Soekarno, Literasi Dan Masa Depan Bangsa

Sukarno adalah sosok pecinta literasi. Sepanjang hidupnya, Bung Karno panggilan akrabnya, tidak pernah lepas dari dunia literasi. Sejak Ia kecil, masa remaja, menjadi tokoh pergerakan, hingga Ia menjadi pemimpin bangsa, kecintaannya pada literasi tidak pernah pupus.

Jejak awal literasi Sukarno dimulai dari seorang Ibunya. Ida Ayu Nyoman Rai, Ibunda Bung Karno sering mendongeng tentang kepahlawanan leluhurnya melawan penjajah Belanda. ”Ibu selalu menceritakan kisah-kisah kepahlawanan. Kalau Ibu sudah mulai bercerita, aku lalu duduk di dekat kakinya dan dengan haus meneguk kisah-kisah yang menarik tentang pejuang-pejuang kemerdekaan dalam keluarga kami”, kata Bung Karno dalam buku biografinya yang berjudul ”Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang dituliskan oleh Cindy Adams (1965).

Selain mendapatkan literasi ”dongeng” dari sang Ibu, Sukarno kecil juga mendapatkan pembelajaran membaca dan menulis dari Sang Ayah, Raden Soekemi Sosrodiharjo. Sebagai guru, Soekemi selalu menyempatkan diri untuk mendidik Sukarno di rumahnya. Sang Ayah adalah guru yang keras, dan selalu mengajari membaca dan menulis tanpa kenal lelah walau berjam-jam lamanya.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Sukarno sudah mulai gemar membaca. Kisah-kisah yang diceritakan oleh sang Ibu, menjadi perangsang baginya untuk menjelajahi buku-buku yang berkisah tentang para pejuang kemerdekaan. Di saat anak-anak lain menghabiskan banyak waktunya untuk bermain, Sukarno kecil menghabiskan banyak waktunya dengan membaca dan belajar. Seperti yang pernah Bung Karno ceritakan dalam biorgrafinya, ”Seluruh waktuku kugunakan untuk membaca, sementara yang lain bermain-main, aku belajar, aku mengejar ilmu pengetahuan disamping pelajaran sekolah”.

Kecintaan Sukarno pada dunia literasi semakin kuat tatkala Ia mulai mengenyam pendidikan di Hoogere Burger School (HBS) Surabaya pada tahun 1916. Terlebih saat Sukarno diperkenalkan sang Ayah kepada sosok H.O.S. Tjokroaminoto, seorang pemimpin organisasi pergerakan Sarikat Islam. Bahkan sang Ayah menitipkan Sukarno untuk tinggal di rumah Tjokroaminoto selama Ia belajar di HBS Surabaya. Dari Tjokroaminoto inilah kemudian Sukarno remaja mengenal sosok Semaoen, Kartosoewiryo, Alimin, Muso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis –yang kelak menjadi tokoh-tokoh pergerakan nasional.

Pada saat awal-awal di Surabaya, bukanlah hal yang mudah bagi Sukarno. Ia menghadapi persoalan diskriminasi dan kemiskinan, hingga membuat dirinya tampak selalu murung. Di saat situasi inilah, Sukarno mengalihkan dirinya pada buku-buku. Ia pun banyak menghabiskan waktunya membaca di Perpustakaan Perkumpulan Teosofi di Surabaya. Sukarno mulai banyak membaca buku tentang politik, sejarah, ekonomi, budaya, agama, filsafat, ideologi, sosial, sastra, dan lainnya.

Selain itu, pengembaraannya pada dunia pemikiran dan gagasan-gagasan besar tokoh dunia dimulai dari sini. Sukarno mulai membaca gagasan-gagasan akbar tokoh-tokoh Dunia Barat: Presiden Amerika Serikat seperti Thomas Jefferson, George Washington, Abraham Lincoln; Perdana Menteri liberal Gladstone, suami istri sosialis Sydney dan Beatrice Webb dari Inggris; Para Bapak unifikasi Italia seperti Mazzini, Cavour, dan Garibaldi; tokoh-tokoh kiri Eropa seperti Otto Bauer, Max Adler, Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin; juga para negarawan dari negeri menara Eiffel seperti Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand, Voltaire, Georges Danton, dan Jean Jaures, orator terbesar dalam sejarah Perancis. Gagasan-gagasan dari ahli-ahli pikir Dunia Timur juga tak ia lewatkan. Sukarno mengagumi buah pikir Mahatma Gandhi, Jose Rizal, Sun Yat Sen, Must, dan lain-lain. Semua itu dilahap di akhir masa pubertasnya. (Rahadian, 2018).

