Pdt Dr SAE Nababan: Pembangunan Danau Toba Harus Untuk Rakyat, Bukan Untuk Kaum Kapital

Tokoh gereja yang juga tokoh masyarakat Batak, Pdt Dr SAE Nababan meminta agar masyarakat yang berada di seputar Danau Toba menjadi objek langsung yang mendapat dampak positif dari pembangunan yang kini gencar dilakukan. Hal ini menurutnya sangat penting agar, seluruh lapisan masyarakat yang ada disana dapat menerima pembangunan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. "Pembangunan Danau Toba adalah untuk mereka disana, bukan untuk kaum kapital," katanya dalam dalam webinar "Pembangunan Kawasan Danau Toba Berbasis Budaya Daerah", Kamis (11/9). Mantan Ephorus HKBP ini tidak membantah, saat ini sangat banyak masukan yang harus menjadi koreksi bagi masyarakat di kawasan Danau Toba terkait rencana pemerintah menjadikan danau tersebut sebagai salah satu objek wisata unggulan di Indonesia. Akan tetapi menurutnya hal ini akan bisa berubah, jika masyarakat di seputar Danau Toba benar-benar merasakan manfaat dari pembangunan yang ada. Ia bahkan yakin, masyarakat akan bahu membahu untuk mensukseskan program dari pemerintah tersebut. "Dari dulu orang batak sudah mengenal gotong royong atau istilah marsiadapari untuk mencapai hasil yang merata. Pembangunan disini harus mengamalkan Pancasila, keadilan sosial," pungkasnya. Webinar ini menghadirkan berbagai pembicara seperti General Manager Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BPGKT), Hidayati, akademisi seperti Prof Dr Robert Sibarani, Dr Uli Kozok dari Hawai, Giuseppina Monaco dari Italia, Direktur BPODT Arie Prasetyo dan para pemerhati Danau Toba.[R]


Tokoh gereja yang juga tokoh masyarakat Batak, Pdt Dr SAE Nababan meminta agar masyarakat yang berada di seputar Danau Toba menjadi objek langsung yang mendapat dampak positif dari pembangunan yang kini gencar dilakukan. Hal ini menurutnya sangat penting agar, seluruh lapisan masyarakat yang ada disana dapat menerima pembangunan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. "Pembangunan Danau Toba adalah untuk mereka disana, bukan untuk kaum kapital," katanya dalam dalam webinar "Pembangunan Kawasan Danau Toba Berbasis Budaya Daerah", Kamis (11/9). Mantan Ephorus HKBP ini tidak membantah, saat ini sangat banyak masukan yang harus menjadi koreksi bagi masyarakat di kawasan Danau Toba terkait rencana pemerintah menjadikan danau tersebut sebagai salah satu objek wisata unggulan di Indonesia. Akan tetapi menurutnya hal ini akan bisa berubah, jika masyarakat di seputar Danau Toba benar-benar merasakan manfaat dari pembangunan yang ada. Ia bahkan yakin, masyarakat akan bahu membahu untuk mensukseskan program dari pemerintah tersebut. "Dari dulu orang batak sudah mengenal gotong royong atau istilah marsiadapari untuk mencapai hasil yang merata. Pembangunan disini harus mengamalkan Pancasila, keadilan sosial," pungkasnya. Webinar ini menghadirkan berbagai pembicara seperti General Manager Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BPGKT), Hidayati, akademisi seperti Prof Dr Robert Sibarani, Dr Uli Kozok dari Hawai, Giuseppina Monaco dari Italia, Direktur BPODT Arie Prasetyo dan para pemerhati Danau Toba.