Tinggal Di Medan, Tapi Hati Rivai Nasution Ada Di Labusel

LAHIR dari keluarga sederhana di Kotapinang, Labuhanbatu Selatan (Labusel), Rivai Nasution terpaksa "hijrah" mengadu nasib di perantauan yaitu Kota Medan. Semangat yang membara dan disertai doa mengantarkan Rivai bisa berkarir di ibukota Provinsi Sumatera Utara itu.

Saat ini, Rivai mengemban amanah sebagai Kabag Hubungan Kerjasama Pemko Medan. Di luar kedinasan sebagai PNS, Rivai banyak aktif di keorganisasian.

Sebelum menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Keluarga Labuhanbatu Selatan (IKLAS) Kota Medan, Rivai lama menjabat sebagai Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Labuhanbatu (IKLAB) Kota Medan. Dia juga tercatat sebagai Sekretaris Panitia Pendukung Proses Percepatan Pemekaran Kabupaten Labuhanbatu (P5KLB) berdasarkan SK Bupati Labuhanbatu yang pada saat itu dijabat HT Milwan.

Selain organisasi kedaerahan, Rivai juga aktif di organisasi sosial dan kebudayaan. Saat ini, Rivai juga dipercaya sebagai Bendahara Umun Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Keluarga Nasution (Ikanas) Dohot Anak Boruna Sumut.

Rivai yang memiliki pergaulan luas, tidak hanya masyhur di tataran tokoh di Sumut, tapi juga dekat dengan kalangan mahasiswa dan pemuda asal Labuhanbatu Raya yang menimba ilmu dan berdomisili di Medan. Dia selalu terbuka untuk berdiskusi dengan kalangan milenial.

Meski sosok dua ayah ini berkibar di Kota Medan, Rivai tidak melupakan tanah kelahirannya, dia bolak-balik Medan-Labusel demi mengobati rindu sekaligus terus menjalin tali silaturahmi.

Pulang kampung ke Labusel, Rivai tidak hanya kongkow-kingkow di kafe atau di warung, dia tetap peduli dengan pembangunan di bumi "santun berkata bijak berkarya". Semua lapisan masyarakat dia masuki sekaligus menyerap aspirasi.

Sampai di situ, Rivai tidak diam. Dia sering memberikan pandangan dan pencerahan terkait pembangunan Labusel lewat seminar/dialog. Bahkan, tidak jarang dia memberikan terobosan untuk kemajuan Labusel lewat tulisan di media massa.

Jiwa sosial yang tinggi yang ada di hati sanubari, membuat Rivai terus bergerilya. Dia merasa belum puas dengan hanya menyampaikan pandangan konstruktif lewat seminar dan media massa, dan akhirnya membuatnya terpanggil terjun ke lapangan.

Rivai sering turun langsung ke Labusel untuk sekedar menemui masyarakat dan berbagi. Belum lama ini, Rivai lewat bendera Pengurus Besar Ikatan Keluarga Labuhan Batu Selatan (PB-IKLAS) Medan tergugah untuk membantu sanak saudara korban bencana kebakaran di Desa Sisumut, Kecamatan Kotapinang, Labusel. Dan menyerahkan paket bantuan kepada korban banjir di Dusun Bom, Desa Teluk Panji, Kotapinang.

Rivai juga menggagas seminar Refleksi 10 Tahun Pemekaran Labusel 2018 lalu. Dalam kesempatan itu, dia mengisyaratkan pen­ti­ng­nya para tokoh peng­gagas pemekaran La­busel bersama segenap tokoh masyarakat, agama, pe­mu­da untuk duduk ber­sama merumuskan beberapa pokok pemikiran penting guna di­sam­paikan kepada pemerintah, sehingga arah pembangunan dapat berjalan adil dan merata untuk segenap masyarakat.

Dan acara yang "wah" yang dimotori Rivai, PB IKLAS dengan menggandeng LIPPSU dan Yayasan Daun Sirih Sumut telah menggelar seminar bertajuk "Napak Tilas Kejayaan Istana Kesultanan Bahran Kotapinang". Dia termotivasi untuk melestarikan dan merevitalisasi peninggalan para pendahulu Kesultanan Kotapinang.

Menurut Rivai, Istana Kotapinang merupakan heritage yang mempunyai nilai sejarah yang cukup tinggi dan dapat dijadikan ikon yang paling bergengsi dan mempunyai daya saing yang tinggi dari daerah lain di Sumut.

Ditambahkannya, apabila Istana Kotapinang direnovasi dengan baik dan dilestarikan sebagai cagar budaya nasional, tentu akan mampu mendatangkan PAD Labusel dari sektor pajak hiburan dan merangsang pengunjung dari berbagai penjuru datang untuk berkunjung ke Labusel.

Dan belakangan yang dilakukan Rivai, dia sering menemui masyarakat untuk sekedar membagikan Surat Yasin dan kalender sembari mendengar keluhan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat untuk kemajuan Labusel di masa mendatang.

Itulah sekilas figur Rivai Nasution, menetap di Medan, tapi hatinya selalu terpaut di Labusel.

Satu pantun saya buat Bang Vai:

"Hutagodang dan Kotapinang
Dua kampung yang terpandang
Jika hidup ingin dikenang
Jangan bosan untuk berjuang".

