Menelusuri Program 100 Hari Bupati dan Wabup Karo, Sudahkah Terealisasi?

Cory Sebayang dan Theopilus Ginting/Net
Cory Sebayang dan Theopilus Ginting/Net

Ketika Cory Sebayang-Theopilus Ginting resmi dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Karo pada medio April lalu, mereka memastikan telah memiliki program 100 hari. Program tersebut meliputi pariwisata, pertanian dan pendidikan.

Lebih dari 100 hari pemerintahan Cory-Theo, menarik untuk mengamati realisasi program 100 hari yang mereka janjikan itu. Namun, sebelum membahasnya, di media sosial khususnya grup-grup Facebook yang acap membicarakan isu-isu nasional dan Tanah Karo bertebaran berbagai informasi yang kadang pro dan kadang kontra dengan pemerintahan Kabupaten Karo.

Di grup Facebook itu terkadang muncul link berita media massa daring yang memunculkan aksi-aksi seremonial Cory dan Theo sebagai bentuk aktivitasnya mewakil pemerintahan Kabupaten Karo. Akan tetapi, sebagian netizen di grup Facebook itu mengirimkan atau membuat status mengenai informasi terbaru di Tanah Karo. Dan seringnya mengenai judi dan pertanian.

Saya mencoba menelusuri realisasi program 100 hari Cory-Theo itu lewat media massa daring dan situs resmi pemerintah Kabupaten Karo. Media massa daring lokal ketika mendekati 100 hari pemerintahan Cory-Theo umumnya memberitakan upaya penataan birokrasi dan tata kota.

Media daring karosatuklik.com, misalnya, pada 7 Juni lalu melaporkan khusus program 100 hari dalam rencana program tata kota pemerintahan Cory-Theo akan melaksanakan pembenahan kebersihan, perbaikan jalan berlubang, drainase, penanganan sampah, lampu penerangan jalan dan taman bunga pembatas jalan di Jalan Veteran dan Letjen Djamin Ginting Kabanjahe dan kota wisata Berastagi. 

Karena itu, pemerintahan Kabupaten Karo membenahi membenahi taman pembatas jalan sepanjang Jalan Veteran mulai dari depan Masjid Agung Kabanjahe hingga Bundaran Tugu Bambu Runcing. Bunga-bunga lama di taman pembatas jalan dibongkar diganti dengan jenis bunga yang lebih segar dan beragam warna.

Soal ini, Cory ketika dilantik sempat menyinggungnya. Dia akan membenahi kebersihan di Kota Kabanjahe dan Berastagi. Juga akan mengganti bunga-bunga lama dengan yang baru karena lebih segar dan indah dengan beragam warna.

Di luar itu, saya agak sulit mendapatkan informasi yang lain tentang pembenahan tata kota yang dilakukan Cory-Theo untuk Kabupaten Karo. Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Tanah Karo, saya berharap benar ada pembenahan terkait dengan rekayasa lalu lintas yang begitu semrawut terutama di depan Pusat Pasar Kabanjahe dan Berastagi. Juga berharap adanya perbaikan infrastruktur jalan rusak dan berlubang di kitaran Kota Kabanjahe. Belum lagi infrastruktur dasar seperti ketersediaan air bersih yang belum tuntas meski sudah bermasalah hingga puluhan tahun.

Soal-soal itu, saya sama sekali tidak mendapatkan informasinya. Tidak di media massa daring lokal, juga di situs resmi pemerintah Kabupaten Karo. Lalu, bagaimana dengan program 100 hari di bidang pariwisata, pertanian dan pendidikan yang dijanjikan Cory-Theo itu? Melalui situs resmi pemerintah Kabupaten Karo, kita bisa mendapatkan data perbandingan kondisi pertanian untuk produksi beberapa komoditas 2019 dan 2020. Untuk luas panen, produksi, dan rata-rata produktivitas padi ladang dan padi sawah berdasarkan kecamatan pada 2019, data Dinas Pertanian Karo menyebut mencapai 157.740 ton dengan luas 31.093 hektare. Sementara untuk produksi padi pada 2020 mengalami penurunan menjadi 88.757 ton.

Begitu pula dengan produksi jagung. Data yang tersedia untuk 2019 mencapai 767.305 ton. Sedangkan untuk produksi jagung pada 2020 hanya 371.048,6 ton. Untuk kedelai masih ada produksi sebesar 572,60 ton untuk 2019. Sedangkan di 2020 produksi kedelai berdasarkan data tersebut 0. Sementara produksi sayur-sayuran juga mengalami penurunan dari sekitar 421.856,6 ton pada 2019 menjadi 319.358 ton pada 2020.

