Pengamat Ekonomi: Sekalipun Menyentuh Rp 20 Ribu Per Dollar, Belum Tentu Kita Krisis

Kinerja mata uang Rupiah pada perdagangan masih menunjukan kinerja yang terus memburuk. Memang mengkhawatirkan, namun fenoemena pelemahan ini tidak terjadi hanya di Indonesia saja. Semua negara di dunia juga mengalami hal yang sama. Jika bukan hanya Indonesia yang mengalami pelemahan mata uang Rupiahnya, maka sebenarnya kemana uang US Dolar yang tengah di buru investor sejauh ini. Saya menilai corona ini memberikan dampak yang besar terhadap psikologis pasar yang membuat mereka lebih banyak memegang cash. Dalam konteks cash ini adalah US Dolar. "Saya melogikan begini, jika seandainya Rupiah melemah, investor pegang US Dolar. Kalau dalam kondisi ekonomi normal tentunya US Dolar itu diinvestasikan ke produk keuangan yang lebih membrikankeuntungan atau kemanan. Nah dengan kondisi corona melanda semua negara, tren perkembangan suku bunga acuan terus mengalami penurunan, bahkan di AS sendiri nilainya menyentuh 0%. Kita bunga acuannya masih di 4.5%," kata pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, Sabtu (21/3). Lantas kemana uang US Dolar itu diinvestasikan?. Tentunya tidak ada tempat yang benar-benar aman dan menjanjikan bagi investor, selain US Dolar itu hanya di pegang oleh investor itu sendiri. Jadi, saya berpendapat kalau perilaku investor di pasar keuangan seperti itu. Maka tidak ada yang perlu dikuatirkan dari pelemahan Rupiah saat ini. "Kalau begitu, maka saat Rupiah terpuruk ke kisaran 19 ribuan atau 20 ribuan sekalipun, ekonomi kita tetap akan baik-baik saja. Memang ada tekanan di Rupiah. Akan tetapi semuanya ini belum bisa disimpulkan bahwa pelemahan disitu akan membuat kita krisis ekonomi. Meskipun pada dasarnya resesi itu sudah terlihat," ujarnya. "Kalaupun kita berbicara skenario terburuk. Maka sudah ada banyak negara yang masuk ke dalam resesi. Dan memang bisa saja ada kemungkinan banyak negara lain yang akan menyusulnya. Jadi bukan karena Rupiah yang melemah itu sendiri yang buat kita resesi. Tetapi resesi menjadi fenomena global nantinya. Walaupun kita tidak berharap demikian," pungkasnya.[R]


Kinerja mata uang Rupiah pada perdagangan masih menunjukan kinerja yang terus memburuk. Memang mengkhawatirkan, namun fenoemena pelemahan ini tidak terjadi hanya di Indonesia saja. Semua negara di dunia juga mengalami hal yang sama. Jika bukan hanya Indonesia yang mengalami pelemahan mata uang Rupiahnya, maka sebenarnya kemana uang US Dolar yang tengah di buru investor sejauh ini. Saya menilai corona ini memberikan dampak yang besar terhadap psikologis pasar yang membuat mereka lebih banyak memegang cash. Dalam konteks cash ini adalah US Dolar. "Saya melogikan begini, jika seandainya Rupiah melemah, investor pegang US Dolar. Kalau dalam kondisi ekonomi normal tentunya US Dolar itu diinvestasikan ke produk keuangan yang lebih membrikankeuntungan atau kemanan. Nah dengan kondisi corona melanda semua negara, tren perkembangan suku bunga acuan terus mengalami penurunan, bahkan di AS sendiri nilainya menyentuh 0%. Kita bunga acuannya masih di 4.5%," kata pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, Sabtu (21/3). Lantas kemana uang US Dolar itu diinvestasikan?. Tentunya tidak ada tempat yang benar-benar aman dan menjanjikan bagi investor, selain US Dolar itu hanya di pegang oleh investor itu sendiri. Jadi, saya berpendapat kalau perilaku investor di pasar keuangan seperti itu. Maka tidak ada yang perlu dikuatirkan dari pelemahan Rupiah saat ini. "Kalau begitu, maka saat Rupiah terpuruk ke kisaran 19 ribuan atau 20 ribuan sekalipun, ekonomi kita tetap akan baik-baik saja. Memang ada tekanan di Rupiah. Akan tetapi semuanya ini belum bisa disimpulkan bahwa pelemahan disitu akan membuat kita krisis ekonomi. Meskipun pada dasarnya resesi itu sudah terlihat," ujarnya. "Kalaupun kita berbicara skenario terburuk. Maka sudah ada banyak negara yang masuk ke dalam resesi. Dan memang bisa saja ada kemungkinan banyak negara lain yang akan menyusulnya. Jadi bukan karena Rupiah yang melemah itu sendiri yang buat kita resesi. Tetapi resesi menjadi fenomena global nantinya. Walaupun kita tidak berharap demikian," pungkasnya.