6 Oktober Momen Kembalikan "Kemerdekaan" Lapangan Merdeka

Tanggal bersejarah 6 Oktober di Lapangan Merdeka Medan sebaiknya menjadi tanggal yang digunakan untuk menjadi momen mengembalikan kemerdekaan Lapangan Merdeka Medan. Hal ini disampaikan Muhammad Joni dalam diskusi virtual Medan Urban Forum membahas topik Memerdekakan Lapangan Merdeka beberapa waktu lalu. "Saya rasa momen 6 Oktober yang terjadi pada tahun 1945 harus diulangi kembali di Lapangan Merdeka. Semua pihak yang merasa perlu terlibat untuk memerdekakan Lapangan Merdeka ayo kita berkumpul disana menyerukan agar lapangan bersejarah itu kembali seperti fungsi awal," katanya. Peristiwa 6 Oktober 1945 memang menjadi momen yang sangat penting dalam sejarah Lapangan Merdeka. Pada tanggal itu digelar rapat raksasa pada Lapangan Merdeka Medan menyiarkan secara resmi berita Proklamasi Indonesia yang dibacakan Gubernur Sumatera Muhammad Hasan. Dari beberapa referensi menyebutkan, saat itu Lapangan Merdeka masih bernama Fukuraido yang bermakna "Lapangan di Tengah Kota". Penamaan ini sendiri tidak lepas dari penguasaan Jepang kala itu sebelum mereka menyerah pada 15 Agustus 1945. Nama Fukuraido berubah menjadi Lapangan Merdeka pada 9 Oktober 1945 dan disahkan Walikota Medan saat itu Luat Siregar. Sebelumnya pada saat penguasaan Belanda, lapangan ini bernama De Esplanade. Joni mengatakan pengulangan peristiwa 6 Oktober 1945 itu sangat relevan untuk dilakukan mengingat saat ini Lapangan Merdeka jauh dari "kemerdekaan" lapangan itu sendiri. Lapangan yang seharusnya menjadi simbol dan monumen penting untuk mewujudkan 100 persen Kemerdekaan Indonesia itu kini tidak lagi "merdeka". Pusat bisnis kuliner dan kantor pemerintahan yang berdiri di lahan Lapangan Merdeka menjadi bentuk penghapusan nilai-nilai kemerdekaan pada lapangan itu menurutnya. "Warga Medan tidak merdeka di Lapangan Merdeka saat ini," pungkasnya. Diskusi Medan Urban Forum tentang Lapangan Merdeka dipandu oleh Shohibul Ansor Siregar dan menghadirkan tiga pembicara utama seperti Dr H Edy Syofian, Nasrun Lubis dan Miduk Hutabarat. Hadir juga beberapa tokoh lain seperti Rafriandi Nasution, Budi D Sinulingga, Hendri D, Dahlena Sari Marbun, Muhammad Joni, Marko, Tikwan Raya Siregar, Meuthia Farida, Teguh Santosa, Lasro Simbolon, Syarifuddin Siba, Budi Agustono, Toto, Jaya Arjuna dan Surya Darma.[R]


Tanggal bersejarah 6 Oktober di Lapangan Merdeka Medan sebaiknya menjadi tanggal yang digunakan untuk menjadi momen mengembalikan kemerdekaan Lapangan Merdeka Medan. Hal ini disampaikan Muhammad Joni dalam diskusi virtual Medan Urban Forum membahas topik Memerdekakan Lapangan Merdeka beberapa waktu lalu. "Saya rasa momen 6 Oktober yang terjadi pada tahun 1945 harus diulangi kembali di Lapangan Merdeka. Semua pihak yang merasa perlu terlibat untuk memerdekakan Lapangan Merdeka ayo kita berkumpul disana menyerukan agar lapangan bersejarah itu kembali seperti fungsi awal," katanya. Peristiwa 6 Oktober 1945 memang menjadi momen yang sangat penting dalam sejarah Lapangan Merdeka. Pada tanggal itu digelar rapat raksasa pada Lapangan Merdeka Medan menyiarkan secara resmi berita Proklamasi Indonesia yang dibacakan Gubernur Sumatera Muhammad Hasan. Dari beberapa referensi menyebutkan, saat itu Lapangan Merdeka masih bernama Fukuraido yang bermakna "Lapangan di Tengah Kota". Penamaan ini sendiri tidak lepas dari penguasaan Jepang kala itu sebelum mereka menyerah pada 15 Agustus 1945. Nama Fukuraido berubah menjadi Lapangan Merdeka pada 9 Oktober 1945 dan disahkan Walikota Medan saat itu Luat Siregar. Sebelumnya pada saat penguasaan Belanda, lapangan ini bernama De Esplanade. Joni mengatakan pengulangan peristiwa 6 Oktober 1945 itu sangat relevan untuk dilakukan mengingat saat ini Lapangan Merdeka jauh dari "kemerdekaan" lapangan itu sendiri. Lapangan yang seharusnya menjadi simbol dan monumen penting untuk mewujudkan 100 persen Kemerdekaan Indonesia itu kini tidak lagi "merdeka". Pusat bisnis kuliner dan kantor pemerintahan yang berdiri di lahan Lapangan Merdeka menjadi bentuk penghapusan nilai-nilai kemerdekaan pada lapangan itu menurutnya. "Warga Medan tidak merdeka di Lapangan Merdeka saat ini," pungkasnya. Diskusi Medan Urban Forum tentang Lapangan Merdeka dipandu oleh Shohibul Ansor Siregar dan menghadirkan tiga pembicara utama seperti Dr H Edy Syofian, Nasrun Lubis dan Miduk Hutabarat. Hadir juga beberapa tokoh lain seperti Rafriandi Nasution, Budi D Sinulingga, Hendri D, Dahlena Sari Marbun, Muhammad Joni, Marko, Tikwan Raya Siregar, Meuthia Farida, Teguh Santosa, Lasro Simbolon, Syarifuddin Siba, Budi Agustono, Toto, Jaya Arjuna dan Surya Darma.