Malaysia Resesi, Awas Indonesia Terseret

Kabar buruk kembali menghantui pasar keuangan domestik. Negara jiran tetangga Indonesia yakni Malaysia membukukan pertumbuhan negatif di kuartal kedua. Angkanya tidak tanggung – tanggung, pertumbuhan ekonomi Malaysia terpukul Minus 17.07% secara tahunan atau year on year. Kinerja pertumbuhan ekonomi yang negatif tersebut menyisahkan masalah serius bagi Malaysia. Dimana Malaysia mengalami pukulan paling buruk bahkan jika dibandingkan dengan krisis di tahun 1998 silam. Meskipun pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama Malaysia masih mampu positif. Akan tetapi, penurunan pertumbuhan kuartal kedua tersebut diyakini sebagai pertanda bahwa ekonomi Malaysia akan kesulitan untuk rebound di kuartal ketiga nantinya. "Krisis yang melanda Malaysia ini bisa menjadi kabar buruk bagi perekonomian nasional. Meskipun pada dasarnya sudah diperkiraan jauh hari sebelumnya. Akan tetapi dampak dari krisis Malaysia tersebut tidak bisa diremehkan begitu saja. Mengingat hubungan dagang antara Indonesia dengan Malaysia cukup signifikan. Termasuk dalam penyediaan tenaga kerja dari Indonesia ke Malaysia," kata pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, Sabtu (15/8). Sehingga dampak rembesan krisis di Malaysia ini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja perekonomian nasional. Dan di tengah kondisi seperti ini pemerintah diminta harus lebih waspada lagi. Krisis di Malaysia membuat Indonesia kian dekat dengan potensi resesi di kuartal ketiga nantinya. Semenara itu, dalam pembacaan pidato nota keuangan pemerintah. Lagi-lagi ketidakpastian ekonomi di tahun 2021 masih menghantui. Belanja pemerintah yang diharapkan menjadi saah satu sumber paling besar untuk mendongkrak perekonomian, sepertinya tidak bisa diharapkan terlalu banyak. Ketidakpastian ekonomi masih membayangi dan bisa saja membuat asumsi kinerja ekonomi makro kedepan berubah ubah. Ditengah kondisi yang serba sulit ini, pelaku pasar akan kesulitan dalam merumuskan kebijakan investasinya. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG masih mampu ditutup menguat 0.16% di level 5.247,69. Sementara itu mata uang rupiah melemah di level 14.795 per US Dolar. Akan tetapi seharian perdagangan Rupiah sempat menyentuh level terendah 14.870 per US Dolar.[R]


Kabar buruk kembali menghantui pasar keuangan domestik. Negara jiran tetangga Indonesia yakni Malaysia membukukan pertumbuhan negatif di kuartal kedua. Angkanya tidak tanggung – tanggung, pertumbuhan ekonomi Malaysia terpukul Minus 17.07% secara tahunan atau year on year. Kinerja pertumbuhan ekonomi yang negatif tersebut menyisahkan masalah serius bagi Malaysia. Dimana Malaysia mengalami pukulan paling buruk bahkan jika dibandingkan dengan krisis di tahun 1998 silam. Meskipun pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama Malaysia masih mampu positif. Akan tetapi, penurunan pertumbuhan kuartal kedua tersebut diyakini sebagai pertanda bahwa ekonomi Malaysia akan kesulitan untuk rebound di kuartal ketiga nantinya. "Krisis yang melanda Malaysia ini bisa menjadi kabar buruk bagi perekonomian nasional. Meskipun pada dasarnya sudah diperkiraan jauh hari sebelumnya. Akan tetapi dampak dari krisis Malaysia tersebut tidak bisa diremehkan begitu saja. Mengingat hubungan dagang antara Indonesia dengan Malaysia cukup signifikan. Termasuk dalam penyediaan tenaga kerja dari Indonesia ke Malaysia," kata pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, Sabtu (15/8). Sehingga dampak rembesan krisis di Malaysia ini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja perekonomian nasional. Dan di tengah kondisi seperti ini pemerintah diminta harus lebih waspada lagi. Krisis di Malaysia membuat Indonesia kian dekat dengan potensi resesi di kuartal ketiga nantinya. Semenara itu, dalam pembacaan pidato nota keuangan pemerintah. Lagi-lagi ketidakpastian ekonomi di tahun 2021 masih menghantui. Belanja pemerintah yang diharapkan menjadi saah satu sumber paling besar untuk mendongkrak perekonomian, sepertinya tidak bisa diharapkan terlalu banyak. Ketidakpastian ekonomi masih membayangi dan bisa saja membuat asumsi kinerja ekonomi makro kedepan berubah ubah. Ditengah kondisi yang serba sulit ini, pelaku pasar akan kesulitan dalam merumuskan kebijakan investasinya. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG masih mampu ditutup menguat 0.16% di level 5.247,69. Sementara itu mata uang rupiah melemah di level 14.795 per US Dolar. Akan tetapi seharian perdagangan Rupiah sempat menyentuh level terendah 14.870 per US Dolar.