Relevansi Dan Aktualisasi Nilai Islam Kebangsaan Megawati Soekarno Putri

Dalam konteks bernegara, Islam sebagai agama memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai dimensi kehidupan manusia. Islam perlu hadir dalam setiap ranah kehidupan baik spiritual, rasional maupun empirikal. Dalam studi Islam (Islamic studies) sebagian pemikir telah melakukan klasifikasi Islam kepada tiga klaster. Pertama, Islam as a ravival- sebagai wahyu yang mutlak. Kedua, Islam as thought,-tafsir dan pemikiran bersifat dinamis dan terbuka. Ketiga, Islam as a practices,- implementasi ajaran Islam dalam berbagai praktik kehidupan.

Dua klaster terakhir thought dan practices diduga telah memiliki aspek inklusif, elastis dan dinamis, sehingga dapat beradaptasi seiring bergulirnya waktu dan sejarah kehidupan umat manusia di bumi ini (shâlihun likulli jamânin wa makânin). Karena sifatnya yang demikian terbuka dan elastis, siapa saja dengan bermodalkan kegigihan berkontemplasi, merenung, meneliti, berfikir kritis, berbuat dan berkehendak untuk mendorong pembaruan dan perubahan untuk lebih baik akan berpeluang mendapatkan dimensi Islam yang begitu luwes.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, agaknya dapat diduga bahwa apa yang oleh Bung Karno disebut sebagai "Api Islam" adalah dimensi esoteric-progresif ajaran Islam yang menjelma sebagai energi penggerak, pemberi bobot (value) dan pengawal etika pada setiap aspek kehidupan yang mengisi alam jagat raya ini."Api Islam" inilah sesungguhnya yang menjadikan setiap renungan, pemikiran, keputusan, kebijakan dan kerja-kerja seorang muslim menjadi kontributif bagi kemajuan peradaban umat manusia dan seterusnya bagi peradaban dunia.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa Bung Karno telah berhasil meletakkan "Api Islam" -- dalam berbagai kerja-kerja anak bangsa disaat membangun semangat nasionalisme, membangun semangat persatuan dan kesatuan, membangun semangat kebersamaan, membangun semangat bergotong-royong, bekerjasama serta harga menghargai dalam upaya merebut dan mengisi kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Api Islam yang digagas Bung Karno telah menjadi simpulan dari hasil dialog antara wahyu, logika, budaya dan kearifan lokal Indonesia. Bahkan, Api Islam ini dapat dilihat telah menginspirasi bahkan cita-cita masa depan pembangunan Bangsa Indonesia.

Megawati Soekarno Putri adalah salah seorang putri Bung Karno yang dipandang telah mewarisi prestasi-prestasi ayahnya secara lebih komprehensif. Tidak hanya mewarisi unsur-unsur fisik dan biologis, tetapi juga karakter-karakter dan pemikirannya, termasuk tentang bagaimana mendekati Islam, memahaminya dan meletakkannya dalam jantung dan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seperti halnya Bung Karno, Megawati Soekarno Putri mampu melihat Islam pada dimensi yang lebih substantif. Islam dan begitu pun juga agama lain telah hadir di bumi dan meliputi berbagai dimensi dan aspek kehidupan. Islam tidak hadir sebagai "sesuatu yang benar-benar baru" dan terpisah dari alam semesta, melainkan sebagai elan vital, penggerak dan sekaligus sebagai energi yang membuat alam semesta bisa tetap hidup, bertahan, stabil dan dinamis.

Bagi Megawati Soekarno Putri, Islam telah menjelma secara halus sebagai nilai, sistem, etika bahkan aksi pada berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara seperti demokrasi, keadilan, persatuan, kemasyarakatan dan kerakyatan. Islam model inilah yang kemudian dipopulerkan oleh Megawati sebagai Islam Kebangsaan. Wajah Islam yang dapat mengadaptasi alam, budaya, pikiran bahkan cita-cita masa depan Bangsa Indonesia.

