Bung Karno Dalam 1.001 Kata

Tepat 17 hari setelah Gunung Kelud meletus. Ketika fajar mulai menyingsing, pada 6 Juni 1901 di Surabaya Jawa Timur lahir seorang anak laki-laki dari hasil perkawinan campuran etnis, dari ayah bersuku Jawa dan ibu bersuku Bali.

Kehadiran anak itu terasa spesial bagi kedua orangtuanya. Sebab, orang Jawa maupun orang Bali percaya, kelahiran anak di saat gunung meletus akan mendatangkan anugerah kebaikan, bukan hanya untuk keluarga tapi juga untuk bangsa dan negara. Sebagaimana sifat gunung yang tinggi merupakan tempat yang paling dekat dengan dunia atas.

Pun dalam kosmologi Hindu, gunung dianggap sebagai tempat hidup para Dewata. Sementara orang Jawa percaya bahwa gunung merupakan bagian dari pusat jagat raya alam semesta (Meru).

Soal pemaknaan atas gunung, secara filosofis bisa kita lihat dalam tradisi tumpeng masyarakat Jawa. Tumpeng merupakan olahan nasi kuning yang berbentuk kerucut seperti gunung dan diantaranya terdapat aneka sayur dan lauk-pauk ditata disekitarnya yang mengandung arti kehidupan. Lebih lanjut, Tumpeng kerap hadir sebagai bagian dari perayaan masyarakat Jawa, utamanya untuk acara slametan atas kelahiran anak.

Anak itu kemudian dinamai ayah dan ibunya, Kusno Sosrodihardjo. Namun, karena Kusno kecil sering sakit-sakitan. Orangtuanya akhirnya memutuskan mengganti namanya menjadi : Soekarno. Laki-laki yang kemudian akan menjadi salah satu tokoh terpenting dalam menyelamatkan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme. Pun momen kelahiran Soekarno merupakan permulaan yang maha penting pula, kala penanggalan waktu dunia dalam perhitungan masehi memasuki abad ke-20.

Soekarno dididik ibunya seperti mitos. Ibunya percaya bahwa anak yang lahir saat fajar menyingsing, nasibnya telah ditentukan oleh yang maha kuasa terlebih dahulu. Untuk menjadi yang mulia dan menjadi pemimpin rakyat. Itu sebabnya pada banyak waktu, ibunya kerap memeluk Soekarno sembari berbisik ditelinganya :

“Djangan lupakan itu, djangan sekali-kali kau lupakan, nak. Bahwa engkau ini putera dari sang fadjar”.

Soekarno (selanjutnya dipanggil Bung Karno) tumbuh menjadi tokoh pergerakan nasional. Hari-harinya banyak bersentuhan dengan semua kelas sosial berbeda di nusantara. Mulai dari buruh, petani, pedagang, pemikir, orator hingga pernah jatuh cinta pada perempuan Belanda, meski berakhir dengan tragis.

Setiap perjalanan hidupnya adalah pelajaran yang mampu dikonversi menjadi pengetahuan. Setiap kelas bawah (selanjutnya disebut: Marhaen) yang ditemuinya adalah masalah dicarikan solusinya. Bung Karno adalah jawaban atas pertanyaan ratusan tahun akan munculnya pemimpin yang membawa Indonesia dalam jalannya revolusi kita.

Bung Karno bukan orang yang pernah mengecap pendidikan di luar negeri atau melanglang buana di masa pra-kemerdekaan layaknya pada tokoh pendiri bangsa lain. Seperti : Tan Malaka, Hatta dan Sjahrir yang pernah mendapat pendidikan barat karena pernah bersekolah di Belanda atau Agus Salim yang pernah bekerja pada konsulat Belanda di Arab Saudi.

Seluruh hidup dan pengetahuan akademik Bung Karno ada di tanah nusantara. Meski demikian, jangan ragukan kemampuannya dalam berkomunikasi, Bung Karno adalah orang yang cerdas karena menguasai banyak bahasa asing. Mulai dari: Belanda, Inggris, Arab, Prancis hingga Jerman.

Tidak hanya fasih berbahasa asing, pada banyak kesempatan kala berdiskusi dengan banyak intelektual. Bung Besar selalu mampu menyerap seluruh ilmu tokoh-tokoh tersebut dengan waktu yang singkat, mempelajarinya dan menerjemahkannya dalam format yang lebih membumi sehingga dapat diterima oleh berbagai golongan. Baik kelas atas, menengah atau kelas bawah.