Kecintaannya pada buku, telah Sukarno ungkapkan dalam sebuah testimoni di dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat”. Kata bung Karno, “Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus-asaan yang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira”.

Hingga Bung Karno menjadi tokoh pergerakan nasional, Ia tidak pernah lepas dari buku. Setelah menamatkan pendidikan tekniknya di ITB Bandung pada tahun 1926, dan sejak perjumpaannya pada Dowes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo, Bung Karno sudah mulai terjun ke dunia politik. Kiprah politik Bung Karno dimulai tatkala mendirikan Algeme Studie Club tahun 1926, yang kemudian menjadi cikal bakal Partai nasional Indonesia (PNI).

Akibat aktivitas politiknya ini, Sukarno ditangkap oleh Belanda tahun 1926 dan di penjara di Banceuy. Kemudian pada tahun 1930 dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung. Perlawanannya pada penjajah Belanda membuat Ia diasingkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tercatat Bung Karno pernah diasingkan oleh Belanda di Pulau Ende dan Bengkulu. Dari pengasingan ke pengasingannya ini, yang selalu Ia bawa adalah berkoper-koper buku.

Megawati pernah menceritakan bahwa ayahnya gemar membaca buku secara sporadis. Bung Besar terbiasa membaca lima buku sekaligus. Di toiletnya, ada satu meja dua laci tempat menyimpan buku-buku yang sedang ia baca. Suatu kali Mega mengambil salah satu buku dan tak mengembalikan ke tempatnya semula. Bung Karno menyetrapnya karena Mega lupa pada halaman berapa buku itu sedang terbuka. (Seri Buku Saku Tempo: Bapak Bangsa-Soekarno, 2017)

Selain kutu buku, Bung karno juga gemar menulis. Sepanjang hidupnya, Sukarno tergolong penulis produktif yang membukukan buah pikirannya. Tercatat ada 65 karya tulis Bung Karno yang telah diterbitkan dalam bentuk buku. Beberapa buku Sukarno yang paling populer diantarnya: Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial (1951), Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia (1951), Indonesia Merdeka (1957), Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1 (1959), Dibawah Bendera Revolusi Jilid 2 (1960), Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Semua buku-buku Bung Karno telah mewarnai perjuangan bangsa menuju Indonesia Merdeka. Buku-buku ini juga telah menjadi rujukan dalam perjalanan pembangunan bangsa pasca kemerdekaan. Sekalipun Bung Karno telah tiada, karya-karya tulisnya akan tetap abadi.

Literasi

Secara konsepsional, literasi tidak hanya terkait dengan ketrampilan membaca dan menulis. Literasi juga dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam mencari, menggali dan menemukan informasi dari berbagai sumber, yang kemudian informasi itu diidentifikasi, dianalisis, dan dijadikan sebagai sikap dan tindakan dalam mengambil keputusan hidup.

Menurut Laxman Pandit (2007), literasi mencakup semua kemampuan yang diperlukan oleh seseorang atau sebuah komunitas untuk ambil bagian dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan teks dan wacana (diskursus). Literasi juga diartikan sebagai upaya mengkotekstualkan teks. Informasi, ilmu dan pengetahuan tidak hanya berhenti ditingkat wacana, akan tetapi harus dipraktikkan dan diamalkan dalam kehidupan nyata.

Dalam kontkes inilah, Sukarno tidak hanya sekedar menjadi pembaca, pemikir, dan penikmat ilmu pengetahuan. Sukarno telah mempraktikan apa yang ia baca dan apa yang ia gagas dan pikirkan. Sukarno mengamalkan semua ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan untuk Indonesia merdeka dan untuk mengisi kemerdekaan itu. Dalam bahasa Gramsci, Sukarno telah menjelma menjadi intelektual organik, dan bukan intelektual mekanik.

