Suryani Paskah Berharap Jokowi Lobi AS Dapatkan 300 Juta Dosis Vaksin COVID mRNA

Surya Paskah Naiborhu/RMOLSumut
Surya Paskah Naiborhu/RMOLSumut

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Demokrat Sumatra Utara (DPD KNPD Sumut), organisasi sayap Partai Demokrat, Suryani Paskah Naiborhu, mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus fokus dalam melobi pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mendapatkan sebanyak 300 juta dosis vaksin COVID-19 yang berbasis teknologi mRNA


Sebab, vaksin jenis ini terbukti memiliki tingkat efektivitas atau efikasi yang jauh lebih tinggi dalam menekan penyebaran virus COVID-19 dan mampu menekan angka kematian penderita COVID-19 jika dibandingkan dengan vaksin COVID-19 yang menggunakan virus yang tidak diaktifkan. 

Sebagai informasi, tingkat kematian penderita COVID-19 pada hari Rabu (21/7/2021) saja mencapai 1.383 kematian dan ini merupakan rekor tertinggi di dunia.  "Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Inggris, dan lainnya telah menggunakan vaksin COVID-19 berbasis teknologi mRNA dan terbukti mampu menekan penyebaran virus COVID-19, khususnya tingkat kematian hingga pada titik terendah," ujar Suryani Paskah Naiborhu dalam keterangannya, Kamis (22/7/2021). 

Suryani Paskah Naiborhu mengatakan, saat ini ada 2 jenis vaksin COVID-19 berbasis teknologi mRNA yang memiliki tingkat efikasi tinggi, yakni Vaksin Pfizer dan Vaksin Moderna. Tingkat efikasi kedua vaksin tersebut hingga di atas 95%.

Suryani Paskah Naiborhu juga mengatakan, biaya pengadaan vaksin COVID-19 berbasis teknologi mRNA juga jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan dana yang telah dikeluarkan pemerintah untuk penanganan pandemi COVID-19, yang nilainya  mencapai lebih dari Rp 600 triliun dan sangat menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Sebagai contoh, jika rata-rata harga satu kali vaksin sekitar US$ 20 atau sekitar Rp 290.000 dengan kurs US$ 1 sebesar Rp 14.500, maka biaya untuk dua kali vaksin biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 580.000. Jika dikalikan dengan jumlah orang yang harus divaksin sekitar 150 juta, maka biaya pengadaan 300 juta (2 kali suntik X 150 juta) dosis  vaksin  jenis ini sekitar Rp 87 triliun. Ditambah dengan asumsi biaya untuk pengadaan  container box atau kotak khusus untuk penyimpanan vaksin ini serta asumsi biaya distribusi, dengan nilai yang sama, maka biaya yang harus dikeluarkan pemerintah sekitar Rp 174 triliun," tuturnya. 

Lebih lanjut dikatakan bahwa mengacu kepada prinsip Salus Populli Suprema Lex Esto atau keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi, maka tidak ada salahnya jika pemerintah melakukan vaksinasi tambahan (booster), sebanyak dua kali, dengan menggunakan vaksin jenis ini. "Prinsipnya adalah bagaimana menjadikan keselamatan atau kesehatan rakyat sebagai hal yang utama. Sehingga bisa saja dilakukan vaksinasi tambahan dengan vaksin COVID yang berbasis teknologi mRNA ini," tuturnya. 

Suryani Paskah Naiborhu mengatakan bahwa berbagai negara saat ini telah menggunakan vaksin COVID-19 yang berbasis teknologi mRNA. Selain Amerika Serikat, Inggris, Italia, Prancis, negara lain yang menggunakan vaksin jenis ini adalah Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang dan lainnya. 

"Bahkan saat ini masyarakat dan pemerintah di Thailand sudah fokus untuk menggunakan  COVID-19 berbasis teknologi mRNA. Vietnam juga sudah bekerjasama dengan produsen vaksin COVID-19 berbasis teknologi mRNA untuk diproduksi di dalam negeri. Hal ini menunjukkan efikasi vaksin tersebut yang tinggi," ujarnya. 

Suryani Paskah Naiborhu mengatakan, melihat kondisi saat ini, dirinya meminta agar Presiden Jokowi beserta jajarannya dapat segera memperluas pemakaian vaksin COVID-19 yang berbasis teknologi mRNA untuk program vaksinasi yang saat ini tengah berlangsung. 

"Pemerintah perlu melakukan lobi dengan lebih intensif kepada pemerintah Amerika Serikat untuk dapat memperoleh alokasi vaksin jenis ini dalam jumlah yang besar. Sebab vaksin jenis ini diproduksi di negara tersebut. Artinya kalau pemerintah memiliki kemampuan lobi yang baik, saya yakin bahwa keinginan kita untuk memperoleh vaksin COVID yang berbasis teknologi mRNA ini akan terwujud. Tinggal komunikasi dan lobi-lobi pemerintah saja yang harus dilakukan lebih intensif," ujarnya.