Mertua Didemo Menantu Disanjung, Medan Luar Biasa Anehnya???

Ilustrasi
Ilustrasi

Satu perbincangan membuat saya tiba-tiba merasa tergelitik sore ini. Seperti biasa, bukan Medan namanya kalau perbincangan "ngalor-ngidul" tak menyertakan soal politik dan omnibus law dalam pembahasan. Dua isu yang kategorinya kekinian.

"Anak Medan ini memang luar biasa anehnya, Mertuanya di demo, Anak Menantunya didukung dan dipilih. Saya kurang simpati dengan cara itu," kata seorang teman bercanda.

Memang perbincangan ini hanya canda sambil lalu alias kombur kalau istilah orang Medan. Tapi, menurut saya ini didalamnya terbersit sebuah nilai dari ujung dari realita politik yang memang sangat terasa.

Kalau berkaca dari pemilu sebelumnya, memang sangat banyak hal dan manuver yang jelas sangat membuat perbedaan dengan pilkada Medan 2020 yang tahapannya saat ini sedang berlangsung. Yang paling mencolok tentu jika mengkomparasi Pilpres 2019 dengan Pilkada Medan 2020. Susunan koalisi partai politik pendukung para calon saat itu sangat banyak berbeda dengan susunan koalisi pada pilkada Medan 2020.

Dan itulah realitanya. Petinggi partai politik hingga pengamat politik selalu mengatakan bahwa situasi politik di pusat berbeda dengan politik di daerah. Oposisi di pusat bisa jadi koalisi di daerah, kira-kira begitu yang mereka sampaikan.

Memang tidak ada yang salah dengan itu. Toh inilah seni dari politik. Sebab ada yang bilang tidak ada kawan yang abadi dalam politik, melainkan kepentingan yang abadi.

Begitulah, politik memang penuh kepentingan yang kadang membuat masyarakat itu hanya seperti objek untuk dipolitisasi saja. Sebab, suara mereka dibutuhkan. Efeknya apa? Saya kira semua setuju untuk mengatakan seharusnya efek pemilu tidak memecah, tapi faktanya sampai sekarang masih terasa.

Guyonan "mertua didemo, anak menantu didukung" saya kira menjadi sebuah ucapan yang bisa menyadarkan kita yang seharusnya bersikap "kita adalah kita" dalam agenda apapun. Termasuk dalam agenda politik yang memang penuh intrik kepentingan tadi.

Tetaplah menjadikan kita adalah kita, karena itu yang akan menghindarka kita dari perpecahan gegara pilkada.. 

Semoga...!!