Gagasan besar Bung Karno dalam Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Ia wujudkan dalam membangun dan membangkitkan gerakan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemikiran Bung Karno untuk menemukan landasan dasar negara di tengah keberagamaan dan kebhinekaan berbangsa Ia wujudukan melalui buku Lahirnya Pancasila (1945). Pancasila sebagai landasan dasar negara telah diterima oleh semua pihak. Sebagai pemimpin bangsa, Sukarno telah menjadi tauladan dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila untuk kehidupan berbangsa.

Masih banyak gagasan-gagasan besar Sukarno yang ia tulis dan Ia implementasikan untuk pembangunan bangsa dan memajukan dunia. Gagasan dan perjuangan anti kolonialisme dan imperialime, Gerakan Non-Blok, Mewujudkan tatanan dunia yang berkeadilan, Membangun perdamaian dunia --adalah gagasan-gagasan besar Sukarno yang ia perjuangkan hingga Ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Masa Depan Bangsa

Studi Bank Dunia (2011) bertajuk Learning Poverty melaporkan sepertiga dari anak Indonesia usia 10 tahun tidak terampil membaca dan memahami cerita sederhana. Bahkan hasil Programme International Student Assessment (PISA) tahun 2018, menunjukkan selama 18 tahun skor keterampilan membaca anak-anak Indonesia tidak mengalami perubahan signifikan. Hasil ini dikonfirmasi Assessment Kompetensi Siswa Indonsia (AKSI) Kemendikbud tahun 2016, yang menyebut 47 persen siswa kelas IV SD di Indonesia tidak terampil membaca. Padahal anak-anak ini seharusnya sudah harus terampil membaca saat kelas 3 SD.

Besarnya jumlah siswa SD yang tidak terampil, merupakan ancaman besar bagi masa depan pembangunan di Indonesia. Jika tidak ditangani sejak dini, maka anak-anak ini akan menjadi beban keuangan pemerintah di masa depan.

Disisi lain, minat membaca masyarakat kita juga masih tergolong sangat rendah. Satrawan Taufik Ismail (2007) dengan pedasnya menkritik, generasi Indonesia merupakan generasi nol buku, generasi yang rabun membaca dan pincang menulis. Padahal di zaman Hindia Belanda menurut Taufik, para pelajar Indonesia setingkat SMA diwajibkan membaca 25 buku dalam 3 tahun.

Tentu saja potret suram literasi kita saat ini akan sangat berpengaruh bagi kemajuan bangsa Indonesia. Dan bila tidak ada upaya yang masif dalam meningkatkan ketrampilan literasi bagi masyarakat dan khususnya anak-anak, maka akan berdampak pada masa depan bangsa kita.

Alvin Toffller dalam The Future Shock (1970) mengatakan, masa depan umat manusia adalah informasi. Siapa yang menguasi informasi, maka dialah yang menguasai dunia. Agar mampu menguasai informasi, manusia harus terus-menerus belajar. Kata kunci untuk dapat menguasai informasi adalah ketrampilan berliterasi. Dalam dokumen Prague Declaration (2003) bertajuk Towards an information Literate Society, juga ditegaskan bahwa penguasaan literasi berkontribusi penting dalam pencapaian tujuan pembangunan millennium PBB dan menghormati deklarasi universal Hak Azasi Manusia.

Sesungguhnya Bung Karno telah memberikan contoh dan suri tauladan bagi kita para generasinya, betapa pentingnya literasi untuk kehidupan dan membangun bangsa. Dengan literasi, Bung Karno telah menjelma menjadi sosok pejuang dan pemimpin yang intelektual, memiliki gagasan besar dan orisinil, berkarakter dan berperikebadian, pantang didikte, dan selalu berdiri di kaki sendiri. Bung Karno adalah potret model literasi yang ideal bagi bangsa.

