Museum Tsunami Aceh Gelar Pameran Napak Tilas Perdamaian GAM dan Indonesia

Kadisbupar Aceh, Almuniza Kamal, saat melihat pameran di Meseum Tsunami Aceh/Ist
Kadisbupar Aceh, Almuniza Kamal, saat melihat pameran di Meseum Tsunami Aceh/Ist

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui UPTD Museum Tsunami menggelar pameran temporer yang mengangkat ihwal proses perdamaian Gerakan Aceh Merdeka (GAM)-Pemerintah RI yang dikenal dengan MoU Helsinki.


Pameran temporer yang berlokasi di Lantai 3 Meseum Tsunami Aceh, bertajuk “Memori Helsinki” dengan menampilkan dokumen saat proses penandatanganan damai itu berlangsung. Penandatangan itu dilakukan di Helsinki, Finlandi, pada 15 Agustus 2005.

Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal mengatakan, pameran ini bertujuan agar masyarakat mengingat kembali bagaimana sejarah Aceh saat menjalankan proses perdamaian dengan RI. Pemeran ini juga bentuk syukur dari terlaksananya perdamaian.

“Kegiatan hari ini merupakan salah satu atraksi yang ingin ditampilkan kepada seluruh masyarakat Aceh, seperti tagline kita Lestarikan Budaya, Majukan Pariwisata” kata Almuniza dikutip Kantor Berita RMOLAceh, Senin (8/11).

Isi dalam pameran itu diambil mulai dari masa konflik, operasi darurat militer, operasi darurat sipil. Selanjutnya proses bagaimana tsunami terjadi pada tahun 2004, kemudian proses perdamaian.

“Karena kami ingin menampilkan sejarah perdamaian, dari tahap perundingan sampai pada tahap MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005,” katanya.

Selain itu, pameran ini juga berguna untuk pengetahuan wisatawan luar yang berkunjung ke Museum Tsunami, bahwa Aceh pernah bergejolak dan memilih untuk mengakhiri konflik setelah bencana tsunami memporak-porandakan Tanah Rencong.

“Sejarah tersebut ditampilkan di sini dan mungkin tidak seutuh cerita sebenarnya, namun ini mempresentatifkan proses perdamaian tersebut,” tuturnya

Memilih lokasi di Museum Tsunami, kata Almuniza lagi, karena tempat ini menceritakan tentang kejadian alam yaitu gempa dan tsunami. Lokasi ini, kata dia, jadi salah satu media atau infrastruktur pembangunannya adalah jembatan perdamaian.

“Jembatan perdamaian merupakan representasi damainya Aceh, serta gempa dan tsunami merupakan hikmah yang menimbulkan perdamaian sampai dengan detik ini dikenang oleh masyarakat Indonesia dan terkhusus masyarakat Aceh, untuk mensyukuri nikmat damai,” pungkasnya.

Selain foto, dalam pameran ini juga menampilkan sejumlah berita dari media lokal, nasional hingga internasional yang memuat peristiwa perdamaian itu yang ditandatangani dari kedua belah pihak antara GAM dan RI.