Magnet Jokowi

TAK kurang dari sebulan, Joko Widodo sudah datang lagi ke Sumatera Utara. Namun berbeda dengan kunjungannya pada 15 Maret 2019 lalu, kali ini ia datang murni dalam kapasitasnya sebagai calon presiden untuk pemilu 2019. Yang tidak berbeda adalah cara masyarakat menyambut Jokowi yang hadir didampingi sang istri Iriana Jokowi.

Joko Widodo hadir dalam kampanye yang digelar dengan model 'pertemuan terbatas' di GOR Futsal, Dinas Pemuda dan Olahraga, Jalan Willem Iskandar, Pancing, Deli Serdang, Jumat (5/4/2019). Kabar kedatangannya langsung menjadi magnet bagi masyarakat. Tak kurang dari jarak 1 km menuju gedung pertemuan, Jokowi sudah 'dicegat' masyarakat yang memintanya untuk sekedar bersalaman dan juga berswafoto (selfie).

Dasar Jokowi, dia tau apa yang diinginkan masyarakat. Buka kaca mobil, turun menyalam tangan mereka dan melayani permintaan swafoto. Situasi yang membuat teriakan-teriakan histeris menyebut nama Jokowi terdengar dimana-mana.

"Kami memohon maaf kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah menunggu kedatangan pak Jokowi. Beliau terlambat tiba di tempat ini karena menyapa masyarakat yang memenuhi jalan-jalan dan bagian luar gedung," kata salah seorang anggota tim juru kampanye menenangkan warga yang juga tidak kalah banyak menunggunya didalam gedung berkapasitas 3 ribu tersebut.

Tak kurang dari 25 menit, Jokowi dan rombongannya terus merangsek mendekati gedung tempat acara berlangsung. Iring-iringan petugas pengamanan terlihat sangat 'sibuk'untuk membuka 'jalur' bagi sang calon presiden nomor urut 01 tersebut.

Yel-yel menyambut Jokowi langsung menggema. Nama Jokowi terus dielu-elukan, begitu juga nama calon wakilnya KH Maruf Amin dua nama yang terus diteriakkan secara bersahutan.

Tibalah acara puncak. Jokowi didaulat untuk naik ke panggung bulat yang ditempatkan tepat dibagian tengah pelataran gedung. Setengah berlari ia terlihat semangat menuju tiang microphone yang ditempatkan ditengah panggung. Sambil menyingsingkan lengan baju putihnya, ia menebar senyum ditengah teriakan yel-yel kemenangan yang terus menggema. Ia menunggu sampai teriakan sedikit mereda yang menjadi pertanda ribuan warga ingin mendengar suaranya.

"Horas, mejuah-juah, ahoi, apa kabar, njuah-juah, ya ahowu. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokati, selamat malam salam sejahtera bagi kita semua, salam kebajikan," salam khas yang menggambarkan heterogenitas Sumatera Utara itu mengawali pidato politiknya.

Tidak ada ungkapan-ungkapan yang menggebu-gebu yang terlontar selama Jokowi menyampaikan program yang akan dilakukannya bersama Maruf Amin. Pidato politiknya berjalan alami tanpa ada gestur yang dibuat-buat untuk meniru-niru pemimpin Indonesia berkharisma lainnya misalnya meniru gaya berapi-api Soekarno. Padahal, gaya itu belakangan ini terlalu sering 'dimunculkan' oleh tokoh-tokoh politik agar disebut sebagai pemimpin yang handal.

Jokowi justru hanya melontarkan candaan-candaan disela penyampaian program-programnya seperti pembuatan Kartu Indonesia Pintar khusus untuk membantu kuliah, Kartu Pra Kerja yang akan digunakan oleh para lulusan SMA/SMK untuk mengikuti training agar siap masuk dunia kerja dan akan diberi honor. Dan kemudian Kartu Sembako Murah yang dikhususkan bagi warga agar mendapatkan diskon dalam setiap pembelian sembako.

"Ini baru tahun depan efektifnya. Karena ini programnya saya sebagai capres dan pak KH Maruf Amin sebagai cawapres, bukan program saya sebagai Presiden. Maka doakan dan dukung kami agar kartu ini benar-benar bisa direalisasikan tahun depan," katanya.

Begitulah pidato Jokowi disampaikan dengan cara yang sederhana, bercampur canda namun penuh dengan makna. Ia sangat yakin, warga Sumatera Utara yang sudah menjadi 'keluarganya' akan tetap mendukungnya untuk berbuat lebih baik bagi Indonesia.

"Dulu saja saya belum punya keluarga disini menang 55 persen. Sekarang masyarakat Sumatera Utara ini sudah menjadi keluarga inti saya, saya yakin dukungan itu akan bertambah. Iya kan Bob," katanya memanggil menantunya Bobby Nasution yang juga ada di lokasi.

