Legislator Kritik Bobby Nasution, 2 Bulan Menjabat Banyak Polemik

Rudiyanto Simangunsong/RMOLSumut
Rudiyanto Simangunsong/RMOLSumut

Kalangan anggota DPRD Kota Medan mengkritik kinerja Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution yang pada awal kepemimpinannya dianggap menimbulkan banyak polemik.


Komunikasi ke DPRD Medan selaku mitra kerja juga dianggap belum terjalin dengan baik.

"Kita lihat sampai hari ini nilai kinerjanya belum optimal menurut saya, sudah hampir dua bulan," ujar Ketua Komisi I DPRD Medan, Rudiyanto Simangunsong, Kamis (22/4/2021)

Di mencontohkan kebijakan Bobby Nasution yang aneh adalah meniadakan Ramadan Fair tahun ini dengan dalih menghindari potensi adanya kerumunan masyarakat. Namun, di sisi lain dibuat Kesawan City Walk yang pada akhirnya mengundang keramaian dan melanggar protokol kesehatan.

"Ramadhan Fair ditutuo, tapi dibuat tempat lain ada keramaian. Kesawan bisa menjadikan Medan (zona) merah lagi bersama Deli Serdang, perlu dicari benang merahnya mulai pembukaan kemarin sudah berkumpul, sampai kemarin akhir pekan berkumpul warga di sana, tempat yang dilegalkan," ketusnya.

Bukan hanya itu, lanjut dia, Komisi III yang menjadi mitra kerja organisasi perangkat daerah (OPD) yang bertanggung jawab atas pelaksanaan atau berjalannya Kesawan City Walk juga tidak pernah dilibatkan.

"Mereka (Komisi III) tidak dilibatkan, The Kitchen of Asia itu kan tujuannya PAD (pendapatan asli daerah), pariwisata, UMKM, kan itu bidang di Komisi III, gak dilibatkan, itu saya dengar itu, dari Rudiawan Sitorus, Irwansyah dan kawan lain-lain," tuturnya.

Selain itu, Rudiyanto juga menyinggung insiden pengusiran wartawan dari Balai Kota Medan. Menurut dia, Bobby masih perlu banyak belajar, namun belajar secara komperhensif.

"Proses belajar seumur hidup, misalnya bagaimana belajar menghargai wartawan. Bagaimana caranya, dengan membiarkan mereka menjalankan tugasnya, dengan memahami UU pers, itu proses belajar. Karena tidak ada proses belajar itu maka terjadi insiden pengusiran, akhirnya kawan-kawan mengajari saudara wali kota untuk bagaimana menghormati UU pers," bilangnya.

Kembali diingatkannya, di usia Bobby Nasution yang masih sangat muda, maka belajar harus secara komperhensif tidak boleh setengah-setengah agar tidak menghasilkan keputusan yang blunder.

"Kalau proses belajar baik, di usia muda bisa belajar banyak, proses belajar jangan menimbulkan blunder, bagaimana meningkatkan ekonomi, tapi ada aspek lain, kemarin wali kota ada keluarkan surat edaran tentang gak boleh kumpul-kumpul, bagi UMKM tutup jam sekian. Karena kurang apa, maka terjadi pengumpulan warga di pembukaan, di malam minggu tutup sampai dinihari, kami pikir wali kota bagus terus belajar, tapi belajar yang komperhensif," pungkasnya

Kesawan City Walk beberapa hari terakhir memang terus disorot. Pasalnya pada akhir pekan kemarin terjadi pelanggaran protokol kesehatan di sana karena adanya kerumunan.

Meski begitu Wali Kota Medan Bobby Nasution meminta kepada Gubernur Sumut Edy Rahmayadi untuk tetap memperbolehkan Kesawan dibuka agar merangsang pertumbuhan ekonomi yang sempat terpuruk akibat pandemi covid-19.

"Kami Pemko Medan bukan tidak mengikuti instruksi yang Bapak keluarkan, yang mana jam operasi dari jam 9 ke jam 10, tapi di semua kecamatan di Kota Medan, di semua lingkungan, dan di semua kelurahan sudah kami terapkan, tapi khusus di daerah Kesawan, kami pantau langsung protokol kesehatan," kata Bobby.

Salah satunya, kata Bobby, dilakukan dengan membuat 10 pintu masuk, membuat satu ruas pedagang. Kami berikan jarak hampir 10 m. Ada 120 UKM," ujar Bobby.

Dan juga untuk penerapan protokol kesehatan, Pemko Medan, kata Bobby, juga menyiagakan petugas kesehatan.

"Pedagang kita lakukan vaksinasi, dinas ada mengontrol seperti Satpol PP, Dinas Kesehatan, ada memantau lewat sepeda, scooter, pengeras suara, mengurai keramaian biar tak terjadi," ujarnya.