Program Kuliah Magang Taiwan Rugikan Mahasiswa Indonesia

Menanggapi isu yang berkembang di media massa dan masyarakat Indonesia, mengenai kuliah magang Taiwan yang semakin jauh dari substansi, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan telah melakukan observasi sejak awal 2018.

Berdasarkan fakta yang diperoleh banyak implementasi di lapangan yang tidak sesuai dengan perjanjian, seperti permasalahan proses rekrutmen oleh pihak ketiga, institusi dan sistem pendidikan yang menerapkan magang/kerja yang melebihi persentase, serta sistem pembiayaan kuliah sistem magang/kerja industri.

"Adanya variasi yang sangat besar dari pembiayaan keberangkatan yang ditetapkan oleh pihak ketiga, yaitu 10jt s/d 40jt. Biaya tersebut diantaranya digunakan untuk persiapan bahasa/matrikulasi, pengurusan dokumen, dan pemberangkatan. Namun, calon mahasiswa tidak mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai komponen pembiayaan tersebut. Hal ini menunjukkan pihak ketiga menetapkan pembiayaan dengan seenaknya dan tidak terkontrol", kata Sutarsis ketua PPI Taiwan melalui keterangannya.

Secara umum program kuliah magang atau dikenal double track, atau industry academia collaboration merupakan pendidikan tinggi strata D3 dan S1 yang dirancang dengan sistem pembelajaran kuliah kelas, praktek, dan magang/kerja industri. Dengan 128 sks untuk D3 dan 144 sks untuk S1.

Jumlah total sks yang harus diambil termasuk didalamnya komponen sebagai berikut; teori, praktek, dan magang/kerja industri. Sebagai contoh gambaran 128 sks strata D3 terdiri dari 36 sks teori, 29 sks praktek, dan sisa sks adalah magang industri dengan bobot 5 jam kerja= 1 sks.

"Namun kenyataan di lapangan terlihat bahwa porsi magang/kerja menempati prosentase melebihi 50% dari total sks yang harus ditempuh, apalagi terdapat universitas yang mewajibkan kerja part time diluar SKS yang terhitung, ungkap Sutarsis.

Pelaksanaan program magang dikendalikan oleh agen taiwan atau universitas tempat studi. Dibeberapa universitas, aturan durasi kerja dan hari pelaksanaan magang industri sering tidak konsisten dan berubah sehingga sering mengganggu proses pembelajaran terutama belajar mandiri.

"Di beberapa universitas, penggaturan kepastian tempat dan jadwal magang industri belum begitu baik. Ditemukan Banyak mahasiswa yang mengganggur dalam kurun waktu yang lama secara berurutan (3 bulan) dengan menanggung biaya (biaya asrama, biaya cicilan kuliah)", ucapnya.

Menurut PPI Taiwan, dengan jumlah mahasiswa yang semakin bertambah (saat ini ada lebih dari 6000 pelajar di Taiwan) dengan berbagai dinamika permasalahan yang dihadapi, sudah selayaknya dipertimbangkan untuk adanya staff pendidikan yang setara dengan Atase untuk membantu pemerintah mengelola, memonitoring, dan mengevaluasi program-program kerjasama yang ditawarkan antara Indonesia dan Taiwan.

https://ppitaiwan.org/2019/01/07/press-release-realita-program-kuliah-magang-s1-d3-taiwan-kepada-masyarakat-indonesia/ [rtw]

Menanggapi isu yang berkembang di media massa dan masyarakat Indonesia, mengenai kuliah magang Taiwan yang semakin jauh dari substansi, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan telah melakukan observasi sejak awal 2018.

Berdasarkan fakta yang diperoleh banyak implementasi di lapangan yang tidak sesuai dengan perjanjian, seperti permasalahan proses rekrutmen oleh pihak ketiga, institusi dan sistem pendidikan yang menerapkan magang/kerja yang melebihi persentase, serta sistem pembiayaan kuliah sistem magang/kerja industri.

"Adanya variasi yang sangat besar dari pembiayaan keberangkatan yang ditetapkan oleh pihak ketiga, yaitu 10jt s/d 40jt. Biaya tersebut diantaranya digunakan untuk persiapan bahasa/matrikulasi, pengurusan dokumen, dan pemberangkatan. Namun, calon mahasiswa tidak mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai komponen pembiayaan tersebut. Hal ini menunjukkan pihak ketiga menetapkan pembiayaan dengan seenaknya dan tidak terkontrol", kata Sutarsis ketua PPI Taiwan melalui keterangannya.

Secara umum program kuliah magang atau dikenal double track, atau industry academia collaboration merupakan pendidikan tinggi strata D3 dan S1 yang dirancang dengan sistem pembelajaran kuliah kelas, praktek, dan magang/kerja industri. Dengan 128 sks untuk D3 dan 144 sks untuk S1.

Jumlah total sks yang harus diambil termasuk didalamnya komponen sebagai berikut; teori, praktek, dan magang/kerja industri. Sebagai contoh gambaran 128 sks strata D3 terdiri dari 36 sks teori, 29 sks praktek, dan sisa sks adalah magang industri dengan bobot 5 jam kerja= 1 sks.

"Namun kenyataan di lapangan terlihat bahwa porsi magang/kerja menempati prosentase melebihi 50% dari total sks yang harus ditempuh, apalagi terdapat universitas yang mewajibkan kerja part time diluar SKS yang terhitung, ungkap Sutarsis.

Pelaksanaan program magang dikendalikan oleh agen taiwan atau universitas tempat studi. Dibeberapa universitas, aturan durasi kerja dan hari pelaksanaan magang industri sering tidak konsisten dan berubah sehingga sering mengganggu proses pembelajaran terutama belajar mandiri.

"Di beberapa universitas, penggaturan kepastian tempat dan jadwal magang industri belum begitu baik. Ditemukan Banyak mahasiswa yang mengganggur dalam kurun waktu yang lama secara berurutan (3 bulan) dengan menanggung biaya (biaya asrama, biaya cicilan kuliah)", ucapnya.

Menurut PPI Taiwan, dengan jumlah mahasiswa yang semakin bertambah (saat ini ada lebih dari 6000 pelajar di Taiwan) dengan berbagai dinamika permasalahan yang dihadapi, sudah selayaknya dipertimbangkan untuk adanya staff pendidikan yang setara dengan Atase untuk membantu pemerintah mengelola, memonitoring, dan mengevaluasi program-program kerjasama yang ditawarkan antara Indonesia dan Taiwan.

https://ppitaiwan.org/2019/01/07/press-release-realita-program-kuliah-magang-s1-d3-taiwan-kepada-masyarakat-indonesia/ [rtw]