Prabowo, Porsi Politik Dan Dunia Akhirat

PERTEMUAN Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi isu sentral terkini setelah sebelumnya pertemuan antara Prabowo dengan Jokowi. Pertemuan Prabowo dengan Jokowi sesungguhnya telah memunculkan narasi-narasi kekecewaan bagi pihak yang mengklaim diri sebagai pendukungnya pada Pilpres 2019 lalu. Pertemuan yang secara adat ketimuran ini bisa saja disebut sebagai bagian dari silaturahmi ini menurut mereka seharusnya tidak terjadi. Karena dari sisi politik ada juga yang menyebut ini bukan sekedar menjaga silaturahmi tapi justru sebagai bentuk pengakuan atas kekalahan di agenda politik 5 tahunan tersebut.

Hemat saya, Prabowo merupakan sosok yang harus diacungi jempol. Pertemuan dengan Jokowi dan Megawati yang dilakukan pada dua momen berbeda ini merupakan bukti bahwa Prabowo adalah orang yang bijaksana yang menempatkan porsi politik di ranah politik. Tidak lebih. Apalagi menempatkan politik sebagai urusan dan 'jalan' memuluskan langkah menunju akhirat atau sebut sajalah urusan Surga dan Neraka. Dua sisi yang 'digoreng' sedemikian rupa pada Pilpres 2019 lalu.

Saya tentu tidak akan membahas apa yang menjadi agenda politik dibalik pertemuan tersebut. Karena ujung-ujungnya tetap akan berkaitan dengan tujuan dari politik itu sendiri yang garis besarnya untuk mendapatkan kekuasaan.

Sekali lagi, Prabowo harus diacungi Jempol. Karena lewat agenda pertemuan itu juga, ia memberikan pelajaran penting bagi siapa saja termasuk para 'penggoreng' yang mencampur bumbu politik dengan dunia akhirat itu, bahwa keduanya merupakan bumbu yang tidak dapat disatupadukan sekaligus. Karena kalau disatupadukan, maka akan muncul narasi kekecewaan. Politik bukan jalan menuju surga tapi jalan mendapat kekuasaan. Hal yang mungkin sering terlupakan.

Selamat Pak Prabowo, anda menempatkan porsi politik tepat dan sesuai dengan takarannya.***


PERTEMUAN Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi isu sentral terkini setelah sebelumnya pertemuan antara Prabowo dengan Jokowi. Pertemuan Prabowo dengan Jokowi sesungguhnya telah memunculkan narasi-narasi kekecewaan bagi pihak yang mengklaim diri sebagai pendukungnya pada Pilpres 2019 lalu. Pertemuan yang secara adat ketimuran ini bisa saja disebut sebagai bagian dari silaturahmi ini menurut mereka seharusnya tidak terjadi. Karena dari sisi politik ada juga yang menyebut ini bukan sekedar menjaga silaturahmi tapi justru sebagai bentuk pengakuan atas kekalahan di agenda politik 5 tahunan tersebut.

Hemat saya, Prabowo merupakan sosok yang harus diacungi jempol. Pertemuan dengan Jokowi dan Megawati yang dilakukan pada dua momen berbeda ini merupakan bukti bahwa Prabowo adalah orang yang bijaksana yang menempatkan porsi politik di ranah politik. Tidak lebih. Apalagi menempatkan politik sebagai urusan dan 'jalan' memuluskan langkah menunju akhirat atau sebut sajalah urusan Surga dan Neraka. Dua sisi yang 'digoreng' sedemikian rupa pada Pilpres 2019 lalu.

Saya tentu tidak akan membahas apa yang menjadi agenda politik dibalik pertemuan tersebut. Karena ujung-ujungnya tetap akan berkaitan dengan tujuan dari politik itu sendiri yang garis besarnya untuk mendapatkan kekuasaan.

Sekali lagi, Prabowo harus diacungi Jempol. Karena lewat agenda pertemuan itu juga, ia memberikan pelajaran penting bagi siapa saja termasuk para 'penggoreng' yang mencampur bumbu politik dengan dunia akhirat itu, bahwa keduanya merupakan bumbu yang tidak dapat disatupadukan sekaligus. Karena kalau disatupadukan, maka akan muncul narasi kekecewaan. Politik bukan jalan menuju surga tapi jalan mendapat kekuasaan. Hal yang mungkin sering terlupakan.

Selamat Pak Prabowo, anda menempatkan porsi politik tepat dan sesuai dengan takarannya.***