Seluruh tubuh Bung Karno adalah politik. Seluruh ucapan adalah jalan perbuatannya. Seluruh pemikirannya adalah jalan keluar atas semua masalah substansial bangsa ini. Artinya jika kita mempelajari Bung Karno secara utu, kita akan mencintainya dalam dua wujud : kita mencintai sosok pribadinya dan kita akan lebih mencintai warisan pemikirannya.

Bung Karno jelas adalah sosok sederhana yang mampu menerjemahkan persoalan rakyat, yang pada masa kolonialisme tidak mampu tersampaikan karena keterbatasan aksesibilitas, untuk itu kita menyebut dirinya sebagai; “Penyambung Lidah Rakyat”.

Bung Karno bisa menjadi sosok yang elitis. Gestur dan wibawanya menjadi bagian penting untuk menunjukan bangsa Indonesia sejajar dan tidak lebih rendah dari bangsa lain, untuk itu ia kerap dijuluki sebagai : “Pemimpin Besar Revolusi Indonesia”.

Bung Karno berkali-kali jatuh cinta pada republik ini. Selama hidupnya, Bung Karno tetap konsisten membenci kolonialisme dan kapitalisme yang menyengsarakan rakyat, pada bagian ini ia tidak pernah tawar menawar.

Untuk itu, kita kerap sebut ia sebagai “Proklamator” atas kontribusinya berdiri dibarisan paling depan untuk membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Soal Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia menjadi anugerah terbesar yang pernah dititipkan Tuhan melalui Bung Karno. Ia tidak egois atau ia tidak mengklaim sendiri bahwa Pancasila itu miliknya secara pribadi. Bung Karno bahkan “hanya” menyebut dirinya sebagai “Penggali Pancasila”.

Sesuatu yang tergali secara semiotika berarti telah tertanam sebelumnya. Bung Karno meyakini bahwa Pancasila sudah ada ditanah Indonesia beribu-ribu tahun sebelumnya sehingga layak pula untuk dirawat, dipupuk, dipelihara dan dipertahankan seluruh rakyat Indonesia sampai kapan pun.

Bung Karno terlalu mencintai Indonesia. Kecintaannya membuat terkadang ia menjadi sosok yang anomali, kadang ia menjadi sosok yang tidak mau berdiplomasi dan kadang ia seperti terlihat sebagai seorang kolaborator. Namun satu kepastian seluruh tindakannya semata-mata untuk kepentingan bangsa Indonesia. Itu pula yang menjadikan Pancasila masih relevan sebagai kompas perjuangan dari dulu hingga sekarang.

Bung Karno jelas tidak mengklasifikasikan Pancasila sebagai bagian dari penjewatahan ideologi kiri, tengah atau kanan. Tapi meletakkannya pada fondasi yang amat kuat untuk dijujung seluruh manusia Indonesia yaitu gotong royong. Menjadikan sebuah bangsa dengan satu pijakan, semua untuk semua bukan untuk satu, dua atau beberapa golongan tertentu. Tapi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai seorang manusia, kita bisa menerjemahkan Soekarno itu dalam banyak sosok. Kita bisa menyebut Bung Karno adalah seorang penulis atas semua karya-karya yang pernah dipublikasinya; baik artikel, naskah dan buku yang masih kita baca serta pedomani hingga saat ini. Kita bisa menyebut Soekarno sebagai filsuf atas kajian, jabaran dan pengajaran filosofisnya terkait ideologi Marhaenisme.

Kita menyebutnya sebagai pemimpin sebuah negara atas pengabdiannya selama 21 tahun sebagai Presiden Republik Indonesia. Kita bahkan bisa menyebutnya sebagai orator hebat atas pidato-pidatonya yang banyak mengubah hidup banyak orang atau bisa pula kita menyebutnya sebagai guru atas pengabdiannya mengajar di sekolah-sekolah kala masa pra-kemerdekaan.

Pada akhirnya memang sulit memilih satu diantaranya, untuk menjelaskan siapa Soekarno. Kesulitan itu sama dilemanya seperti kala saya menulis satu artikel dengan panjang 1001 kata untuk menjelaskan Bung Karno.

