Sempat Viral, Tuduhan Penganiayaan Humas TPL Kepada Anak Dibawah Umur Ternyata Direkayasa

Marudut Ambarita/Ist
Marudut Ambarita/Ist

Kasus dugaan penganiayaan terhadap anak dibawah umur yang dituduhkan kepada humas PT Toba Pulp Lestari (TPL) sektor Aek Nauli saat itu Bahara Sibuea sempat menjadi viral.


Bahkan hal ini sempat memicu kemarahan berbagai pihak yang bersimpati dengan korban termasuk mengaitkannya dengan perjuangan warga Pematang Sidamanik keturunan Ompu Mamontang Laut yang berkonflik lahan konsesi TPL.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait juga turun tangan dan mengecam tindakan tersebut dan meminta pelaku ditangkap.

Setelah hampir dua tahun, akhirnya fakta peristiwa dugaan kekerasan terhadap anak dibawah umur terkuak ke publik secara mengejutkan. Sang ayah korban bernama Marudut Ambarita (33) membawa anaknya MTA (korban) dan didampingi istrinya Verawati Silalahi membeberkan fakta sebenarnya kepada awak media.

Saat dikonfirmasi di Parapat, Kamis, 16 Juni 2021, Marudut Ambarita mengaku, kasus dan berita kekerasan terhadap anaknya MTA adalah bohong, sengaja direkayasa. 

Pria berusia 33 tahun itu bercerita kejadian yang sebenarnya terjadi pada 16 September 2019, di konsesi HTI perusahaan PT Toba Pulp Lestari (TPL), Tbk tepatnya Nagori Sipahoras. 

“Pada saat itu saya bersama anaknya berada di lokasi TPL kurang lebih jam 09.00 WIB pagi. Kami menanam jagung lalu datanglah Humas TPL Bapak Bahara Sibuea ke lokasi. Di situ terjadi perbincangan mengenai lahan tersebut, mereka (TPL) melarang masyarakat agar jangan menanam jagung, tapi masyarakat tetap menanam jagung,” ujarnya.

Larangan dari Bahara Sibuea justru memicu amarah warga, sehingga terjadi keributan dan bentrok pun tidak bisa dihindari lagi. Saat terjadi bentrok, ujar Marudut, dirinya yang membawa anak menjauh dari lokasi sekitar 15 meter dengan tujuan, agar terhindar dari pemukulan.

“Terjadilah bentrok sekitar pukul 11.00 WIB. Kami (saya dan anak) lari dari lokasi bentrok tersebut sekitar 15 meter, agar tidak kena bentrokan pada anak saya. Selesai bentrok, kami pun pulang ke kampung. Saya bonceng anak saya, tapi bukan ke rumah melainkan dibawa oleh Pimpinan LSM LA ke rumah tukang obat, lalu dibuatlah sirih ke punggung anak saya,” bebernya.

Ia mengaku tidak mengetahui maksud atau tujuan diberikan obat tersebut kepada anaknya. Si tukang obat terlihat menyemburkan air sirih berwarna merah darah yang dikunyahnya ke bagian punggung MTA, agar terkesan seperti lebam akibat luka pukul.

Atas intruksi pimpinan LSM tersebut, seluruh warga berkumpul di rumah tukang obat. Saat itu, tiba-tiba si dukun mengaku kedatangan arwah leluhurnya dan meminta agar anaknya dijadikan alat untuk memenangkan kasus berdarah tersebut dengan tujuan, agar orang yang ikut dalam bentrok itu tidak dipenjarakan polisi.

“Kata ompung yang masuk ke badannya,  inilah kita buat alatnya, anakmu (MTA), biar kita bisa menang, biar jangan dipenjarakan kita warga kampung ini semua,” sebut Marudut.

Keesokan harinya, dia diminta pimpinan lembaga itu untuk melaporkan ke polisi bahwa anak Marudut ini dipukul Humas TPL. Dia pun pergi ke Polsek Sidamanik untuk melaporkan kejadian tersebut, tapi Polsek Sidamanik tidak mau menerima dan meminta mereka untuk terlebih dahulu melakukan visum.