Sektor pertanian merupakan satu dari 3 lapangan usaha yang berkontribusi dominan terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) terhadap Kabupaten Karo pada 2020 yakni sebesar 53,72%. Dari data-data tersebut, jelas ada penurunan produktivitas di sektor pertanian dari 2019 ke 2020 terlebih adanya krisis kesehatan Covid-19 yang kemudian berdampak secara sosial dan ekonomi. Sementara kita belum mengetahui realisasi program 100 hari Cory-Theo di sektor pertanian sehingga sulit membuat ukuran keberhasilannya.

Selanjutnya Cory-Theo juga berjanji membuat program 100 hari di sektor pariwisata. Saya dan mungkin masyarakat belum mendapatkan gambaran atau kejelasan mengenai program Cory-Theo di sektor pariwisata. Mengutip situs resmi Kabupaten Karo, sektor pariwisata merupakan “Misi Ketiga” dari Program Pembangunan Daerah pemerintah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya dan kerja sama antar-lembaga guna mendukung pembangunan  pariwisata dan kebudayaan daerah. 

Sasaran yang ingin dicapai dari program ini adalah meningkatnya bentuk-bentuk kerja sama  dalam rangka mendukung realisasi mantapnya parawisata Karo yang didukung oleh SDM yang profesional dan berdaya saing tinggi. Tetapi, berdasarkan laporan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) berjudul “Kabupaten Karo Dalam Angka” menyebutkan di sektor pariwisata pada 2019 hanya ada 6 restoran di Kabupaten Karo menurut Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Karo. 

Restoran yang dimaksud adalah restoran yang telah memiliki izin usaha. Restoran tersebut berada di Kecamatan Tigabinanga, Kecamatan Kabanjahe, dan paling banyak berada di Kecamatan Berastagi. Berdasarkan kondisi tersebut, sektor pariwisata tentu saja masih membutuhkan pembenahan secara menyeluruh. Dari sini, kita belum mengetahui secara pasti apa sebenarnya realisasi program 100 hari Cory-Theo di sektor pariwisata. Juga apa sebenarnya konsep yang diusung Cory-Theo dalam memajukan pariwisata di Tanah Karo. Kita agak sulit mengukurnya jika hanya berdasarkan misi yang tertera di situs pemerintah Kabupaten Karo itu. 

Sementara program 100 hari untuk sektor pendidikan, kita juga tidak mendengar apa sebenarnya yang dikerjakan Cory-Theo di sektor tersebut. Kita hanya mengetahui lewat pemberitaan aktivitas seremonial keduanya semisal meresmikan sekolah. Sementara kita tidak pernah mendengar apa usaha Cory-Theo untuk meningkatkan harapan lama sekolah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Karo, harapan lama sekolah memang naik setiap tahun walalu tidak begitu tinggi. Untuk 2018, harapan lama sekolah Kabupaten Karo itu mencapai 9,55 tahun; kemudian meningkat menjadi 9,62 tahun pada 2019; dan menjadi 9,79 tahun pada 2020. Dengan kata lain, angka tersebut sudah ada sebelum kepemimpinan Cory-Theo. Karena itu, wajar sekali masyarakat menunggu realisasi janji Cory-Theo untuk membenahi ketiga sektor tersebut.

Secara keseluruhan sepanjang 2020, BPS Karo mencatat pertumbuhan ekonomi karena dampak pandemi Covid-19 mengalami kontraksi -0,80%. Berdasarkan pendekatan produksi, lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi terbesar yakni sebesar -10,07%. Sementara ada 6 lapangan usaha usaha yang masih menunjukkan pertumbuhan  positif, salah satunya adalah lapangan usaha informasi dan komunikasi yang tumbuh sebesar 4,70%.

Sementara itu, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Karo mencapai 36.570 orang (8,70%) pada 2020. Angka ini meningkat 2.490 orang dibandingkan 2019 yang berjumlah  34.080  orang (8,23%). Persentase kemiskinan tersebut menempatkan Kabupaten Karo berada di posisi 13 dari 33 kabupaten/kota di Sumatra Utara. 

Melihat fakta tersebut, tentu saja tantangan Cory-Theo di luar janji program 100 harinya semakin kompleks di masa pandemi Covid-19 ini. Tantangan itu terutama bagaimana Cory-Theo meningkatkan pertumbuhan dan menekan jumlah orang miskin di Tanah Karo. Karena tanpa itu, seperti janji program 100 harinya, Cory-Theo pun kemungkinan akan gagal membangun Tanah Karo selama periode mereka menjabat hingga 2024 nanti.***

Penulis adalah pengamat media