Saya akhirnya memutuskan untuk memanggilnya “Bung Karno” saja. Panggilan itu sangat ia suka; egaliter, bersahabat dan jauh dari kesan feodal.[R]

Oleh : Anwar Saragih (Penulis Buku Berselancar Bersama Jokowi)


Tepat 17 hari setelah Gunung Kelud meletus. Ketika fajar mulai menyingsing, pada 6 Juni 1901 di Surabaya Jawa Timur lahir seorang anak laki-laki dari hasil perkawinan campuran etnis, dari ayah bersuku Jawa dan ibu bersuku Bali.

Kehadiran anak itu terasa spesial bagi kedua orangtuanya. Sebab, orang Jawa maupun orang Bali percaya, kelahiran anak di saat gunung meletus akan mendatangkan anugerah kebaikan, bukan hanya untuk keluarga tapi juga untuk bangsa dan negara. Sebagaimana sifat gunung yang tinggi merupakan tempat yang paling dekat dengan dunia atas.

Pun dalam kosmologi Hindu, gunung dianggap sebagai tempat hidup para Dewata. Sementara orang Jawa percaya bahwa gunung merupakan bagian dari pusat jagat raya alam semesta (Meru).

Soal pemaknaan atas gunung, secara filosofis bisa kita lihat dalam tradisi tumpeng masyarakat Jawa. Tumpeng merupakan olahan nasi kuning yang berbentuk kerucut seperti gunung dan diantaranya terdapat aneka sayur dan lauk-pauk ditata disekitarnya yang mengandung arti kehidupan. Lebih lanjut, Tumpeng kerap hadir sebagai bagian dari perayaan masyarakat Jawa, utamanya untuk acara slametan atas kelahiran anak.

Anak itu kemudian dinamai ayah dan ibunya, Kusno Sosrodihardjo. Namun, karena Kusno kecil sering sakit-sakitan. Orangtuanya akhirnya memutuskan mengganti namanya menjadi : Soekarno. Laki-laki yang kemudian akan menjadi salah satu tokoh terpenting dalam menyelamatkan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme. Pun momen kelahiran Soekarno merupakan permulaan yang maha penting pula, kala penanggalan waktu dunia dalam perhitungan masehi memasuki abad ke-20.

Soekarno dididik ibunya seperti mitos. Ibunya percaya bahwa anak yang lahir saat fajar menyingsing, nasibnya telah ditentukan oleh yang maha kuasa terlebih dahulu. Untuk menjadi yang mulia dan menjadi pemimpin rakyat. Itu sebabnya pada banyak waktu, ibunya kerap memeluk Soekarno sembari berbisik ditelinganya :

“Djangan lupakan itu, djangan sekali-kali kau lupakan, nak. Bahwa engkau ini putera dari sang fadjar”.

Soekarno (selanjutnya dipanggil Bung Karno) tumbuh menjadi tokoh pergerakan nasional. Hari-harinya banyak bersentuhan dengan semua kelas sosial berbeda di nusantara. Mulai dari buruh, petani, pedagang, pemikir, orator hingga pernah jatuh cinta pada perempuan Belanda, meski berakhir dengan tragis.

Setiap perjalanan hidupnya adalah pelajaran yang mampu dikonversi menjadi pengetahuan. Setiap kelas bawah (selanjutnya disebut: Marhaen) yang ditemuinya adalah masalah dicarikan solusinya. Bung Karno adalah jawaban atas pertanyaan ratusan tahun akan munculnya pemimpin yang membawa Indonesia dalam jalannya revolusi kita.

Bung Karno bukan orang yang pernah mengecap pendidikan di luar negeri atau melanglang buana di masa pra-kemerdekaan layaknya pada tokoh pendiri bangsa lain. Seperti : Tan Malaka, Hatta dan Sjahrir yang pernah mendapat pendidikan barat karena pernah bersekolah di Belanda atau Agus Salim yang pernah bekerja pada konsulat Belanda di Arab Saudi.

Seluruh hidup dan pengetahuan akademik Bung Karno ada di tanah nusantara. Meski demikian, jangan ragukan kemampuannya dalam berkomunikasi, Bung Karno adalah orang yang cerdas karena menguasai banyak bahasa asing. Mulai dari: Belanda, Inggris, Arab, Prancis hingga Jerman.

Tidak hanya fasih berbahasa asing, pada banyak kesempatan kala berdiskusi dengan banyak intelektual. Bung Besar selalu mampu menyerap seluruh ilmu tokoh-tokoh tersebut dengan waktu yang singkat, mempelajarinya dan menerjemahkannya dalam format yang lebih membumi sehingga dapat diterima oleh berbagai golongan. Baik kelas atas, menengah atau kelas bawah.

