Polisi Tangkap Pemalsu  Hasil PCR di Bandara Kualanamu 

Ilustrasi tes PCR/Net
Ilustrasi tes PCR/Net

     Polisi menangkap seorang warga bernama Ahmad dalam kasus dugaan pemalsuan hasil test PCR di Bandara Kualanamu.


Saat ini pelaku masih menjalani pemeriksaan.

      

Wakapolresta Deli Serdang, AKBP P Julianto Sirait mengatakan, kasus ini terungkap pada Selasa (19/10/2021), sekitar pukul 15.00 WIB, di areal terminal lantai 2 Bandara Kualanamu. 

     

Awalnya pihak bandara, memeriksa test PCR salah seorang penumpang bandara bernama Desri Natalia Sinaga.

     

“Desri diamankan karena memperlihatkan surat hasil pemeriksaan PCR test yang diduga palsu,” ujar Julianto, saat paparan di Mapolresta Deli Serdang,Jum’at (22/10)

     

Saat diintrogasi Desri mengatakan, surat itu berasal dari Klinik Jemadi dan dia melakukan PCR  pada Senin (18/10).

     

“Lalu klinik Jemadi yang dihubungi melalui telepon mengatakan tidak pernah membuat surat hasil pemeriksaan PCR atas nama Desri Natalia,”ujarnya

     

Kemudian Desri mengaku membuat surat PCR itu melalui karyawan travel di Bandara Kualanamu bernama Ahmad. Polisi lalu menangkapnya

     

Sementara itu Kasatreskrim Polresta Deli Serdang, Kompol M. Firdaus mengatakan modus tersangka saat beraksi, mengamati gerak-gerik Desri yang tampak kebingungan, karena belum memiliki surat test PCR.

   

“Di saat itu tersangka mengambil moment untuk menawarkan jasa, membuat swab PCR  dan dijamin aman, sehingga calon penumpang tersebut menerima jasa dari si tersangka,”ujar Firdaus 

    

“Tersangka lalu membuat swab yang diduga palsu dan satu jam kemduian memberikan kepada calon penumpang tersebut untuk belium berangkat ke Jakarta,” tambah Firdaus.

    

Kata Firdaus dari hasil penyelidikan tersangka mengaku membuat surat PCR palsu ini sudah dua kali.

    

“Pertama seminggu yang lalu tepatnya pada tanggal 12 Oktober dan yang terakhir pada tanggal 19 Oktober 2021, yang pertama berhasil berangkat dengan harga penjualan Rp750 ribu,’’ujar Firdaus.

    

Kepada tersangka kata Firdaus dikenakan pasal 263 KUHP dan UU Karantina Kesehatan dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.