Ramli dan Ramlan Yatim Diabadikan Jadi Nama Jalan Di Kawasan Kota Matsum Medan, Siapa Mereka?

Ramli dan Ramlan Yatim/Net
Ramli dan Ramlan Yatim/Net

Jika kita berkunjung ke Kelurahan Kota Matsum III, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan. Maka di sana kita bisa menemukan jalan Ramli dan Ramlan Yatim.  


Kedua jalan tersebut terletak dekat salah satu ikon Kota Medan, yakni Masjid Raya Al Mashun Medan.

Siapa mereka sehingga namanya diabadikan menjadi jalan di Kota Medan?

Seorang pengamat dan pemerhati PSMS, Indra Efendi Rangkuti dalam tulisannya menjelaskan mengenai sepak terjang abang beradik yang pernah menghuni Timnas Sepak Bola Indonesia itu.

Ramli Yatim lahir di Tebing Tinggi 12 Juli 1921 adalah legenda PSMS Medan dan Timnas Indonesia. Putra Tebing Tinggi ini mulai mengenal sepakbola di lapangan perkebunan Matapao bersama adiknya Ramlan Yatim. Bakat hebatnya kemudian menghantarkan dirinya ke kota Medan dan memulai karirnya di klub Medan Putera, kemudian Ramli pindah jadi pemain klub PO Polisi Medan. Setelah itu ia direkrut sebagai pemain utama PSMS Medan, yang kemudian mengorbitkan namanya ke Timnas.

Pecinta sepak bola era milenium  mungkin menganggap Bambang Pamungkas sebagai sosok striker jago sundul di Indonesia. Jauh sebelum Bepe, nama Ramli Yatim sudah di kenal di Asia dan bahkan Eropa. Sundulan mautnya mengantarkan Sumut menjuarai PON III pada 1953 di Medan, setelah beberapa kali membobol gawang DKI di final.

Kiper terkenal dari Austria, GAK Graz yang bertandang ke Medan, juga di buat kaget ketika bola setengah badan dari Jusuf Siregar, beberapa meter dari depan gawang GAK Graz, di sambar Ramli dengan sundulan sambil terbang. Dan bola pun bersarang di jala GAK Graz.

Begitu pun ketika klub asal Swiss, Grasshoppers bertandang ke Medan. Bukan harus menelan pil pahit kalah 4-2 dari PSMS, tetapi penjaga gawang Grasshoppers di buat geleng-gelang kepala oleh Ramli. Bola crosing Sjamsudin di sundul sambil memutar badan olehnya.

Gawang Jerman Timur juga pernah di buat bergetar oleh sundulan maut Ramli dalam sebuah laga friendly, ketika PSSI tour ke Eropa. Namun akhirnya PSSI harus mengakui keunggulan tim Panser, PSSI kalah 1-3 dari Jertim. Gol tersebut mencatatkan namanya sebagai pemain Indonesia terakhir yang membobol jala Jerman.

Salah satu kelebihannya yang sulit ditiru adalah kemampuannya menyundul bola dengan bagian belakang kepala dan mampu menjadi gol.Kemampuannya ini sempat membuat Tony Pogacknick geleng geleng kepala karena beresiko membuat "gila" tapi Ramli Yatim mampu menunjukkan kualitasnya.

Sulit mencari penerusnya di Medan.Kemampuannya menyundul bola bisa diteruskan oleh bintang PSMS dan Timnas berdarah India Tumsila hingga dijuluki "Si Kepala Emas" dan secara kebetulan Ramli Yatim sempat melatih Tumsila di PSMS.Demikian juga dengan striker PSMS era akhir 50-an dan awal 60-an Azis Tanjung yang punya sundulan maut dan pernah main bareng dengan Ramli Yatim di PSMS pada penghujung karir Ramli Yatim di PSMS.                  

Sebagai pemain Ramli Yatim sukses membawa PSMS meraih kemenangan melawan tim tim besar Eropa dan Asia hingga dijuluki "The Killer" dan sukses membawa Tim PON Sumut meraih Emas PON 1953 dan 1957. Bersama Timnas Ramli Yatim membawa Indonesia lolos ke Olimpyade Melbourne 1956, membawa Indonesia lolos ke Semifinal Asian Games 1954 dan membawa Indonesia meraih perunggu di Asian Games 1958.

Sesudah pensiun sebagai pemain Ramli Yatim melanjutkan karirnya di PSMS Medan sebagai pelatih dan wasit. Sebagai pelatih Ramli Yatim membawa PSMS Jr Juara Suratin Cup 1967.Dari ajang ini Ramli Yatim sukses melahirkan beberapa pemain yang kelak jadi Legenda PSMS dan Timnas seperti Ronny Pasla, Sarman Panggabean, Tumsila, Wibisono dan Nobon.

Kemudian bersama Yusuf Siregar keduanya sukses membawa PSMS untuk pertama kalinya meraih Juara Kejurnas PSSI 1967 dan membawa PSMS Juara Aga Khan Gold Cup 1967.Pada 1969 Ramli Yatim membawa PSMS Juara Kejurnas PSSI 1969 dan membawa im PON Sumut meraih Medali Emas PON 1969. 

Keberhasilan ini membuat Ramli Yatim mencatat sejarah sebagai pesepakbola pertama yang meraih Emas di PON sebagai Pemain dan Pelatih.  

Tangan dingin Ramli Yatim pula yang kemudian sukses membawa PSMS yang dikapteni Soetjipto Soentoro sukses lolos hingga Semifinal AFC Champions Cup 1970 di Teheran. Ramli Yatim wafat pada 10 November 1997. Kini namanya bersama adiknya Ramlan Yatim dijadikan nama jalan di Medan.