Rizal Ramli: Kami Dan Gus Dur Coba Hilangkan Kecemburuan Sosial

Pemerintahan Presiden Gus Dur walaupun hanya berusia seumur jagung (Oktober 1999-Juli 2001) berupaya keras menghilangkan kecemburuan sosial sebagai warisan dari Reformasi 1998.

Belakangan, tiga tahun terakhir, isu kecemburuan sosial menguap hingga berujung kepada masalah SARA. Hal itu yang disoroti oleh tokoh bangsa Dr. Rizal Ramli saat ini dalam membaca situasi sekarang.

"Saya kira kecemburuan sosial itu cukup besar. 3 tahun terakhir semakin meningkat. Kami, Gus Dur coba menghilangkan isu-isu itu selama memerinya, tapi 3 tahun ini meningkat lagi di bawah permukaan," kata RR biasa disapa di sela-sela diskusi, di kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (29/3).

RR yang saat itu menjadi Menko Ekuin, termasuk dalam kontrol Gus Dur dalam mengatasi permasalahan itu. Hasilnya dinilai sangat optimal sebelum muncul kembali saat ini.

Menurut dia, akar dari kecemburuan sosial itu adalah pemerataan. Jika pemerataan bisa dilaksanakan maka kecemburuan sosial yang berujung pada kerusuhan sosial bisa dicegah.

Namun kondisi saat ini ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang terus merosot, RR pesimis, pemerintah bisa mencegah gejala itu.

"Kita butuh pertumbuhan yang tinggi tidak seperti hari ini hanya 5 persen. Pertumbuhan ekonomi minimal 8 persen per tahun," ungkapnya.

Setelah pertumbuhan diperbaiki, maka tinggal pemerataan yang dilakukan. Artinya pertumbuhan harus disertai dengan keadilan.

"Growth with equality, jadi kalau itu bisa diwujudkan bisa mengurangi kecemburuan itu. Ternyata ada contohnya yang dilakukan di Malaysia dan berhasil," pungkas RR.[R]


Pemerintahan Presiden Gus Dur walaupun hanya berusia seumur jagung (Oktober 1999-Juli 2001) berupaya keras menghilangkan kecemburuan sosial sebagai warisan dari Reformasi 1998.

Belakangan, tiga tahun terakhir, isu kecemburuan sosial menguap hingga berujung kepada masalah SARA. Hal itu yang disoroti oleh tokoh bangsa Dr. Rizal Ramli saat ini dalam membaca situasi sekarang.

"Saya kira kecemburuan sosial itu cukup besar. 3 tahun terakhir semakin meningkat. Kami, Gus Dur coba menghilangkan isu-isu itu selama memerinya, tapi 3 tahun ini meningkat lagi di bawah permukaan," kata RR biasa disapa di sela-sela diskusi, di kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (29/3).

RR yang saat itu menjadi Menko Ekuin, termasuk dalam kontrol Gus Dur dalam mengatasi permasalahan itu. Hasilnya dinilai sangat optimal sebelum muncul kembali saat ini.

Menurut dia, akar dari kecemburuan sosial itu adalah pemerataan. Jika pemerataan bisa dilaksanakan maka kecemburuan sosial yang berujung pada kerusuhan sosial bisa dicegah.

Namun kondisi saat ini ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang terus merosot, RR pesimis, pemerintah bisa mencegah gejala itu.

"Kita butuh pertumbuhan yang tinggi tidak seperti hari ini hanya 5 persen. Pertumbuhan ekonomi minimal 8 persen per tahun," ungkapnya.

Setelah pertumbuhan diperbaiki, maka tinggal pemerataan yang dilakukan. Artinya pertumbuhan harus disertai dengan keadilan.

"Growth with equality, jadi kalau itu bisa diwujudkan bisa mengurangi kecemburuan itu. Ternyata ada contohnya yang dilakukan di Malaysia dan berhasil," pungkas RR.