Menunggu

POJOK PAK GURU
externalexternalexternalexternal
Menunggu
Karikatur Syamsul Agus/istss

MENURUT banyak orang tak ada perbuatan yang lebih membosankan di dunia ini selain menunggu. Pada level tertentu menunggu berubah menjadi kesal, kecewa, bahkan amarah. Sekalipun setelah menunggu akan menerima uang, tetap juga membosankan. Misalnya ketika tarik tunai di bank, antre menunggu giliran hingga tiba di depan kasir.

Pada tempat-tempat tertentu suasana sosial menunggu ditata sedemikian rupa sehingga tidak akan berpotensi menjadi kesal, kecewa, dan amarah. Di tempat menunggu tersedia tempat duduk yang memanjakan tubuh, fasilitas wifi dengan performa akses yang mengagumkan, layar tv channel edisi terkini, charging corner dengan jumlah steker berlebih, kudapan tradisional yang lezat cita rasanya, dan pendingin ruangan dengan suhu pegunungan. Waktu menunggu seolah berubah menjadi cepat. Tidak terasa, bagaikan orang baik meniti Shiratal Mustaqim.

Menariknya pada tempat dan situasi tertentu, proses menunggu seakan memiliki relasi kuasa antara yang menunggu dengan yang ditunggu. Padahal seharusnya tidak demikian. Yang menunggu dan yang ditunggu punya bargain position yang sama. Di ruang tunggu berobat dengan fasilitas BPJS misalnya. Meskipun sudah menggunakan perangkat teknologi komunikasi untuk proses daftar dan tahapan berobat real time, tetap saja ada proses menunggu yang berpotensi memicu rasa kesal, kecewa, dan amarah. Yang ditunggu tidak patuh pada penunjuk waktu real time produk kekinian teknologi informasi dan komunikasi itu. Masih berkutat pada relasi kuasa. Pasien seakan tidak ada harganya. Menunggu detik demi detik yang berjalan percuma berkelindan dengan kekesalan menahan rasa sakit. Coba bayangkan jika pasien tak ada, siapa sebenarnya homo economicus yang lagi menunggu.

Begitu juga kebiasaan pada situasi acara yang akan dihadiri pejabat tertentu. Meskipun di undangan yang ada pada setiap orang sudah dicantumkan tertib acara lengkap dengan waktunya, tetap juga masih ada aktivitas menunggu. Biasanya hanya untuk menunggu kehadiran sang pejabat. Sebuah kebiasaan yang harus segera dikucilkan dari peradaban birokrasi.

Percaya atau tidak, satu-satunya ruang tunggu yang paling asyik dan menyenangkan ada di sekolah. Walaupun fasilitasnya jauh dari sederhana. Tempat duduknya yang tak lagi kokoh bak bujang yang putus cinta. Meja belajarnya berlobang kecil di mana-mana seperti jaket pengemudi ojol terkena percik bara rokoknya. Dan sebuah kipas angin tua menempel di dinding bergerak pelan ke kiri dan ke kanan bagaikan koruptor kena OTT menggeleng menolak pertanyaan wartawan. Namun menunggu di ruang kelas menjadi ekspresi gegap gempita kegembiraan. Sebuah anomali yang tak perlu diuji.

Keterlambatan hadir guru mengubah semua paradigma tentang menunggu. Tidak ada setitikpun potensi munculnya rasa kesal, kecewa, dan amarah. Menunggu turun level sampai di titik terendah. Menunggu menjadi momentum ekspresi yang ditunggu-tunggu. Kok bisa? Mungkin ini gambaran akibat relasi kuasa yang berlebihan. Relasi kuasa yang menyuburkan rasa takut. Meniadakan bargain position. Menjadi penyebab bersemai dan tumbuh suburnya siklus menunggu di mana-mana. Sebuah relasi yang tak lagi dibutuhkan penerus bangsa ini.

Guru wajib hadir tepat waktu. Mengajarkan sedemikian berharganya detik-detik perputaran waktu. Memutus mata rantai kepercayaan relasi kuasa. Menyemaikan rasa saling menghargai. Menitip makna baru pada kata menunggu agar tak lagi berpotensi membuat kesal, kecewa, dan amarah. Meneladankan betapa buruknya dampak relasi kuasa. Bukankah semua orang yang menggunakan relasi kuasa pernah punya masa bersama guru. Bukankah pejabat yang minta ditunggu kehadirannya terlahir dari tangan para guru. Hanya dari teladan gurulah semua itu kelak bisa berubah.

Penulis merupakan Kepala Sekolah SDN 027688_09092026 

Editor : Tuahta Arief


Berita Terkait