Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menantang mahasiswa politeknik ikut memikirkan solusi atas berbagai persoalan kota, mulai dari sampah, kemacetan, kemiskinan hingga layanan pendidikan dan kesehatan.
Menurut Rico, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori. Kemampuan riset dan pembelajaran berbasis praktik di kampus harus diarahkan untuk menghasilkan gagasan yang bisa diterapkan di tengah masyarakat.
Hal itu disampaikan Rico saat bertemu peserta Musyawarah Nasional (Munas) Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik se-Indonesia (FKMPI) XXVII di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan, Kamis, 17 September 2026 malam.
Rico menilai kampus merupakan tempat yang tepat bagi mahasiswa untuk menguji gagasan sebelum diterapkan di lapangan.
“Ini inkubasinya yang terbaik adalah di dalam dunia kampus, di mana kita belajar, melakukan riset dan menciptakan solusi di sana,” ujarnya.
Persoalan sampah menjadi salah satu contoh yang disorot Rico. Ia menyebut produksi sampah di Medan mencapai lebih dari 1.500 ton per hari. Menurutnya, persoalan itu tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengangkut sampah ke tempat pemrosesan akhir, tetapi juga membutuhkan pengurangan dan pemilahan sejak dari sumbernya.
Pemko Medan, kata dia, juga tengah menyiapkan pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Terjun. Proyek tersebut ditargetkan mulai dikick-off pada akhir 2026 dan diharapkan dapat diluncurkan pada akhir 2027.
Selain masalah perkotaan, Rico meminta mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Sekarang siapkan diri, siapkan materi pembelajarannya, dan apa yang harus dilakukan. Bagaimana memfasilitasi artificial intelligence tadi ke dalam program-program terbaru,” katanya.
Rico menyebut AI telah berkembang ke berbagai bidang, termasuk kesehatan, ekonomi dan pelayanan publik. Karena itu, mahasiswa dinilai perlu memahami teknologi tersebut sekaligus melihat bagaimana penerapannya dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Pemko Medan juga sedang mengembangkan sistem informasi satu data yang diharapkan dapat membantu memetakan persoalan dan potensi Kota Medan secara lebih terukur.
Pertemuan dengan peserta Munas FKMPI XXVII itu turut diisi pesan agar mahasiswa tidak hanya menjadikan forum organisasi sebagai kegiatan rutin. Rico berharap pengalaman dan gagasan yang diperoleh selama berada di Medan bisa dibawa kembali ke daerah masing-masing.
“Jangan nanti kopi sudah habis, sate Padang sudah habis, durian sudah tersisa tinggal biji-bijinya, Bika Ambon sudah tidak ada lagi, tapi bawa pulangnya tidak ada yang dibawa pulang,” ucapnya. 