Islam dengan titah keseteraaan dan egaliterianisme telah menginspirasiIbu Megawati Soekarno Putri untuk memperjuangkan kesetaraan dalam bidang politikhingga berhasil menghantarakannya sebagai satu-satunya perempuan yang pernah menjadi pemimpin negara Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Aktualisasi "Api IslamKebangsaan" dalam konteks berdemokrasi di Indonesia, telah berhasil mendudukkan keadilan dan kesetaraan sebagai ruhnya. Perbedaan gender telah tidak menjadi persoalan dalam penetapan pemimpin dan dalam kepemimpinan di Indonesia. Keberislaman menjadi sangat substantive, sehingga ajaran agama dan demokrasi menjadi saling mengadaptasi. Ajaran Islam telah menyatu dalam demokrasi Indonesia, sehingga siapa pun yang berhasil menyadari dan mengaktualisasi nilai demokrasi, maka sesungguhnya ia telah ber-Islam jika ia seorang muslim dan damai dan selamat jika ia seorang Kristen atau Nasrani.

Bagi Megawati Soekarno Putri, konstitusi dan Pancasila menjadi harga mati dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia. Penting diingat bahwa konstitusi dan Pancasila bukan "nilai impor" bukan pula "nilai yang diadopsi"--- melainkan nilai yang diperoleh dari integrasi dan kolaborasi-- lahir dari sinkritisasi, sinkronisasi, adaptasi dan sinergitas berbagai aspek kehidupan bangsa dan bernagara di Indonesia.

Konstitusi dan Pancasila telah merupakan "Api Islam" yang lahir dari titik temu agama-agama yang ada di Indonesia pada dimensi esoteris. Keduanya juga telah dibangun dari rajutan-rajutan nilai yang lahir dari titik temu antara agama dengan budaya bangsa melalui kesadaran pluralitas dan inklusivitas. Konstitusi dan Ideologi Pancasila dengan demikian telah lahir dari ruh-nya atau dari fitrahnya Bangsa Indonesia. Bangsa ini akan tetap hidup, berkembang jika ruh ini terjaga dan terpelihara serta lestari meliputi segenap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Stabilitas dan Rasa Persatuan menjadi wujud lain dari "Api Islam" dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Stabilitas keamanan, ketertiban, kemakmuran, kesejahteraan hingga kebahagiaan dan kemuliaan telah menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Bangsa Indonesia lewat merebut dan mengisi kemerdekaan.

Stabilitas ini sendiri hanya dapat diwujudkan jika aspek keadilan dan kesetaraan dapat terpelihara. Keadilan dan kesetaraan sendiri akan lahir dari adanya kesadaran akan kebersamaan, persatuan dan persaudaraan. Kesadaran tersebut sesungguhnya telah lahir dari ajaran agama, khususnya ketika agama sedang berhadapan dengan berbagai aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan begitu, penegakan kesadaran ini sesungguhnya merupakan wujud dari adanya kesadaran religiusitas pada dimensinya yang lebih dalam. Megawati dalam beberapa pidatonya kerap mendorong agar agama ditampilkan dan disampaikan dalam wajahnya yang ramah: ramah atas keberagaman agama, suku, budaya, gender, kelas dan seterusnya. Bagi Megawati, bangsa kita dibangun dan telah berdiri secara abadi sebagai bangsa karena dibangun di atas keragaman yang kita miliki. Begitupun Islam dan agama apa pun yang ada di Indonesia, harus hadir dan mampu mengadaptasi keragaman-keragaman tersebut agar dapat bersinergi dengan agenda-agenda kebangsaan.

Kesadaran atas keberagaman ini menjadi modal membangun persatuan yang seterusnya melahirkan rasa kebersamaan dan kepedulian. Persatuan, kebersamaan dan kepedulian adalah konsep-konsep yang murni dan universal sehingga dapat diaktualisasikan lintas suku, lintas kelas dan bahkan lintas agama. Megawati dalam beberapa pidatonya kerap menekankan agar kualitas rasa keadilan, rasa kepedulian tidak boleh terjebak dalam logika diskrimansi baik budaya, suku maupun agama.

