Muryanto Amin: Era Disrupsi dan Digitalisasi, HMI Dituntut Revitalisasi Struktur Pengkaderan Hingga Metode Training 

Muryanto Amin/RMOLSumut
Muryanto Amin/RMOLSumut

Di era disrupsi ini , seharusnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mulai merevitalisasi struktur pengkaderan serta merevisi kurikulum dan metode training. Hal ini dilakukan untuk menciptakan kader yang inovatif dan siap menghadap sebuah fenomena dimana masyarakat mulai merubah aktivitas-aktivitas yang pada awalnya dilakukan di dunia nyata, kini bergerak ke dunia maya. 


Hal ini disampaikan Muryanto Amin yang didapuk sebagai pemateri dalam Kuliah Umum dan Pembukaan Basic Training (LK 1) HMI Cabang Medan di Kota Tebingtinggi dengan Tema "HMI Di Tengah Tantangan Era Disrupsi dan Ancaman Pandemi", Kamis (22/10).

"Tujuannya agar kader HMI baik sebagai teknokrat maupun politisi bisa bertahan mampu bersaing dan sejahtera," ucap Muryanto yang juga alumni HMI USU itu.

Revolusi industri 4.0 mendorong terjadinya disrupsi dalam berbagai bidang yang memberikan tantangan dan peluang, termasuk bagi kader HMI. Disrupsi ini menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif kreatif.  Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transoprtasi, sosial masyarakat hingga pendidikan. Disrupsi juga tidak hanya terjadi di dunia digital. 

Dunia universitas juga mau tak mau harus menerapkan era disrupsi ini. Universitas dituntut untuk mampu memanfaatkan teknologi yang tepat guna untuk menjawab kebutuhan dari tenaga kependidikan, dan mahasiswa selaku civitas akademik. Kemudian juga dituntut untuk memberikan layanan akademik dan nonakademik yang tidak lagi berbasis manual, serta meninggalkan tradisional.  

“Tujuan utama universitas melakukan transformasi digital ialah untuk menciptakan lingkungan belajar yang ramah digital (digital friendly),” ucap Muryanto Amin.

Namun lanjut Muryanto, mengubah skema suatu universitas menjadi digital friendly university bukan pekerjaan yang mudah. Sebab katanya, universitas yang memutuskan melakukan transformasi digital harus melibatkan 3 aspek yang saling mendukung, yaitu pengguna, sistem, dan lingkungan. 

Komitmen pimpinan universitas (rektorat, senat akademik, dan majelis wali amanat) agar memerankan digital leadership, yaitu menjalankan strategi digital dengan memanfaatkan teknologi guna mencapai tujuan utama. 

Teknologi dan alat yang digunakan harus memenuhi prinsip easy, simple, friendly, reliable, tepat sasaran, ramah lingkungan (green), smart, dan agile. Selanjutnya, dosen dan tenaga kependidikan harus bersahabat dengan teknologi agar menjadi agen digital transformation atau agen perubahan untuk mulai merealisasikan sebuah ide menjadi inovasi yang nyata. 

Tetapi sebut Muryanto, percepatan kemajuan teknologi menuntut perubahan dalam dunia pendidikan, sistem digital internal dari universitas pada akhirnya akan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindarkan.

"Namun faktanya, saat ini Indonesia diproyeksikan masih kekurangan 9 juta talenta digital. Bahkan kesenjangan talenta digital level A bisa mencapai 1,3 juta pada tahun 2020 dan mencapai 3,8 juta di 2030. Selain itu skill sets lulusan ICT kita masih di bawah kebutuhan standar industri,"papar dekan Fisip USU itu.

Inovasi layanan akademik menjadi sangat penting untuk menjawab hambatan yang terjadi di masa pandemi. Civitas akademika termasuk kader HMI dituntut harus bersahabat dengan dunia digital. 

“Tantangan mewujudkan layanan digital yang paling sulit ialah memastikan standar prosedur dijalankan secara pasti dan transparan,”pungkasnya. 

Sebelumnya Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan saat membuka pelatihan ini memaparkan pentingnya militansi bagi kader HMI  dalam tantangan yang berbeda-beda dengan cara menentukan siasyah. 

"Bahwa bagaimana kita melakoni, bisa merangkum semuanya tanpa kegaduhan dan tanpa kekerasan. 

Tantangan pandemi covid ini, perlu membahasnya secara komprehensif dan berkelanjutan,"pungkas Umar.