Tabrakan Maut Di Tol Cipali Diduga Berawal Penumpang Ngotot Minta Turun Di Bahu Jalan

Kepolisian masih mendalami penyebab kecelakaan maut di KM 150 tol Cipali, dinihari tadi (Senin, 17/6) hingga menewaskan 12 orang tewas dan puluhan korban lainnya terluka.

Kecelakaan itu melibatkan satu unit bus, Mithsubishi Expander, Toyota Innova dan truk.

Dari hasil pemeriksaan terhadap para saksi, diduga penyebab tabrakan beruntun karena seorang penumpang bus memaksa turun di bahu jalan tol. Tapi ditolak hingga terjadi perdebatan penumpang tersebut dengan sopir bus.

"Bahwa memang ada debat antara sopir bus dengan salah satu penumpang, debat tersebut intinya bahwa penumpang tersebut meminta dihentikan mau turun, ya tapi sopir bersikeras mau lanjut akibatnya hilang konsentrasi si sopir langsung menghantam ke jalur B (arah berlawanan)," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo  di Mabes Polri, Jakarta, Senin (17/6).

Dedi menekankan, dugaan ini masih bersifat sementara sambil menunggu hasil dari tim Direktorat Penegakan Hukum (Dirgakkum) Korps Lalu Lintas dan Jajaran Dirlantas Polda Jawa Barat.

"Dengan metode Trafic Analisa Accident (TAA) itu nanti bisa tergambar disitu dari proses pembuktian secara ilmiah," terang Dedi.

Akibat kecelakaan maut ini, 12 orang meninggal dunia. Adapun identitas enam korban tewas di dalam mobil Expander yakni, Heruman (59), Rafi (22), Reza (22), Radit (22), Dafa (21) dan Irfan (22).

Sementara tiga korban tewas di mobil Innova yaitu  Uki (45), Amar (37) dan Daryono (70). Dua korban meninggal lainnya adalah Roni Marttampubolon (38) selaku sopir bus, dan Yulianto (25).[R]


Kepolisian masih mendalami penyebab kecelakaan maut di KM 150 tol Cipali, dinihari tadi (Senin, 17/6) hingga menewaskan 12 orang tewas dan puluhan korban lainnya terluka.

Kecelakaan itu melibatkan satu unit bus, Mithsubishi Expander, Toyota Innova dan truk.

Dari hasil pemeriksaan terhadap para saksi, diduga penyebab tabrakan beruntun karena seorang penumpang bus memaksa turun di bahu jalan tol. Tapi ditolak hingga terjadi perdebatan penumpang tersebut dengan sopir bus.

"Bahwa memang ada debat antara sopir bus dengan salah satu penumpang, debat tersebut intinya bahwa penumpang tersebut meminta dihentikan mau turun, ya tapi sopir bersikeras mau lanjut akibatnya hilang konsentrasi si sopir langsung menghantam ke jalur B (arah berlawanan)," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo  di Mabes Polri, Jakarta, Senin (17/6).

Dedi menekankan, dugaan ini masih bersifat sementara sambil menunggu hasil dari tim Direktorat Penegakan Hukum (Dirgakkum) Korps Lalu Lintas dan Jajaran Dirlantas Polda Jawa Barat.

"Dengan metode Trafic Analisa Accident (TAA) itu nanti bisa tergambar disitu dari proses pembuktian secara ilmiah," terang Dedi.

Akibat kecelakaan maut ini, 12 orang meninggal dunia. Adapun identitas enam korban tewas di dalam mobil Expander yakni, Heruman (59), Rafi (22), Reza (22), Radit (22), Dafa (21) dan Irfan (22).

Sementara tiga korban tewas di mobil Innova yaitu  Uki (45), Amar (37) dan Daryono (70). Dua korban meninggal lainnya adalah Roni Marttampubolon (38) selaku sopir bus, dan Yulianto (25).