Usaha Pijat Dihentikan Pemerintah, Kelanjutan Hidup Kelompok Tuna Netra Terancam Di Medan

Penyebaran covid-19 di Sumatera Utara terus meluas dan memiliki dampak sosial yang tinggi. Dampak tersebut kini sangat dirasakan oleh tuna netra yang mencari penghasilan dari memijat. Sebab, pemerintah sendiri telah mengeluarkan larangan untuk memijat sehingga angka kemiskinan dikalangan tuna netra semakin bertambah. Karena itu, DPD Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumut, selaku wadah yang menaungi pemijat tersebut membuka donasi untuk membantu ekonomi mereka. Saat dikonfirmasi terkait hal itu, Ketua DPD Persatun Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumut, Hairul Batubara menjelaskan jika saat ini para tuna netra terancam kelaparan. Bahkan terancam diusir dari tempat tinggal yang hanya mengontrak. "Sudah bingung bang, ini kontrakan kami juga sudah mau habis akhir bulan ini,” ungkap Hairul. Tak hanya itu, Hairul juga harus memikirkan 300 KK anggota Pertuni yang terancam kelaparan. Semua anggotanya mengadu sudah kehilangan penghasilan. Selama ini, sejumlah anggota menekuni beberapa profesi. Mulai dari tukang pijat, penjual kerupuk keliling dan pengamen. "Biasanya kalau mijat dapatlah Rp35 ribu dari pasien. Kalau di kasih lebih yah Alhamdulillah. Sekarang udah gak ada lagi," ungkapnya lirih. Dijelaskannya, saat beberapa anggota masih berjualan kerupuk meskipun rugi, begitu juga yang mengamen di setiap resepsi pernikahan. Mereka sama sekali sudah tak berpenghasilan. Saat ini, Hairul mengungkapkan jika DPD Pertuni Sumut urunan memenuhi kebutuhan sesama kaum disabilitas. Di kantor DPD Pertuni, dikatakannya ada 15 tina netra yang saat ini dirumahkannya. "Ada yang tidak bisa bayar kontrakan lagi. Karena mereka kan ada yang ngontrak rumah itu bulanan,” ujarnya. Selama di sekretariat, Khairul dan beberapa penyandang disabilitas harus urunan dana untuk membeli kebutuhan anggota. Palingtidak untuk makan sehari. Pertuni berharap pemerintah bisa memperhatikan nasib mereka. Karena kondisi mereka saat ini terancam kelaparan dan kehilangan tempat tinggal. "Kami juga mencoba menyurati kementerian sosial. Kami berdoa wabah corona ini cepat berakhir. Kami juga berdoa pemerintah bisa membuka hatinya untuk kami kaum disabilitas yang saat ini tidak punya penghasilan untuk bertahan hidup," pungkasnya.[R]


Penyebaran covid-19 di Sumatera Utara terus meluas dan memiliki dampak sosial yang tinggi. Dampak tersebut kini sangat dirasakan oleh tuna netra yang mencari penghasilan dari memijat. Sebab, pemerintah sendiri telah mengeluarkan larangan untuk memijat sehingga angka kemiskinan dikalangan tuna netra semakin bertambah. Karena itu, DPD Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumut, selaku wadah yang menaungi pemijat tersebut membuka donasi untuk membantu ekonomi mereka. Saat dikonfirmasi terkait hal itu, Ketua DPD Persatun Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumut, Hairul Batubara menjelaskan jika saat ini para tuna netra terancam kelaparan. Bahkan terancam diusir dari tempat tinggal yang hanya mengontrak. "Sudah bingung bang, ini kontrakan kami juga sudah mau habis akhir bulan ini,” ungkap Hairul. Tak hanya itu, Hairul juga harus memikirkan 300 KK anggota Pertuni yang terancam kelaparan. Semua anggotanya mengadu sudah kehilangan penghasilan. Selama ini, sejumlah anggota menekuni beberapa profesi. Mulai dari tukang pijat, penjual kerupuk keliling dan pengamen. "Biasanya kalau mijat dapatlah Rp35 ribu dari pasien. Kalau di kasih lebih yah Alhamdulillah. Sekarang udah gak ada lagi," ungkapnya lirih. Dijelaskannya, saat beberapa anggota masih berjualan kerupuk meskipun rugi, begitu juga yang mengamen di setiap resepsi pernikahan. Mereka sama sekali sudah tak berpenghasilan. Saat ini, Hairul mengungkapkan jika DPD Pertuni Sumut urunan memenuhi kebutuhan sesama kaum disabilitas. Di kantor DPD Pertuni, dikatakannya ada 15 tina netra yang saat ini dirumahkannya. "Ada yang tidak bisa bayar kontrakan lagi. Karena mereka kan ada yang ngontrak rumah itu bulanan,” ujarnya. Selama di sekretariat, Khairul dan beberapa penyandang disabilitas harus urunan dana untuk membeli kebutuhan anggota. Palingtidak untuk makan sehari. Pertuni berharap pemerintah bisa memperhatikan nasib mereka. Karena kondisi mereka saat ini terancam kelaparan dan kehilangan tempat tinggal. "Kami juga mencoba menyurati kementerian sosial. Kami berdoa wabah corona ini cepat berakhir. Kami juga berdoa pemerintah bisa membuka hatinya untuk kami kaum disabilitas yang saat ini tidak punya penghasilan untuk bertahan hidup," pungkasnya.