Sumut Kembali Kehilangan Seniman, Selamat Jalan Irwansyah Harahap

Irwansyah Harahap/Net
Irwansyah Harahap/Net

Kalangan seniman di Sumatera Utara kembali berduka.


Irwansyah Harahap seniman musik yang selalu aktif dalam berbagai pertunjukan dan edukasi tentang musik meninggal dunia pada Kamis (4/11/2021). 

Rasa kehilangan ini semakin besar mengingat hanya berselang dua minggu, seniman tari Triwahjuono Harijadi alias Yono USU juga telah terlebih mendahuluinya tepatnya 26 Oktober 2021 lalu. Kedua seniman ini memang kerap berkolaborasi dalam pertunjukan lewat Kelompok Seni Suarasama.

Ungkapan dukacita atas kepergian dua seniman ini mengalir dari berbagai kalangan mulai dari kalangan seniman, akademisi hingga kalangan aktivis.

"Seorang lagi seniman pegiat peradaban berpulang ke Rahmatullah. Belum sebulan sebelumnya Yono USU sahabat sepermainannya mendahuluinya. Damailah kalian di alam keabadian. Suarasama yang kalian lantunkan menjadi catatan sejarah dan perjalanan seni dan budaya kampong kita hingga ke mancanegara. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisiNya," kata aktivis budaya Rizanul Arifin.

Ungkapan duka cita juga disampaikan Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik. Dalam postingannya di akun media sosialnya, ia menyampaikan kekagumannya atas kontribusi Irwansyah Harahap dalam perkembangan seni di Sumatera Utara hingga ke manca negara.

"Selamat jalan saudaraku Irwansyah Harahap seniman musik yang sangat mengagumkan. Musikmu membangkitkan kesadaran anak-anak jalanan yang kami dampingi. Kelompok musik alternatif yang belasan tahun malang-melintang menghantarkan kemandirian menyikapi hidup yang keras. Karyamu selalu membekas, doaku untukmu semoga tenang dan bahagia di sisi Allah SWT," tulisnya.

Irwansyah Harahap merupakan seniman musik Sumatera Utara yang lahir di Medan pada tanggal 21 Desember 1962. Informasi yang dikutip dari berbagai sumber menyebutkan Irwansyah Harahap tumbuh di lingkungan keluarga penggemar musik. Sejak usia 5 tahun, Irwansyah mulai mengenal gitar dan memainkan lagu-lagu klasik, lalu saat remaja perhatiannya tertuju pada musik jazz. Ia mengambil Jurusan Etnomusikologi (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Sumatera Utara (USU) di tahun 1983. Kemudian, Irwansyah melanjutkan pendidikan Master Etnomusikologi di University of Wellington Seattle, AS.

Semasa kuliah, Irwansyah aktif terlibat dalam kegiatan seni musik tradisional Batak di Lembaga Kesenian USU, mulai dari memainkan alat tabuh Taganing, alat petik hasapi hingga ansambel gordang sambilan Mandailing. Melalui aktivitas ini, ia pun berkesempatan mengikuti misi kesenian ke beberapa negara Eropa dan Asia. Irwansyah juga pernah bertemu dan belajar dengan sejumlah seniman ternama, seperti Edward C. van Ness, Sujath Khan, Akhram Khan, Silvestre Randafison, Darius Talai, dan Nusrat Fateh Ali Khan.

Pada dasarnya, karya-karya musik Irwansyah mengacu pada elemen konseptual maupun praktikal dari berbagai kebudayaan musik tradisi dunia (roots music). Selain memainkan sarana alat-alat musik tradisi dunia, ia juga cenderung merancang ulang alat musik konvensional ke dalam bentuk-bentuk tuning, teknik permainan, maupun karakteristik idiomatik bunyi yang berbeda-beda. Bahkan, tak jarang ia membuat alat musik khusus dan mengintegrasi ulang gagasan konspetual maupun praktikal dari fenomena musik dunia ke dalam formula baru, baik dalam pembentukan struktur dasar ritmikal maupun orientasi unsur melodi.

Setelah merampungkan studi master, Irwansyah dan istrinya Rithaony Hutajulu membentuk Suarasama, kelompok musik yang memainkan karya berbasis musik tradisi dunia. Bersama Suarasama, ia melahirkan sejumlah album musik, di antaranya “Fajar di Atas Awan”, “Rites of Passages”, “Lebah” dan “Timeline”. Selain itu, mereka juga kerap diundang dalam berbagai festival di dalam dan luar negeri, salah satunya forum Asia Pasific Performance Exchange (APPEX) 1997 di Los Angeles, Amerika Serikat.

Tahun 2003, Irwansyah meraih dukungan Hibah Seni Kelola kategori Karya Inovatif untuk karya “Melintas Bunyi”. Atas sumbangsihnya di bidang musik, ia menerima Anugerah Kebudayaan untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2017). Irwansyah aktif mengajar di Departemen Etnomusikologi Program Studi (S-2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya USU, Medan dan menjadi Ketua Lembaga Jendela Toba, Medan.