Penutupnya Jokowi mengajak seluruh 'keluarga besarnya' untuk datang ke TPS pada 17 April 2019 guna memberikan suaranya. Sebagaimana ia datang, kepergian Jokowi dari lokasi acara juga tetap sama. Ia diserbu masyarakat yang kembali memintanya bersalaman dan berswafoto. Memang Jokowi itu Magnet.***


TAK kurang dari sebulan, Joko Widodo sudah datang lagi ke Sumatera Utara. Namun berbeda dengan kunjungannya pada 15 Maret 2019 lalu, kali ini ia datang murni dalam kapasitasnya sebagai calon presiden untuk pemilu 2019. Yang tidak berbeda adalah cara masyarakat menyambut Jokowi yang hadir didampingi sang istri Iriana Jokowi.

Joko Widodo hadir dalam kampanye yang digelar dengan model 'pertemuan terbatas' di GOR Futsal, Dinas Pemuda dan Olahraga, Jalan Willem Iskandar, Pancing, Deli Serdang, Jumat (5/4/2019). Kabar kedatangannya langsung menjadi magnet bagi masyarakat. Tak kurang dari jarak 1 km menuju gedung pertemuan, Jokowi sudah 'dicegat' masyarakat yang memintanya untuk sekedar bersalaman dan juga berswafoto (selfie).

Dasar Jokowi, dia tau apa yang diinginkan masyarakat. Buka kaca mobil, turun menyalam tangan mereka dan melayani permintaan swafoto. Situasi yang membuat teriakan-teriakan histeris menyebut nama Jokowi terdengar dimana-mana.

"Kami memohon maaf kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah menunggu kedatangan pak Jokowi. Beliau terlambat tiba di tempat ini karena menyapa masyarakat yang memenuhi jalan-jalan dan bagian luar gedung," kata salah seorang anggota tim juru kampanye menenangkan warga yang juga tidak kalah banyak menunggunya didalam gedung berkapasitas 3 ribu tersebut.

Tak kurang dari 25 menit, Jokowi dan rombongannya terus merangsek mendekati gedung tempat acara berlangsung. Iring-iringan petugas pengamanan terlihat sangat 'sibuk'untuk membuka 'jalur' bagi sang calon presiden nomor urut 01 tersebut.

Yel-yel menyambut Jokowi langsung menggema. Nama Jokowi terus dielu-elukan, begitu juga nama calon wakilnya KH Maruf Amin dua nama yang terus diteriakkan secara bersahutan.

Tibalah acara puncak. Jokowi didaulat untuk naik ke panggung bulat yang ditempatkan tepat dibagian tengah pelataran gedung. Setengah berlari ia terlihat semangat menuju tiang microphone yang ditempatkan ditengah panggung. Sambil menyingsingkan lengan baju putihnya, ia menebar senyum ditengah teriakan yel-yel kemenangan yang terus menggema. Ia menunggu sampai teriakan sedikit mereda yang menjadi pertanda ribuan warga ingin mendengar suaranya.

"Horas, mejuah-juah, ahoi, apa kabar, njuah-juah, ya ahowu. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokati, selamat malam salam sejahtera bagi kita semua, salam kebajikan," salam khas yang menggambarkan heterogenitas Sumatera Utara itu mengawali pidato politiknya.

Tidak ada ungkapan-ungkapan yang menggebu-gebu yang terlontar selama Jokowi menyampaikan program yang akan dilakukannya bersama Maruf Amin. Pidato politiknya berjalan alami tanpa ada gestur yang dibuat-buat untuk meniru-niru pemimpin Indonesia berkharisma lainnya misalnya meniru gaya berapi-api Soekarno. Padahal, gaya itu belakangan ini terlalu sering 'dimunculkan' oleh tokoh-tokoh politik agar disebut sebagai pemimpin yang handal.

Jokowi justru hanya melontarkan candaan-candaan disela penyampaian program-programnya seperti pembuatan Kartu Indonesia Pintar khusus untuk membantu kuliah, Kartu Pra Kerja yang akan digunakan oleh para lulusan SMA/SMK untuk mengikuti training agar siap masuk dunia kerja dan akan diberi honor. Dan kemudian Kartu Sembako Murah yang dikhususkan bagi warga agar mendapatkan diskon dalam setiap pembelian sembako.

"Ini baru tahun depan efektifnya. Karena ini programnya saya sebagai capres dan pak KH Maruf Amin sebagai cawapres, bukan program saya sebagai Presiden. Maka doakan dan dukung kami agar kartu ini benar-benar bisa direalisasikan tahun depan," katanya.

Begitulah pidato Jokowi disampaikan dengan cara yang sederhana, bercampur canda namun penuh dengan makna. Ia sangat yakin, warga Sumatera Utara yang sudah menjadi 'keluarganya' akan tetap mendukungnya untuk berbuat lebih baik bagi Indonesia.

"Dulu saja saya belum punya keluarga disini menang 55 persen. Sekarang masyarakat Sumatera Utara ini sudah menjadi keluarga inti saya, saya yakin dukungan itu akan bertambah. Iya kan Bob," katanya memanggil menantunya Bobby Nasution yang juga ada di lokasi.

Penutupnya Jokowi mengajak seluruh 'keluarga besarnya' untuk datang ke TPS pada 17 April 2019 guna memberikan suaranya. Sebagaimana ia datang, kepergian Jokowi dari lokasi acara juga tetap sama. Ia diserbu masyarakat yang kembali memintanya bersalaman dan berswafoto. Memang Jokowi itu Magnet.***