Sekalipun Bung Karno telah tiada, namun kecintaannya pada dunia literasi dapat menjadi pembelajaran dan inspirasi bagi kita semua. Mari kita belajar literasi dari Bung karno untuk masa depan bangsa yang gemilang.[R]

Oleh: Agus Marwan (Sekjend Forum Masyarakat Literasi Indonesia)


Sukarno adalah sosok pecinta literasi. Sepanjang hidupnya, Bung Karno panggilan akrabnya, tidak pernah lepas dari dunia literasi. Sejak Ia kecil, masa remaja, menjadi tokoh pergerakan, hingga Ia menjadi pemimpin bangsa, kecintaannya pada literasi tidak pernah pupus.

Jejak awal literasi Sukarno dimulai dari seorang Ibunya. Ida Ayu Nyoman Rai, Ibunda Bung Karno sering mendongeng tentang kepahlawanan leluhurnya melawan penjajah Belanda. ”Ibu selalu menceritakan kisah-kisah kepahlawanan. Kalau Ibu sudah mulai bercerita, aku lalu duduk di dekat kakinya dan dengan haus meneguk kisah-kisah yang menarik tentang pejuang-pejuang kemerdekaan dalam keluarga kami”, kata Bung Karno dalam buku biografinya yang berjudul ”Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang dituliskan oleh Cindy Adams (1965).

Selain mendapatkan literasi ”dongeng” dari sang Ibu, Sukarno kecil juga mendapatkan pembelajaran membaca dan menulis dari Sang Ayah, Raden Soekemi Sosrodiharjo. Sebagai guru, Soekemi selalu menyempatkan diri untuk mendidik Sukarno di rumahnya. Sang Ayah adalah guru yang keras, dan selalu mengajari membaca dan menulis tanpa kenal lelah walau berjam-jam lamanya.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Sukarno sudah mulai gemar membaca. Kisah-kisah yang diceritakan oleh sang Ibu, menjadi perangsang baginya untuk menjelajahi buku-buku yang berkisah tentang para pejuang kemerdekaan. Di saat anak-anak lain menghabiskan banyak waktunya untuk bermain, Sukarno kecil menghabiskan banyak waktunya dengan membaca dan belajar. Seperti yang pernah Bung Karno ceritakan dalam biorgrafinya, ”Seluruh waktuku kugunakan untuk membaca, sementara yang lain bermain-main, aku belajar, aku mengejar ilmu pengetahuan disamping pelajaran sekolah”.

Kecintaan Sukarno pada dunia literasi semakin kuat tatkala Ia mulai mengenyam pendidikan di Hoogere Burger School (HBS) Surabaya pada tahun 1916. Terlebih saat Sukarno diperkenalkan sang Ayah kepada sosok H.O.S. Tjokroaminoto, seorang pemimpin organisasi pergerakan Sarikat Islam. Bahkan sang Ayah menitipkan Sukarno untuk tinggal di rumah Tjokroaminoto selama Ia belajar di HBS Surabaya. Dari Tjokroaminoto inilah kemudian Sukarno remaja mengenal sosok Semaoen, Kartosoewiryo, Alimin, Muso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis –yang kelak menjadi tokoh-tokoh pergerakan nasional.

Pada saat awal-awal di Surabaya, bukanlah hal yang mudah bagi Sukarno. Ia menghadapi persoalan diskriminasi dan kemiskinan, hingga membuat dirinya tampak selalu murung. Di saat situasi inilah, Sukarno mengalihkan dirinya pada buku-buku. Ia pun banyak menghabiskan waktunya membaca di Perpustakaan Perkumpulan Teosofi di Surabaya. Sukarno mulai banyak membaca buku tentang politik, sejarah, ekonomi, budaya, agama, filsafat, ideologi, sosial, sastra, dan lainnya.

Selain itu, pengembaraannya pada dunia pemikiran dan gagasan-gagasan besar tokoh dunia dimulai dari sini. Sukarno mulai membaca gagasan-gagasan akbar tokoh-tokoh Dunia Barat: Presiden Amerika Serikat seperti Thomas Jefferson, George Washington, Abraham Lincoln; Perdana Menteri liberal Gladstone, suami istri sosialis Sydney dan Beatrice Webb dari Inggris; Para Bapak unifikasi Italia seperti Mazzini, Cavour, dan Garibaldi; tokoh-tokoh kiri Eropa seperti Otto Bauer, Max Adler, Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin; juga para negarawan dari negeri menara Eiffel seperti Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand, Voltaire, Georges Danton, dan Jean Jaures, orator terbesar dalam sejarah Perancis. Gagasan-gagasan dari ahli-ahli pikir Dunia Timur juga tak ia lewatkan. Sukarno mengagumi buah pikir Mahatma Gandhi, Jose Rizal, Sun Yat Sen, Must, dan lain-lain. Semua itu dilahap di akhir masa pubertasnya. (Rahadian, 2018).

