Pesantren di Sumut Dilibatkan dalam Gerakan Nasional Bebas TB

•KESEHATAN
externalexternalexternalexternal
Pesantren di Sumut Dilibatkan dalam Gerakan Nasional Bebas TB
Wakil Gubernur Sumut Surya bersama tiga wakil menteri Kabinet Merah Putih saat peluncuran Gerakan Nasional Pesantren Bebas Tuberkulosis (TB) di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Deliserdang, Rabu, 4 November 2026/ist

Article Header Image Sumatera Utara masih menghadapi pekerjaan besar dalam penanganan tuberkulosis (TB). Hingga 30 Oktober 2026, baru 43.976 kasus yang ditemukan dari estimasi 74.304 kasus yang ditargetkan terdeteksi sepanjang tahun ini.

Artinya, capaian penemuan kasus baru mencapai 59,2 persen. Masih ada sekitar 30.328 kasus yang belum ditemukan. Kondisi ini mendorong pemerintah memperluas upaya deteksi dini, termasuk menyasar lingkungan pondok pesantren.

Pondok Pesantren Mawaridussalam di Desa Tumpatan, Kecamatan Batangkuis, Deliserdang, menjadi lokasi peluncuran Gerakan Nasional Pesantren Bebas Tuberkulosis (TB) dan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Nasional 2026, Rabu, 4 November 2026.

Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya mengatakan, pesantren memiliki peran penting dalam membantu pemerintah memutus rantai penularan TB. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui edukasi, pemeriksaan kesehatan, deteksi dini, serta penerapan pola hidup sehat di lingkungan pendidikan keagamaan.

Menurutnya, pesantren tidak boleh dicap sebagai sumber penularan penyakit. Sebaliknya, lingkungan pesantren justru harus dilibatkan dalam upaya pencegahan TB.

"Pesantren bukanlah penyebab penularan TB. Sebaliknya, pesantren memiliki peran penting dalam memutus rantai penyebaran penyakit tersebut," ujarnya.

Surya juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun diskriminasi kepada penderita TB. Sebab, selain persoalan pengobatan, stigma dapat menjadi penghambat bagi pasien untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan, Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TB terbanyak setelah India.

Karena itu, pemerintah mendorong penanganan lebih intensif, termasuk melalui pemeriksaan kesehatan di lingkungan pesantren. Pemerintah juga ingin melibatkan para santri sebagai Duta Kesehatan untuk membantu menyebarkan edukasi tentang TB.

"Hingga saat ini, lebih dari 114 juta warga Indonesia telah memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui pencanangan Pesantren Bebas TB ini, pemerintah ingin memastikan warga pesantren terbebas dari penularan serta mendorong para santri menjadi Duta Kesehatan," katanya.

Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii menyebut pesantren memiliki posisi strategis dalam gerakan tersebut. Secara nasional, terdapat sekitar 11 juta santri dan 1,7 juta kiai yang dapat dilibatkan dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Peluncuran di Deliserdang itu disaksikan secara daring oleh jajaran Kementerian Agama dan pondok pesantren di berbagai daerah. Program serupa selanjutnya direncanakan berlangsung di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga DKI Jakarta.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan anggaran Rp120 triliun untuk merehabilitasi 441 rumah sakit daerah dan memperbarui 1.988 puskesmas mulai tahun depan.

Pimpinan Pondok Pesantren Mawaridussalam, Busron Sudarmanto, mengatakan kesehatan santri dan tenaga pengajar menjadi kebutuhan penting agar kegiatan belajar mengajar berjalan baik.

"Santri dan pengajar membutuhkan kondisi fisik yang prima untuk menjalankan tugas belajar dan mengajar," ujarnya. Article Image

Editor : Abdul Manaf


Berita Terkait