Aspek-aspek inilah yang agaknya telah dapat diwujudkan oleh Ibu Megawati Soekarno Putri dalam kehidupan, perjuangan dan kepemimpinannya baik sebagai Politisi PDIP, sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-5 dan sebagai salah seorang Ibu Bangsa. Prestasi dan jasa besar inilah kemudian yang mendorong UIN Sumatera Utara, memandang penting mengapresiasinya dengan merencanakan akan menganugerahkan gelar doktor honoris causa dalam bidang Islam  Kebangsaan kepada Ibu Megawati Soekarno Putri.[R]

Oleh : TGS Prof Dr KH Saidurrahman M.Ag (Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)


Dalam konteks bernegara, Islam sebagai agama memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai dimensi kehidupan manusia. Islam perlu hadir dalam setiap ranah kehidupan baik spiritual, rasional maupun empirikal. Dalam studi Islam (Islamic studies) sebagian pemikir telah melakukan klasifikasi Islam kepada tiga klaster. Pertama, Islam as a ravival- sebagai wahyu yang mutlak. Kedua, Islam as thought,-tafsir dan pemikiran bersifat dinamis dan terbuka. Ketiga, Islam as a practices,- implementasi ajaran Islam dalam berbagai praktik kehidupan.

Dua klaster terakhir thought dan practices diduga telah memiliki aspek inklusif, elastis dan dinamis, sehingga dapat beradaptasi seiring bergulirnya waktu dan sejarah kehidupan umat manusia di bumi ini (shâlihun likulli jamânin wa makânin). Karena sifatnya yang demikian terbuka dan elastis, siapa saja dengan bermodalkan kegigihan berkontemplasi, merenung, meneliti, berfikir kritis, berbuat dan berkehendak untuk mendorong pembaruan dan perubahan untuk lebih baik akan berpeluang mendapatkan dimensi Islam yang begitu luwes.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, agaknya dapat diduga bahwa apa yang oleh Bung Karno disebut sebagai "Api Islam" adalah dimensi esoteric-progresif ajaran Islam yang menjelma sebagai energi penggerak, pemberi bobot (value) dan pengawal etika pada setiap aspek kehidupan yang mengisi alam jagat raya ini."Api Islam" inilah sesungguhnya yang menjadikan setiap renungan, pemikiran, keputusan, kebijakan dan kerja-kerja seorang muslim menjadi kontributif bagi kemajuan peradaban umat manusia dan seterusnya bagi peradaban dunia.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa Bung Karno telah berhasil meletakkan "Api Islam" -- dalam berbagai kerja-kerja anak bangsa disaat membangun semangat nasionalisme, membangun semangat persatuan dan kesatuan, membangun semangat kebersamaan, membangun semangat bergotong-royong, bekerjasama serta harga menghargai dalam upaya merebut dan mengisi kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Api Islam yang digagas Bung Karno telah menjadi simpulan dari hasil dialog antara wahyu, logika, budaya dan kearifan lokal Indonesia. Bahkan, Api Islam ini dapat dilihat telah menginspirasi bahkan cita-cita masa depan pembangunan Bangsa Indonesia.

Megawati Soekarno Putri adalah salah seorang putri Bung Karno yang dipandang telah mewarisi prestasi-prestasi ayahnya secara lebih komprehensif. Tidak hanya mewarisi unsur-unsur fisik dan biologis, tetapi juga karakter-karakter dan pemikirannya, termasuk tentang bagaimana mendekati Islam, memahaminya dan meletakkannya dalam jantung dan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seperti halnya Bung Karno, Megawati Soekarno Putri mampu melihat Islam pada dimensi yang lebih substantif. Islam dan begitu pun juga agama lain telah hadir di bumi dan meliputi berbagai dimensi dan aspek kehidupan. Islam tidak hadir sebagai "sesuatu yang benar-benar baru" dan terpisah dari alam semesta, melainkan sebagai elan vital, penggerak dan sekaligus sebagai energi yang membuat alam semesta bisa tetap hidup, bertahan, stabil dan dinamis.

Bagi Megawati Soekarno Putri, Islam telah menjelma secara halus sebagai nilai, sistem, etika bahkan aksi pada berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara seperti demokrasi, keadilan, persatuan, kemasyarakatan dan kerakyatan. Islam model inilah yang kemudian dipopulerkan oleh Megawati sebagai Islam Kebangsaan. Wajah Islam yang dapat mengadaptasi alam, budaya, pikiran bahkan cita-cita masa depan Bangsa Indonesia.