Kecintaannya pada buku, telah Sukarno ungkapkan dalam sebuah testimoni di dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat”. Kata bung Karno, “Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus-asaan yang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira”.

Hingga Bung Karno menjadi tokoh pergerakan nasional, Ia tidak pernah lepas dari buku. Setelah menamatkan pendidikan tekniknya di ITB Bandung pada tahun 1926, dan sejak perjumpaannya pada Dowes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo, Bung Karno sudah mulai terjun ke dunia politik. Kiprah politik Bung Karno dimulai tatkala mendirikan Algeme Studie Club tahun 1926, yang kemudian menjadi cikal bakal Partai nasional Indonesia (PNI).

Akibat aktivitas politiknya ini, Sukarno ditangkap oleh Belanda tahun 1926 dan di penjara di Banceuy. Kemudian pada tahun 1930 dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung. Perlawanannya pada penjajah Belanda membuat Ia diasingkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tercatat Bung Karno pernah diasingkan oleh Belanda di Pulau Ende dan Bengkulu. Dari pengasingan ke pengasingannya ini, yang selalu Ia bawa adalah berkoper-koper buku.

Megawati pernah menceritakan bahwa ayahnya gemar membaca buku secara sporadis. Bung Besar terbiasa membaca lima buku sekaligus. Di toiletnya, ada satu meja dua laci tempat menyimpan buku-buku yang sedang ia baca. Suatu kali Mega mengambil salah satu buku dan tak mengembalikan ke tempatnya semula. Bung Karno menyetrapnya karena Mega lupa pada halaman berapa buku itu sedang terbuka. (Seri Buku Saku Tempo: Bapak Bangsa-Soekarno, 2017)

Selain kutu buku, Bung karno juga gemar menulis. Sepanjang hidupnya, Sukarno tergolong penulis produktif yang membukukan buah pikirannya. Tercatat ada 65 karya tulis Bung Karno yang telah diterbitkan dalam bentuk buku. Beberapa buku Sukarno yang paling populer diantarnya: Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial (1951), Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia (1951), Indonesia Merdeka (1957), Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1 (1959), Dibawah Bendera Revolusi Jilid 2 (1960), Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Semua buku-buku Bung Karno telah mewarnai perjuangan bangsa menuju Indonesia Merdeka. Buku-buku ini juga telah menjadi rujukan dalam perjalanan pembangunan bangsa pasca kemerdekaan. Sekalipun Bung Karno telah tiada, karya-karya tulisnya akan tetap abadi.

Literasi

Secara konsepsional, literasi tidak hanya terkait dengan ketrampilan membaca dan menulis. Literasi juga dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam mencari, menggali dan menemukan informasi dari berbagai sumber, yang kemudian informasi itu diidentifikasi, dianalisis, dan dijadikan sebagai sikap dan tindakan dalam mengambil keputusan hidup.

Menurut Laxman Pandit (2007), literasi mencakup semua kemampuan yang diperlukan oleh seseorang atau sebuah komunitas untuk ambil bagian dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan teks dan wacana (diskursus). Literasi juga diartikan sebagai upaya mengkotekstualkan teks. Informasi, ilmu dan pengetahuan tidak hanya berhenti ditingkat wacana, akan tetapi harus dipraktikkan dan diamalkan dalam kehidupan nyata.

Dalam kontkes inilah, Sukarno tidak hanya sekedar menjadi pembaca, pemikir, dan penikmat ilmu pengetahuan. Sukarno telah mempraktikan apa yang ia baca dan apa yang ia gagas dan pikirkan. Sukarno mengamalkan semua ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan untuk Indonesia merdeka dan untuk mengisi kemerdekaan itu. Dalam bahasa Gramsci, Sukarno telah menjelma menjadi intelektual organik, dan bukan intelektual mekanik.