“Saat dibawa visum, ternyata tidak ada hasil visumnya. Keesokan harinya kami diminta untuk pergi ke Polres Simalungun untuk melaporkan kasus pemukulan terhadap anak saya MTA. Mereka mengajari bagaimana kronologinya, bagaimana pelaporan agar kasus MTA ini ditanggapi Polisi,” aku marusut.

Sampai di Polres Simalungun, Marudut pun bingung saat ditanyai polisi, karena laporan penganiayaan itu tidaklah benar. “Sebenarnya MTA itu tidak ada dipukul Humas TPL. Saat diproses kepolisian, saya sangat takut karena pengaduan saya itu bohong,” terangnya.

Sesudah Marudut melaporkan kasus pemukulan MTA ke Polres Simalungun, dua hari kemudian Marudut dipanggil polisi. Ia mengaku tidak mau menghadiri panggilan karena menyadari telah membuat laporan palsu.

“Saya tidak mau lagi datang karena berita tentang anak saya MTA itu bohong, itu tipuan, saya disuruh. Dibuat kami ibaratnya jadi alat untuk lembaga tersebut. Kalau kami tidak mau mengikuti omongan mereka itu, kami dibenci, dikeluarkan dari kampung dan dari serikat,” katanya lagi.

Kekhawatiran dan rasa bersalahnya semakin menjadi, bahkan saat panggilan kedua dari Polisi lewat telpon datang, Marudut pun semakin takut dan memilih melarikan diri ke Jambi.

“Saya takut lalu lari malam ke Jambi. Kenapa saya lari? Karena saya tidak berani mempertanggungjawabkan pengaduan saya, karena pengaduan itu palsu, bohong, tidak benar. Saya lari ke Jambi dan meninggalkan anak saya yang baru lahir, masih berusia satu bulan,” cetusnya.

Selama di Jambi, ia merenungi kesalahan yang mengatakan hal tidak benar dan berbohong kepada semuanya termasuk kepada polisi. Dia menegaskan, kembali terpaksa berbohong karena dorongan oknum tak bertanggungjawab dari salah satu lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi mereka.

“Saya pun berbohong karena dorongan lembaga tersebut, dipaksa orang itu. Sampai di Jambi saya merenungi dan memberitahu istri saya bahwa laporan itu tidak benar, itu semua rekayasa, itu semua tulisan bohong dan saya diajari,” kisahnya.

Satu tahun tiga bulan, Marudut tinggal di Jambi dengan rasa bersalah dan rindu yang luar biasa terhadap istri dan anaknya. Ia akhirnya mengumpulkan keberanian diri untuk kembali ke kampungnya Pematang Sidamanik. Ia paham betul akan konsekuensi yang akan diterima saat pulang ke desa.

Dikucilkan, dihina dan dianggap sebagai penghianat merupakan cap yang menyakitkan akan diterimanya beserta  keluarga. “Saya menyadari bahwa pengaduanku pada pak Bahara Sibuea itu salah dan tidak benar. Lalu saya berniat untuk pulang dan memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. Saya akan sampaikan yang sebenarnya kepada polisi dan penyidik bahwa laporan saya itu palsu. Seperti itulah cerita masalah di 16 September 2019,” ungkapnya.

Tiba di desa, semua yang dibayangkannya benar terjadi, dia dan keluarga besarnya merasakan rasa sakit mendalam terlebih saat salah satu media terang-terangan menjual berita mengenai pemukulan anaknya yang faktanya hanya rekayasa belaka.

Atas pengakuan palsunya itu, ia dengan tegas meminta maaf kepada seluruh media yang turut memberitakan berita bohong tersebut.

“Kenapa saya mau memberikan keterangan palsu, karena dikampung itu kalau saya tidak ikut di lembaga itu, saya dibenci. Bahkan sejak saya pulang awal 2021 hingga sekarang saya dibenci, saya diejek, sakit perasaan saya. Sekali lagi saya tegaskan bahwa anak saya tidak ada dipukul oleh Bahara Sibuea, itu semua rekayasa dan berita bohong,” pungkasnya. 

Sang istri Verawati Silalahi juga angkat bicara. Ia mengakui, gegara pengaduan palsu tersebut selama setahun tiga minggu, dirinya beserta tiga orang anaknya ditinggal suami. "Saya dan tiga orang anak ditinggal selama setahun tiga minggu," ucapnya menahan air mata.