Pengamat: SBY Kritik Rezim, Sesuatu Yang Lazim

Shohibul Anshor Siregar/Net
Shohibul Anshor Siregar/Net

Pernyataan mantan presiden RI, Soesilo Bambang Yudhiyono (SBY) yang menyebut utang Indonesia yang sudah tidak aman membuat dirinya banjir kritikan dari pendukung Joko Widodo.


Mereka menganggap pernyataan tersebut tidak lebih dari sekedar kritik yang sifatnya politis mengingat Partai Demokrat bentukan SBY menempatkan diri sebagai oposisi.

Sebaliknya, kader Partai Demokrat juga tidak kalah garang dalam membela pernyataan SBY dan juga mengkritik berbagai kebijakan utang luar negeri Jokowi yang disebut meningkat tajam selama dipimpinnya. Mereka menilai kritik kepada SBY terutama yang 'menyerangnya' secara pribadi, merupakan hal yang tidak baik

Pengamat Sosial dan Politik, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Sohibul Anshor mengatakan, kritikan SBY tersebut merupakan hal yang lazim. Dan begitu juga sebaliknya.

"SBY kritik rezim sesuatu yang lazim dalam rivalitas politik. Tidak juga harus dipandang sebelah mata jika ada akademisi mengkritik salah satu dari dua pihak atau keduanya," katanya, Sejin (11/1).

Untuk mengakhirinya, ia menyarankan agar kader Partai Demokrat di daerah dapat duduk bersama dengan para akademisi yang dianggap ikut menebar pandangan-pandangan yang tidak edukatif atas kritikan yang disampaikan SBY tersebut.

"Saya sarankan orang-partai di daerah bisa membuka dialog dengan akademsi yang dianggap bicara tak menguntungkan mereka apalagi dipandang tak menebar nilai edukasi. Karena misinformasi atau disinformasi, itu bisa selesai dalam dialog," ujarnya.

Diketahui, SBY menyebut bahwa utang Indonesia sudah tidak aman. Bukan hanya meningkatnya rasio utang terhadap PDB, namun utang yang tercatat hingga November 2020 sebesar Rp 5.910,64 triliun membebani Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan membatasi ruang gerak ekonomi.

Kritik ini menjadi salah satu hal yang ramai penjadi pembicaraan di media sosial.

Akademisi di USU, Prof Yusuf L Henuk dalam cuitannya bahkan menyebut SBY sebagai "Bapak Mangkrak Indonesia" yang tidak pantas mengajari Presiden Joko Widodo.

Kader Partai Demokrat di Sumatera Utara, mengecam cuitan tersebut yang mereka nilai sebagai narasi yang tidak mendidik.