Pangeran Harry Bukan Toto Santoso "Raja" Keraton Sejagat

Istana Buckingham di Inggris jadi pembicaraan dunia kala Pangeran Harry dan istrinya Meghan Markle memutuskan untuk keluar dari keluarga kerajaan. Gelar kebangsawanan mereka 'Yang Mulia' juga mereka tanggalkan terhitung Sabtu 18 Januari 2019. Pasangan suami-istri 'muda' ini memilih pergi dari Inggris dan tinggal di Kanada bersama anak mereka Archie. Pangeran Harry dalam pidatonya menegaskan keputusannya tersebut sudah melalui pembicaraan panjang. Dan tidak ada pilihan lain bahwa ia harus meninggalkan kerajaan untuk hidup mandiri. Pada pidato terakhirnya ia mengatakan akan membawa keluarganya untuk menemukan "kehidupan yang lebih damai". Alamak, seorang pangeran meninggalkan status bangsawan demi kehidupan yang lebih damai?. Ini gila namanya jika dibahas dari kacamata orang di luar kerajaan. Dimana-mana pangeran itu pasti hidupnya nyaman, perintah sana sini, punya keistimewaan dan selalu mendapatkan apa yang diminta. Sekali lagi ini namanya 'Gila' versi orang luar. Kenapa pantas disebut "gila"?, karena nun jauh di luar Inggris banyak sekali orang yang ingin punya gelar bangsawan "Yang Mulia". Sebut saja misalnya Toto Santoso dan Fanni Aminadia yang mengklaim diri sebagai Raja dan Ratu dari Keraton Sejagat yang juga belakangan menyita perhatian dunia. Entah apa yang merasuki mereka sehingga nekad menjadi Raja dan Ratu abal-abal. Ini Gila namanya. Bukan saja karena keduanya ternyata bahkan bukan pasangan suami-istri tapi karena keduanya nekad hingga berurusan dengan hukum demi gelar 'Yang Mulia' itu. Astaga, pada akhirnya Pangeran Harry memang mirip dengan Toto Santoso. Sama-sama punya 'kegilaan' meskipun kelas 'kegilaannya' ibarat bintang dan dasar seksi tank. Dan itu bisa dilihat dari ending 'kegilaan' mereka. Pangeran Harry tetap mendapat "respect" tinggi dari seantero dunia, sedangkan Toto Santoso mendapat "Repot" luar biasa. Ini pesan khusus buat yang ingin berkuasa, jangan abal-abal!


Istana Buckingham di Inggris jadi pembicaraan dunia kala Pangeran Harry dan istrinya Meghan Markle memutuskan untuk keluar dari keluarga kerajaan. Gelar kebangsawanan mereka 'Yang Mulia' juga mereka tanggalkan terhitung Sabtu 18 Januari 2019. Pasangan suami-istri 'muda' ini memilih pergi dari Inggris dan tinggal di Kanada bersama anak mereka Archie. Pangeran Harry dalam pidatonya menegaskan keputusannya tersebut sudah melalui pembicaraan panjang. Dan tidak ada pilihan lain bahwa ia harus meninggalkan kerajaan untuk hidup mandiri. Pada pidato terakhirnya ia mengatakan akan membawa keluarganya untuk menemukan "kehidupan yang lebih damai". Alamak, seorang pangeran meninggalkan status bangsawan demi kehidupan yang lebih damai?. Ini gila namanya jika dibahas dari kacamata orang di luar kerajaan. Dimana-mana pangeran itu pasti hidupnya nyaman, perintah sana sini, punya keistimewaan dan selalu mendapatkan apa yang diminta. Sekali lagi ini namanya 'Gila' versi orang luar. Kenapa pantas disebut "gila"?, karena nun jauh di luar Inggris banyak sekali orang yang ingin punya gelar bangsawan "Yang Mulia". Sebut saja misalnya Toto Santoso dan Fanni Aminadia yang mengklaim diri sebagai Raja dan Ratu dari Keraton Sejagat yang juga belakangan menyita perhatian dunia. Entah apa yang merasuki mereka sehingga nekad menjadi Raja dan Ratu abal-abal. Ini Gila namanya. Bukan saja karena keduanya ternyata bahkan bukan pasangan suami-istri tapi karena keduanya nekad hingga berurusan dengan hukum demi gelar 'Yang Mulia' itu. Astaga, pada akhirnya Pangeran Harry memang mirip dengan Toto Santoso. Sama-sama punya 'kegilaan' meskipun kelas 'kegilaannya' ibarat bintang dan dasar seksi tank. Dan itu bisa dilihat dari ending 'kegilaan' mereka. Pangeran Harry tetap mendapat "respect" tinggi dari seantero dunia, sedangkan Toto Santoso mendapat "Repot" luar biasa. Ini pesan khusus buat yang ingin berkuasa, jangan abal-abal!