MEDAN, Kota yang Kehilangan Identitas

Kota Medan/Net
Kota Medan/Net

BULAN lalu, saya dan beberapa teman berkesempatan ‘pulang’ ke Medan. Aktivitas rutin selain tugas bisnis, tentu kembali keliling Medan menikmati wisata kuliner yang tidak boleh ditinggalkan, karena di Medan cuma ada dua jenis makanan saja; 1. Enak, 2. Enak Kali.

\

Ada yang cukup memperihatinkan ketika berkeliling Kota Medan. Kami mendapati satu-persatu bangunan dan situs khas Kota Medan mulai dihilangkan, dirobohkan, diganti atau bahkan dihancurkan.

Gedung-gedung kuno di Daerah Kesawan, mulai berganti ruko-ruko, Gedung Balai Kota yang terlihat kental arsitektur Eropa dan menjadi kebanggaan Kota Medan juga sekarang sekadar menjadi Fasad Hotel Aston.

Villa Kembar peninggalan Belanda di jalan Pangeran Diponegro pun kini hilang dan menjelma menjadi Hotel Adimulia.

Dan yang cukup memprihatinkan, di dekat Bangunan Khas Kota Medan yang dulu dikenal sebagai Titi Gantung, berdiri Megah sebuah Vihara. Dibangunnya gedung modern sebagai bukti kehilangan identitas, entah mal atau hotel berbintang.

Medan memiliki kenangan indah mengenai ruang terbuka hijau. Di kota ini, hingga pertengahan tahun 1990-an masih mudah menemukan ruang terbuka hijau.

Taman-taman kota masih menguasai areal perkotaan sebelum akhirnya hari ini taman-taman itu berganti dengan bangunan, bahkan Lapangan Merdeka salah satu ruang publik yang tersisa pun kini disewakan dan digunakan untuk tempat usaha.

Kesannya, pemerintah memang senang merobohkan dan mengganti dengan yang baru.

Dari pendekatan kultural, jiwa kota ini sudah dihilangkan... sok modern, sok gaul dan sok maju...

Dari pendekatan sejarah, menghilangkan bukti-bukti sejarah dan sudah menabrak peraturan cagar budaya...

Dari pendekatan tata kota dan estetika, sudah tidak jelas arah hendak kemana biduk kemudi diarahkan...

Ingatan kolektif telah diputuskan... nurani telah dicampakkan...

Lihatlah kota-kota besar dunia, di Eropa misalnya, gedung lama tidak dibongkar bahkan dirawat. Gedung modern dibangun bukan menumpuk di kota, tapi bergeser kepinggir kota. Ekonomi berputar, khas kota tetap terawat.

Selamat datang generasi baru. Generasi baru Medan, generasi tanpa identitas.... 

Pencinta Medan yang Tinggal di Jakarta