pakar JMSI Sulbar)," kata Anfas.

Direktur UT Majene itu mengakui, dirinya juga dulu seorang wartawan, sehingga sangat mengetahui kehidupan dan kesejahteraan wartawan.

"Di Sulbar ini paling banyak potensi luar biasa. Kita greget, teman-teman pers saya lihat gajinya di bawah UMP (Upah Minimal Provinsi), saya biasa berdiskusi dengan koresponden. Jawabnya sangat miris, akhirnya dia gadaikan idealisme dia, datang untuk meminta-minta," ujarnya.

Anfas juga menyarankan agar media mengangkat sejumlah dosen untuk menjadi kolomnis dan dibuatkan rubrik khusus untuk akademik.

"Karena dia punya pembaca, bila perlu mahasiswa (dilibatkan). Saya cerita, dulu di Maluku Utara, ada kolom khusus untuk pos Maluku, namanya akedemika. Di situ ada dosen menulis, mahasiswa menulis, bukan hanya opini tapi materi kuliahnya," tandasnya.