Polisi Tidak Mau Buru-Buru Simpulkan Joko Driyono Sebagai Otak Mafia Sepak Bola

Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono diduga memiliki peran penting dalam dunia sepak bola Indonesia termasuk aktivitas mafia di dalamnya. Kendati demikian, Satuan Tugas (Satgas) Mafia Bola Mabes Polri belum mau menyimpulkan Joko Driyono sebagai otak mafia sepak bola Indonesia.

"Terlalu sumir. Kecepetan (menyimpulkan Joko Driyono sebagai otak mafia sepak bola)," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (19/2).

Kendati demikian, lanjut Brigjen Dedi, peran Joko Driyono dalam kancah pesepakbolaan nasional bisa saja mengatur jadwal bahkan perangkat pertandingan seperti wasit dan official lainya.

Joko Driyono resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Satgas karena terbukti sebagai otak pengerusakan alat bukti. Pria yang lama bergelut dengan sepak bola Indonesia itu menyuruh tiga anak buahnya untuk mengambil Laptop, HP dan beberapa dokumen di kantor PSSI yang telah diberi garis polisi.

Satgas Anti Mafia Bola Polri telah menetapkan 15 tersangka dalam kasus ini. Terdiri dari 11 orang penyelenggara pertandingan yaitu wasit dan pengurus PSSI, 4 orang perusak barang bukti dan termasuk Plt Ketum PSSI Joko Driyono.

Sementara, dari unsur pengurus klub baru satu orang yaitu Vigit Waluyo yang sempat mengelola PS Mojokerto Putra, PSS Sleman dan PS Kalteng Putra.

Dan 11 tersangka lainya berasal dari Komite Eksekutif (exco) diantaranya, Johar Lin Eng, Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, anggota Komisi Disiplin Dwi Irianto alias Mbah Putih. Juga mantan anggota Komite Wasit Priyanto, anak Priyanto Anik Yuni Artika Sari.

Selanjutnya wasit Persibara melawan Persekabpas Nurul Safarid, mantan penanggungjawab PSMP Vigit Waluyo, Direktur Penugasan Wasit PSSI Mansur Lestaluhu, empat perangkat pertandingan Persibara lawan Persekabpas dengan inisial P, CH, NR, dan DS.

Sementara tersangka kasus perusakan barang bukti perkara pengaturan skor adalah Muhammad Mardani Mogot (sopir Joko Driyono), Musmuliadi (OB di PT Persija), Abdul Gofur (OB di PSSI) dan terakhir Joko Driyono, yang disebut sebagai aktor intelektual.[R]


Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono diduga memiliki peran penting dalam dunia sepak bola Indonesia termasuk aktivitas mafia di dalamnya. Kendati demikian, Satuan Tugas (Satgas) Mafia Bola Mabes Polri belum mau menyimpulkan Joko Driyono sebagai otak mafia sepak bola Indonesia.

"Terlalu sumir. Kecepetan (menyimpulkan Joko Driyono sebagai otak mafia sepak bola)," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (19/2).

Kendati demikian, lanjut Brigjen Dedi, peran Joko Driyono dalam kancah pesepakbolaan nasional bisa saja mengatur jadwal bahkan perangkat pertandingan seperti wasit dan official lainya.

Joko Driyono resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Satgas karena terbukti sebagai otak pengerusakan alat bukti. Pria yang lama bergelut dengan sepak bola Indonesia itu menyuruh tiga anak buahnya untuk mengambil Laptop, HP dan beberapa dokumen di kantor PSSI yang telah diberi garis polisi.

Satgas Anti Mafia Bola Polri telah menetapkan 15 tersangka dalam kasus ini. Terdiri dari 11 orang penyelenggara pertandingan yaitu wasit dan pengurus PSSI, 4 orang perusak barang bukti dan termasuk Plt Ketum PSSI Joko Driyono.

Sementara, dari unsur pengurus klub baru satu orang yaitu Vigit Waluyo yang sempat mengelola PS Mojokerto Putra, PSS Sleman dan PS Kalteng Putra.

Dan 11 tersangka lainya berasal dari Komite Eksekutif (exco) diantaranya, Johar Lin Eng, Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, anggota Komisi Disiplin Dwi Irianto alias Mbah Putih. Juga mantan anggota Komite Wasit Priyanto, anak Priyanto Anik Yuni Artika Sari.

Selanjutnya wasit Persibara melawan Persekabpas Nurul Safarid, mantan penanggungjawab PSMP Vigit Waluyo, Direktur Penugasan Wasit PSSI Mansur Lestaluhu, empat perangkat pertandingan Persibara lawan Persekabpas dengan inisial P, CH, NR, dan DS.

Sementara tersangka kasus perusakan barang bukti perkara pengaturan skor adalah Muhammad Mardani Mogot (sopir Joko Driyono), Musmuliadi (OB di PT Persija), Abdul Gofur (OB di PSSI) dan terakhir Joko Driyono, yang disebut sebagai aktor intelektual.