Islam dengan titah keseteraaan dan egaliterianisme telah menginspirasiIbu Megawati Soekarno Putri untuk memperjuangkan kesetaraan dalam bidang politikhingga berhasil menghantarakannya sebagai satu-satunya perempuan yang pernah menjadi pemimpin negara Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Aktualisasi "Api IslamKebangsaan" dalam konteks berdemokrasi di Indonesia, telah berhasil mendudukkan keadilan dan kesetaraan sebagai ruhnya. Perbedaan gender telah tidak menjadi persoalan dalam penetapan pemimpin dan dalam kepemimpinan di Indonesia. Keberislaman menjadi sangat substantive, sehingga ajaran agama dan demokrasi menjadi saling mengadaptasi. Ajaran Islam telah menyatu dalam demokrasi Indonesia, sehingga siapa pun yang berhasil menyadari dan mengaktualisasi nilai demokrasi, maka sesungguhnya ia telah ber-Islam jika ia seorang muslim dan damai dan selamat jika ia seorang Kristen atau Nasrani.

Bagi Megawati Soekarno Putri, konstitusi dan Pancasila menjadi harga mati dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia. Penting diingat bahwa konstitusi dan Pancasila bukan "nilai impor" bukan pula "nilai yang diadopsi"--- melainkan nilai yang diperoleh dari integrasi dan kolaborasi-- lahir dari sinkritisasi, sinkronisasi, adaptasi dan sinergitas berbagai aspek kehidupan bangsa dan bernagara di Indonesia.

Konstitusi dan Pancasila telah merupakan "Api Islam" yang lahir dari titik temu agama-agama yang ada di Indonesia pada dimensi esoteris. Keduanya juga telah dibangun dari rajutan-rajutan nilai yang lahir dari titik temu antara agama dengan budaya bangsa melalui kesadaran pluralitas dan inklusivitas. Konstitusi dan Ideologi Pancasila dengan demikian telah lahir dari ruh-nya atau dari fitrahnya Bangsa Indonesia. Bangsa ini akan tetap hidup, berkembang jika ruh ini terjaga dan terpelihara serta lestari meliputi segenap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Stabilitas dan Rasa Persatuan menjadi wujud lain dari "Api Islam" dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Stabilitas keamanan, ketertiban, kemakmuran, kesejahteraan hingga kebahagiaan dan kemuliaan telah menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Bangsa Indonesia lewat merebut dan mengisi kemerdekaan.

Stabilitas ini sendiri hanya dapat diwujudkan jika aspek keadilan dan kesetaraan dapat terpelihara. Keadilan dan kesetaraan sendiri akan lahir dari adanya kesadaran akan kebersamaan, persatuan dan persaudaraan. Kesadaran tersebut sesungguhnya telah lahir dari ajaran agama, khususnya ketika agama sedang berhadapan dengan berbagai aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan begitu, penegakan kesadaran ini sesungguhnya merupakan wujud dari adanya kesadaran religiusitas pada dimensinya yang lebih dalam. Megawati dalam beberapa pidatonya kerap mendorong agar agama ditampilkan dan disampaikan dalam wajahnya yang ramah: ramah atas keberagaman agama, suku, budaya, gender, kelas dan seterusnya. Bagi Megawati, bangsa kita dibangun dan telah berdiri secara abadi sebagai bangsa karena dibangun di atas keragaman yang kita miliki. Begitupun Islam dan agama apa pun yang ada di Indonesia, harus hadir dan mampu mengadaptasi keragaman-keragaman tersebut agar dapat bersinergi dengan agenda-agenda kebangsaan.

Kesadaran atas keberagaman ini menjadi modal membangun persatuan yang seterusnya melahirkan rasa kebersamaan dan kepedulian. Persatuan, kebersamaan dan kepedulian adalah konsep-konsep yang murni dan universal sehingga dapat diaktualisasikan lintas suku, lintas kelas dan bahkan lintas agama. Megawati dalam beberapa pidatonya kerap menekankan agar kualitas rasa keadilan, rasa kepedulian tidak boleh terjebak dalam logika diskrimansi baik budaya, suku maupun agama.

Aspek-aspek inilah yang agaknya telah dapat diwujudkan oleh Ibu Megawati Soekarno Putri dalam kehidupan, perjuangan dan kepemimpinannya baik sebagai Politisi PDIP, sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-5 dan sebagai salah seorang Ibu Bangsa. Prestasi dan jasa besar inilah kemudian yang mendorong UIN Sumatera Utara, memandang penting mengapresiasinya dengan merencanakan akan menganugerahkan gelar doktor honoris causa dalam bidang Islam  Kebangsaan kepada Ibu Megawati Soekarno Putri.

Oleh : TGS Prof Dr KH Saidurrahman M.Ag (Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)