Gagasan besar Bung Karno dalam Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Ia wujudkan dalam membangun dan membangkitkan gerakan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemikiran Bung Karno untuk menemukan landasan dasar negara di tengah keberagamaan dan kebhinekaan berbangsa Ia wujudukan melalui buku Lahirnya Pancasila (1945). Pancasila sebagai landasan dasar negara telah diterima oleh semua pihak. Sebagai pemimpin bangsa, Sukarno telah menjadi tauladan dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila untuk kehidupan berbangsa.

Masih banyak gagasan-gagasan besar Sukarno yang ia tulis dan Ia implementasikan untuk pembangunan bangsa dan memajukan dunia. Gagasan dan perjuangan anti kolonialisme dan imperialime, Gerakan Non-Blok, Mewujudkan tatanan dunia yang berkeadilan, Membangun perdamaian dunia --adalah gagasan-gagasan besar Sukarno yang ia perjuangkan hingga Ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Masa Depan Bangsa

Studi Bank Dunia (2011) bertajuk Learning Poverty melaporkan sepertiga dari anak Indonesia usia 10 tahun tidak terampil membaca dan memahami cerita sederhana. Bahkan hasil Programme International Student Assessment (PISA) tahun 2018, menunjukkan selama 18 tahun skor keterampilan membaca anak-anak Indonesia tidak mengalami perubahan signifikan. Hasil ini dikonfirmasi Assessment Kompetensi Siswa Indonsia (AKSI) Kemendikbud tahun 2016, yang menyebut 47 persen siswa kelas IV SD di Indonesia tidak terampil membaca. Padahal anak-anak ini seharusnya sudah harus terampil membaca saat kelas 3 SD.

Besarnya jumlah siswa SD yang tidak terampil, merupakan ancaman besar bagi masa depan pembangunan di Indonesia. Jika tidak ditangani sejak dini, maka anak-anak ini akan menjadi beban keuangan pemerintah di masa depan.

Disisi lain, minat membaca masyarakat kita juga masih tergolong sangat rendah. Satrawan Taufik Ismail (2007) dengan pedasnya menkritik, generasi Indonesia merupakan generasi nol buku, generasi yang rabun membaca dan pincang menulis. Padahal di zaman Hindia Belanda menurut Taufik, para pelajar Indonesia setingkat SMA diwajibkan membaca 25 buku dalam 3 tahun.

Tentu saja potret suram literasi kita saat ini akan sangat berpengaruh bagi kemajuan bangsa Indonesia. Dan bila tidak ada upaya yang masif dalam meningkatkan ketrampilan literasi bagi masyarakat dan khususnya anak-anak, maka akan berdampak pada masa depan bangsa kita.

Alvin Toffller dalam The Future Shock (1970) mengatakan, masa depan umat manusia adalah informasi. Siapa yang menguasi informasi, maka dialah yang menguasai dunia. Agar mampu menguasai informasi, manusia harus terus-menerus belajar. Kata kunci untuk dapat menguasai informasi adalah ketrampilan berliterasi. Dalam dokumen Prague Declaration (2003) bertajuk Towards an information Literate Society, juga ditegaskan bahwa penguasaan literasi berkontribusi penting dalam pencapaian tujuan pembangunan millennium PBB dan menghormati deklarasi universal Hak Azasi Manusia.

Sesungguhnya Bung Karno telah memberikan contoh dan suri tauladan bagi kita para generasinya, betapa pentingnya literasi untuk kehidupan dan membangun bangsa. Dengan literasi, Bung Karno telah menjelma menjadi sosok pejuang dan pemimpin yang intelektual, memiliki gagasan besar dan orisinil, berkarakter dan berperikebadian, pantang didikte, dan selalu berdiri di kaki sendiri. Bung Karno adalah potret model literasi yang ideal bagi bangsa.

Sekalipun Bung Karno telah tiada, namun kecintaannya pada dunia literasi dapat menjadi pembelajaran dan inspirasi bagi kita semua. Mari kita belajar literasi dari Bung karno untuk masa depan bangsa yang gemilang.

Oleh: Agus Marwan (Sekjend Forum Masyarakat Literasi Indonesia)