Meski Ada Pandemi Covid-19, Tambang Emas Martabe Optimis Tidak Ada PHK

Pandemi covid-19 berimbas pada seluruh sektor perekonomi, termasuk di sektor tambang. Akan tetapi, dampak ini lebih besar terjadi pada tambang mineral dan batubara. Sedangkan untuk tambang emas, hal ini tidak terlalu signifikan yang ditandai harga emas yang masih terus meningkat. Hal ini disampaikan Chairman of Indonesia Mining Institut Prof Dr Irwandi Arif, dalam webinar "Sektor Pertambangan Minerba di Era Pandemi Covid-19" yang digelar oleh PT Agincourt Resources, Kamis (16/7). "Sekarang mulai terjadi penurunan untuk sektor minerba, kecuali emas yang masih terus mengalami kenaikan harga," katanya. Staff Ahli Menteri ESDM bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara ini menambahkan, secara nasional produksi emas memang menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2018 lalu realisasi mencapai 135,25 ton, sedangkan pada tahun 2019 turun menjadi 109 ton. "Untuk tahun 2020, hingga Mei masih sekitar 10 ton. Kita belum tau apa yang akan terajdi pada akhir Desember 2020 nanti. Dalam kondisi ini menurutnya, ada persoalan yang mungkin terjadi yakni penurunan pendapatan dari sektor PNBP dan ini akan berdampak pada perekonomian nasional yang saat terimbas covid-19. "Tahun 2019 lalu PNBP tercatat Rp 45 triliun dari sektor ini. Kalau 2020 masih lanjut covid diperkirakan akan turun 20 persen dari Rp 45 triliun mungkin sekitar Rp 30 triliun," ungkapnya. Sementara itu, Senior Manager Mining PT Agincourt Resources, Rahmat Lubis mengatakan perusahaan mereka juga ikut terdampak pandemi Covid-19. Mereka bahkan sempat menerapkan kebijakan lock down areal tambang dimana para karyawannya diminta untuk menempati camp yang mereka siapkan. Hal ini untuk menghindari para pekerja mereka terkena covid-19. Dengan kebijakan ini, PT AR menurutnya berhasil mencegah munculnya kasus covid-19 di perusahaan. Kondisi yang kemudian membuat proses produksi mereka kembali dapat berjalan dengan baik. "Kondisi perusahaan setelah penerapan kebijakan tersebut dan juga dengan penerapan protokol kesehatan, kinerja perusahaan hingga saat ini masih on target. Bahkan untuk semester satu 2020 angkanya masih sedikit ada diatas target produksi kita," pungkasnya.[R]


Pandemi covid-19 berimbas pada seluruh sektor perekonomi, termasuk di sektor tambang. Akan tetapi, dampak ini lebih besar terjadi pada tambang mineral dan batubara. Sedangkan untuk tambang emas, hal ini tidak terlalu signifikan yang ditandai harga emas yang masih terus meningkat. Hal ini disampaikan Chairman of Indonesia Mining Institut Prof Dr Irwandi Arif, dalam webinar "Sektor Pertambangan Minerba di Era Pandemi Covid-19" yang digelar oleh PT Agincourt Resources, Kamis (16/7). "Sekarang mulai terjadi penurunan untuk sektor minerba, kecuali emas yang masih terus mengalami kenaikan harga," katanya. Staff Ahli Menteri ESDM bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara ini menambahkan, secara nasional produksi emas memang menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2018 lalu realisasi mencapai 135,25 ton, sedangkan pada tahun 2019 turun menjadi 109 ton. "Untuk tahun 2020, hingga Mei masih sekitar 10 ton. Kita belum tau apa yang akan terajdi pada akhir Desember 2020 nanti. Dalam kondisi ini menurutnya, ada persoalan yang mungkin terjadi yakni penurunan pendapatan dari sektor PNBP dan ini akan berdampak pada perekonomian nasional yang saat terimbas covid-19. "Tahun 2019 lalu PNBP tercatat Rp 45 triliun dari sektor ini. Kalau 2020 masih lanjut covid diperkirakan akan turun 20 persen dari Rp 45 triliun mungkin sekitar Rp 30 triliun," ungkapnya. Sementara itu, Senior Manager Mining PT Agincourt Resources, Rahmat Lubis mengatakan perusahaan mereka juga ikut terdampak pandemi Covid-19. Mereka bahkan sempat menerapkan kebijakan lock down areal tambang dimana para karyawannya diminta untuk menempati camp yang mereka siapkan. Hal ini untuk menghindari para pekerja mereka terkena covid-19. Dengan kebijakan ini, PT AR menurutnya berhasil mencegah munculnya kasus covid-19 di perusahaan. Kondisi yang kemudian membuat proses produksi mereka kembali dapat berjalan dengan baik. "Kondisi perusahaan setelah penerapan kebijakan tersebut dan juga dengan penerapan protokol kesehatan, kinerja perusahaan hingga saat ini masih on target. Bahkan untuk semester satu 2020 angkanya masih sedikit ada diatas target produksi kita," pungkasnya.