Aksi Premanisme Tantangan Aktifis Perjuangkan Lingkungan

Upaya pembungkaman lewat aksi intimidasi dan aksi premanisme masih diprediksi terus terjadi kepada para aktifis lingkungan. Hal ini bahkan tidak akan terhenti jika pemerintah tidak memiliki komitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Dana Prima Tarigan terkait masih munculnya kasus-kasus kekerasan kepada kalangan aktifis lingkungan seperti aksi pembakaran rumah Direktur Eksekutif Walhi NTB Murdani akhir Januari 2019 lalu.

"Ini tantangan bagi kita dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan," katanya, Sabtu (30/3/2019).

Dana menyebutkan munculnya aksi-aksi kekerasan terhadap kalangan aktifis disebabkan adanya kesalahan pemahaman dalam memaknai sumber daya alam yang melimpah. Sejauh ini menurut mereka persoalan yang ada yakni pemerintah yang kerap memandang sumber daya alam hanya dari sisi bisnis dan investasi saja. Dengan demikian, untuk mencapai keuntungan bisnisnya, mereka kerap mengabaikan berbagai aturan yang ada.

"Aktifis tidak akan berteriak jika prosedur yang dilakukan sudah sesuai sehingga tidak merusak lingkungan," ujarnya.

Atas kondisi ini, para aktifis lingkungan sangat berharap negara selalu hadir dan menangani aksi-aksi kekerasan yang terjadi. Bahkan jauh sebelum itu, negara harus mampu menjamin dan memberikan perlindungan terhadap warganya.

"Bagi kami hal seperti ini adalah hal lumrah yang tentu jadi tantangan dalam memperjuangkan lingkungan," pungkasnya.


Upaya pembungkaman lewat aksi intimidasi dan aksi premanisme masih diprediksi terus terjadi kepada para aktifis lingkungan. Hal ini bahkan tidak akan terhenti jika pemerintah tidak memiliki komitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Dana Prima Tarigan terkait masih munculnya kasus-kasus kekerasan kepada kalangan aktifis lingkungan seperti aksi pembakaran rumah Direktur Eksekutif Walhi NTB Murdani akhir Januari 2019 lalu.

"Ini tantangan bagi kita dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan," katanya, Sabtu (30/3/2019).

Dana menyebutkan munculnya aksi-aksi kekerasan terhadap kalangan aktifis disebabkan adanya kesalahan pemahaman dalam memaknai sumber daya alam yang melimpah. Sejauh ini menurut mereka persoalan yang ada yakni pemerintah yang kerap memandang sumber daya alam hanya dari sisi bisnis dan investasi saja. Dengan demikian, untuk mencapai keuntungan bisnisnya, mereka kerap mengabaikan berbagai aturan yang ada.

"Aktifis tidak akan berteriak jika prosedur yang dilakukan sudah sesuai sehingga tidak merusak lingkungan," ujarnya.

Atas kondisi ini, para aktifis lingkungan sangat berharap negara selalu hadir dan menangani aksi-aksi kekerasan yang terjadi. Bahkan jauh sebelum itu, negara harus mampu menjamin dan memberikan perlindungan terhadap warganya.

"Bagi kami hal seperti ini adalah hal lumrah yang tentu jadi tantangan dalam memperjuangkan lingkungan," pungkasnya.