Seluruh tubuh Bung Karno adalah politik. Seluruh ucapan adalah jalan perbuatannya. Seluruh pemikirannya adalah jalan keluar atas semua masalah substansial bangsa ini. Artinya jika kita mempelajari Bung Karno secara utu, kita akan mencintainya dalam dua wujud : kita mencintai sosok pribadinya dan kita akan lebih mencintai warisan pemikirannya.

Bung Karno jelas adalah sosok sederhana yang mampu menerjemahkan persoalan rakyat, yang pada masa kolonialisme tidak mampu tersampaikan karena keterbatasan aksesibilitas, untuk itu kita menyebut dirinya sebagai; “Penyambung Lidah Rakyat”.

Bung Karno bisa menjadi sosok yang elitis. Gestur dan wibawanya menjadi bagian penting untuk menunjukan bangsa Indonesia sejajar dan tidak lebih rendah dari bangsa lain, untuk itu ia kerap dijuluki sebagai : “Pemimpin Besar Revolusi Indonesia”.

Bung Karno berkali-kali jatuh cinta pada republik ini. Selama hidupnya, Bung Karno tetap konsisten membenci kolonialisme dan kapitalisme yang menyengsarakan rakyat, pada bagian ini ia tidak pernah tawar menawar.

Untuk itu, kita kerap sebut ia sebagai “Proklamator” atas kontribusinya berdiri dibarisan paling depan untuk membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Soal Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia menjadi anugerah terbesar yang pernah dititipkan Tuhan melalui Bung Karno. Ia tidak egois atau ia tidak mengklaim sendiri bahwa Pancasila itu miliknya secara pribadi. Bung Karno bahkan “hanya” menyebut dirinya sebagai “Penggali Pancasila”.

Sesuatu yang tergali secara semiotika berarti telah tertanam sebelumnya. Bung Karno meyakini bahwa Pancasila sudah ada ditanah Indonesia beribu-ribu tahun sebelumnya sehingga layak pula untuk dirawat, dipupuk, dipelihara dan dipertahankan seluruh rakyat Indonesia sampai kapan pun.

Bung Karno terlalu mencintai Indonesia. Kecintaannya membuat terkadang ia menjadi sosok yang anomali, kadang ia menjadi sosok yang tidak mau berdiplomasi dan kadang ia seperti terlihat sebagai seorang kolaborator. Namun satu kepastian seluruh tindakannya semata-mata untuk kepentingan bangsa Indonesia. Itu pula yang menjadikan Pancasila masih relevan sebagai kompas perjuangan dari dulu hingga sekarang.

Bung Karno jelas tidak mengklasifikasikan Pancasila sebagai bagian dari penjewatahan ideologi kiri, tengah atau kanan. Tapi meletakkannya pada fondasi yang amat kuat untuk dijujung seluruh manusia Indonesia yaitu gotong royong. Menjadikan sebuah bangsa dengan satu pijakan, semua untuk semua bukan untuk satu, dua atau beberapa golongan tertentu. Tapi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai seorang manusia, kita bisa menerjemahkan Soekarno itu dalam banyak sosok. Kita bisa menyebut Bung Karno adalah seorang penulis atas semua karya-karya yang pernah dipublikasinya; baik artikel, naskah dan buku yang masih kita baca serta pedomani hingga saat ini. Kita bisa menyebut Soekarno sebagai filsuf atas kajian, jabaran dan pengajaran filosofisnya terkait ideologi Marhaenisme.

Kita menyebutnya sebagai pemimpin sebuah negara atas pengabdiannya selama 21 tahun sebagai Presiden Republik Indonesia. Kita bahkan bisa menyebutnya sebagai orator hebat atas pidato-pidatonya yang banyak mengubah hidup banyak orang atau bisa pula kita menyebutnya sebagai guru atas pengabdiannya mengajar di sekolah-sekolah kala masa pra-kemerdekaan.

Pada akhirnya memang sulit memilih satu diantaranya, untuk menjelaskan siapa Soekarno. Kesulitan itu sama dilemanya seperti kala saya menulis satu artikel dengan panjang 1001 kata untuk menjelaskan Bung Karno.

Saya akhirnya memutuskan untuk memanggilnya “Bung Karno” saja. Panggilan itu sangat ia suka; egaliter, bersahabat dan jauh dari kesan feodal.

Oleh : Anwar Saragih (Penulis Buku Berselancar Bersama Jokowi)