Rektor UIN Sumut Bertemu Mahasiswa Peserta Aksi Mogok Makan, Ini Klarifikasinya Soal Dugaan Plagiarisme

Mahasiswa usai bertemu rektor UINSU/Ist
Mahasiswa usai bertemu rektor UINSU/Ist

Setelah tiga hari menggelar aksi mogok makan, sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan Komite Mahasiswa Anti Plagiasi UINSU (Komanpu), akhirnya diterima dan berdialog langsung dengan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara (Sumut) Prof Dr Syahrin Harahap.


Hal ini terjadi setelah dimediasi oleh Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN Sumut Yose Rizal Saragih.

Pertemuan tersebut terjadi pada Rabu malam (31/3/2021) sekira pukul 21.15 WIB di ruang Rektor yang juga dihadiri Wakil Rektor III Nispul Khair, WD III FIS Yose Rizal Saragih, WD III Fak. Syariah dan Hukum Arifuddin.

Koordinator aksi Irham Sadani kepada wartawan usai pertemuan menyatakan, pertemuan mereka dengan rektor untuk meminta klarifikasi atas adanya tekanan dan ancaman dari unsur pimpinan di UIN Sumut bahwa mahasiswa yang melakukan aksi demo bisa terancam di drop out (DO).

Disebutkannya, rektor sangat respon atas apa yang mereka sampaikan. Bahkan, atas nama pimpinan tertinggi UIN Sumut, rektor  menyampaikan permohonan maaf jika ada tindakan dari bawahannya baik WR maupun WD, yang terkesan menekan mahasiswa yang berunjuk rasa. 

Terkait tuntutan mereka tentang dugaan plagiasi, sebut Irham, mereka meminta agar dibentuk tim independen untuk memeriksanya. Jika dugaan itu benar tentu harus ada sanksinya. Tapi jika ternyata dugaan itu tidak benar, maka nama baik rektor harus dipulihkan dari segala tuduhan plagiasi. 

"Kami siap melawan serta pasang badan untuk membela rektor dari pihak-pihak yang ingin menjelekkan rektor dan UIN Sumut, jika dugaan itu ternyata tidak benar. Kami tidak ingin UIN Sumut jelek diluar," ujar Irham.

Rektor UIN Sumut Prof Syahrin Harahap di kesempatan yang sama menyatakan, ia menghargai aspirasi yang disampaikan oleh mahasiswanya, yang ia nilai sebagai wujud kepedulian untuk kemajuan UIN Sumut yang memiliki motto sebagai 'UIN Kita'.

"Mereka mahasiswa yang cerdas. Sangat dibutuhkan UIN untuk kemajuan Islam, dan saya berharap mereka bisa menjadi calon-calon pemimpin hebat di masa depan. Apa yang mereka sampaikan adalah bentuk idealisme yang tinggi, tanpa ditunggangi siapapun, itu mesti dihargai. Dan jika ada orang yang ingin menunggangi mereka, tentu itu tindakan tidak terpuji," ujar Prof Syahrin.

Saat ditanyakan tentang tuntutan mahasiswa terkait dugaan plagiasi, Prof Syahrin menyampaikan bahwa plagiasi tidak pernah terjadi seperti yang dituduhkan kepadanya.

"Plagiasi tidak pernah terjadi, makalah berjudul 'The Image of Indonesia in the world: An Interreligious Perspective' itu  saya yang menulis, diterjemahkan oleh teman saya, dan saya sampaikan di UTE University serta diterbitkan oleh majalah Hubungan Internasional Jerman," sebutnya.

Dugaan plagiasi itu mengemuka, jelasnya, setelah ada orang lain yang menyebut makalah itu sebagai milik dua penulis, dan orang yang mengklaim sebagai penulis lainnya telah menyampaikan makalah itu di dalam negeri, tanpa sepengetahuannya. Padahal sebenarnya makalah itu adalah miliknya.

"Tapi ini pun bukanlah masalah prinsipil, karena di dua makalah itu, baik yang terbit di dalam negeri maupun di luar negeri, tetap nama saya tercantum sebagai penulis. Terlalu mahal martabat UIN Sumut diganggu hanya karena masalah ini," tegas Syahrin.

Karenanya, ia meminta semua pihak untuk menghentikan memainkan isu ini sebagai isu plagiasi, karena hanya akan merusak citra UIN Sumut dimata masyarakat. Menurutnya, tidak ada yang perlu dipersoalkan dalam hal ini, karena ini adalah urusan antara dirinya dengan temannya.

"Masih banyak persoalan lain yang perlu kita benahi untuk memajukan UIN Sumut sebagai 'UIN Kita'. Dan saya mengajak semua yang terlibat di UIN Sumut untuk bersama-sama mewujudkannya," imbuhnya.