[*]


Penggagas Diskusi PLT (Politik Labusel Terhangat)


LAHIR dari keluarga sederhana di Kotapinang, Labuhanbatu Selatan (Labusel), Rivai Nasution terpaksa "hijrah" mengadu nasib di perantauan yaitu Kota Medan. Semangat yang membara dan disertai doa mengantarkan Rivai bisa berkarir di ibukota Provinsi Sumatera Utara itu.

Saat ini, Rivai mengemban amanah sebagai Kabag Hubungan Kerjasama Pemko Medan. Di luar kedinasan sebagai PNS, Rivai banyak aktif di keorganisasian.

Sebelum menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Keluarga Labuhanbatu Selatan (IKLAS) Kota Medan, Rivai lama menjabat sebagai Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Labuhanbatu (IKLAB) Kota Medan. Dia juga tercatat sebagai Sekretaris Panitia Pendukung Proses Percepatan Pemekaran Kabupaten Labuhanbatu (P5KLB) berdasarkan SK Bupati Labuhanbatu yang pada saat itu dijabat HT Milwan.

Selain organisasi kedaerahan, Rivai juga aktif di organisasi sosial dan kebudayaan. Saat ini, Rivai juga dipercaya sebagai Bendahara Umun Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Keluarga Nasution (Ikanas) Dohot Anak Boruna Sumut.

Rivai yang memiliki pergaulan luas, tidak hanya masyhur di tataran tokoh di Sumut, tapi juga dekat dengan kalangan mahasiswa dan pemuda asal Labuhanbatu Raya yang menimba ilmu dan berdomisili di Medan. Dia selalu terbuka untuk berdiskusi dengan kalangan milenial.

Meski sosok dua ayah ini berkibar di Kota Medan, Rivai tidak melupakan tanah kelahirannya, dia bolak-balik Medan-Labusel demi mengobati rindu sekaligus terus menjalin tali silaturahmi.

Pulang kampung ke Labusel, Rivai tidak hanya kongkow-kingkow di kafe atau di warung, dia tetap peduli dengan pembangunan di bumi "santun berkata bijak berkarya". Semua lapisan masyarakat dia masuki sekaligus menyerap aspirasi.

Sampai di situ, Rivai tidak diam. Dia sering memberikan pandangan dan pencerahan terkait pembangunan Labusel lewat seminar/dialog. Bahkan, tidak jarang dia memberikan terobosan untuk kemajuan Labusel lewat tulisan di media massa.

Jiwa sosial yang tinggi yang ada di hati sanubari, membuat Rivai terus bergerilya. Dia merasa belum puas dengan hanya menyampaikan pandangan konstruktif lewat seminar dan media massa, dan akhirnya membuatnya terpanggil terjun ke lapangan.

Rivai sering turun langsung ke Labusel untuk sekedar menemui masyarakat dan berbagi. Belum lama ini, Rivai lewat bendera Pengurus Besar Ikatan Keluarga Labuhan Batu Selatan (PB-IKLAS) Medan tergugah untuk membantu sanak saudara korban bencana kebakaran di Desa Sisumut, Kecamatan Kotapinang, Labusel. Dan menyerahkan paket bantuan kepada korban banjir di Dusun Bom, Desa Teluk Panji, Kotapinang.

Rivai juga menggagas seminar Refleksi 10 Tahun Pemekaran Labusel 2018 lalu. Dalam kesempatan itu, dia mengisyaratkan pen­ti­ng­nya para tokoh peng­gagas pemekaran La­busel bersama segenap tokoh masyarakat, agama, pe­mu­da untuk duduk ber­sama merumuskan beberapa pokok pemikiran penting guna di­sam­paikan kepada pemerintah, sehingga arah pembangunan dapat berjalan adil dan merata untuk segenap masyarakat.

Dan acara yang "wah" yang dimotori Rivai, PB IKLAS dengan menggandeng LIPPSU dan Yayasan Daun Sirih Sumut telah menggelar seminar bertajuk "Napak Tilas Kejayaan Istana Kesultanan Bahran Kotapinang". Dia termotivasi untuk melestarikan dan merevitalisasi peninggalan para pendahulu Kesultanan Kotapinang.

Menurut Rivai, Istana Kotapinang merupakan heritage yang mempunyai nilai sejarah yang cukup tinggi dan dapat dijadikan ikon yang paling bergengsi dan mempunyai daya saing yang tinggi dari daerah lain di Sumut.

Ditambahkannya, apabila Istana Kotapinang direnovasi dengan baik dan dilestarikan sebagai cagar budaya nasional, tentu akan mampu mendatangkan PAD Labusel dari sektor pajak hiburan dan merangsang pengunjung dari berbagai penjuru datang untuk berkunjung ke Labusel.

Dan belakangan yang dilakukan Rivai, dia sering menemui masyarakat untuk sekedar membagikan Surat Yasin dan kalender sembari mendengar keluhan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat untuk kemajuan Labusel di masa mendatang.

Itulah sekilas figur Rivai Nasution, menetap di Medan, tapi hatinya selalu terpaut di Labusel.

Satu pantun saya buat Bang Vai:

"Hutagodang dan Kotapinang
Dua kampung yang terpandang
Jika hidup ingin dikenang
Jangan bosan untuk berjuang".

[*]


Penggagas Diskusi PLT (Politik Labusel Terhangat)