Legenda Kiper PSMS/Timnas Indonesia Rony Pasla Dan Kisah Mencari 'Tukang Es Balok"

Ronny Pasla (Kiper) bersama Pemain PSMS 1971/Ist
Ronny Pasla (Kiper) bersama Pemain PSMS 1971/Ist

Nama Ronny Pasla tentu tidak asing bagi pecinta sepak bola di Indonesia, khususnya pecinta PSMS Medan. Pada era 60-an hingga 70-an, nama ini menjadi sosok penting dalam sejarah prestasi sepak bola PSMS Medan dan juga Tim Nasional (Timnas) sepak bola Indonesia.


Pemerhati dan pecinta PSMS Medan, Indra Effendi Rangkuti membeberkan sejarah dari Ronny Pasla kepada RMOLSumut.id. Ia mengatakan Ronny Pasla merupakan pemain berdarah Menado kelahiran Medan, 15 April 1947. Dia berkiprah sebagai kiper tim nasional Indonesia tahun 1966 sampai 1985. 

Putra dari Felix Pasla ini awalnya menekuni olahraga tenis. Pada PON 1965 Ronny Pasla bahkan terdaftar untuk memperkuat Tim Tenis Sumut pada PON 1965. Namun PON ini urung dilaksanakan karena peristiwa G-30 S/PKI. 

Bahkan, ia sempat meraih juara pada Kejuaraan Tenis Nasional Tingkat Junior di Malang, 1967. Namun ayahnya, Felix Pasla menyarankannya untuk beralih ke sepakbola karena melihat postur Ronny yang bertinggi 184 cm dan berat 79 kg sangat cocok untuk menjadi kiper.

Bakat Ronny juga dilihat oleh pelatih klub anggota PSMS Dinamo yaitu Zulkarnaen Nasution hingga akhirnya Ronny bergabung di klub Dinamo. Penampilannya yang gemilang di bawah mistar kemudian dilihat oleh pelatih PSMS Jr Ramli Yatim dan kemudian mempersiapkannya untuk ikut Suratin Cup 1967. Singkat cerita Ronny pun tampil mengawal gawang PSMS Jr di Suratin Cup 1967.

Ternyata Ramli Yatim tidak salah karena ternyata Ronny tampil prima hingga akhirnya sukses membawa PSMS Jr Juara Suratin Cup 1967. 

"PSMS Jr di Suratin Cup 1967 ini kelak dikemudian hari sukses melahirkan bintang - bintang legendaris PSMS antara lain Ronny Pasla, Sarman Panggabean, Tumsila, Wibisono, Nobon dll," kata Indra, Rabu (14/4/2021).

Penampilan gemilang PSMS Jr di Suratin Cup 1967 membuat beberapa pemainnya seperti Ronny Pasla, Tumsila, Sarman Panggabean dan Wibisono ditarik memperkuat PSMS yang akan berlaga di putaran Final Kejurnas PSSI 1967. Kebetulan di PSMS ini Yusuf Siregar sebagi pelatih didampingi oleh Ramli Yatim. Perpaduan bintang - bintang muda ini dengan para pemain senior seperti Yuswardi, Sukiman, Muslim, Sunarto, Ipong Silalahi ,Zulkarnaen Pasaribu, Zulham Yahya dll membuat PSMS menjadi lebih solid.

Dan ternyata Ronny Pasla tidak canggung ketika dipercaya untuk menjadi kiper utama PSMS di putaran Final hingga akhirnya sukses membawa PSMS Medan Juara Kejurnas PSSI untuk pertama kalinya pada 1967 setelah di Final mengalahkan Persib 2- 0 lewat gol yang dicetak A Rahim dan Zulkarnaen Pasaribu.

"Yang unik pada Final ini Ronny Pasla berhadapan dengan kiper Persib yang dikaguminya yaitu Jus Etek," ujar Indra.

Keberhasilan PSMS menjadi Juara Kejurnas PSSI 1967 ini membuat PSMS mewakili Indonesia di Aga Khan Gold Cup 1967 di Bangladesh. Dan ternyata Ronny Pasla sukses menabalkan dirinya sebagai salah satu kiper terbaik Indonesia dan Asia setelah membawa PSMS Juara Aga Khan Gold Cup 1967 setelah di Final mengalahkan klub tuan rumah Mohammaden 2-0 lewat 2 gol yang dicetak striker muda PSMS Medan Tumsila lewat sundulan kepalanya.

Usai turnamen ini Ronny Pasla kemudian pindah ke klub anggota PSMS lainnya Bintang Utara dan di klub inilah kemampuan Ronny makin mumpuni mengawal gawang hingga akhirnya Ronny Pasla dipanggil memperkuat Timnas Indonesia dan bersaing sehat dengan Judo Hadianto mengawal gawang Timnas.

Selama berkiprah di PSMS, Ronny Pasla dan rekan - rekannya meraih prestasi sebagai Juara Piala Suratin (1967),Juara Kejurnas PSSI (1967,1969 dan 1971),Juara Aga Khan Gold Cup (1967),Juara Soeharto Cup 1972, Juara Marah Halim Cup 1972 dan 1973 dan Semifinalis AFC Champions Cup 1970.Ronny Pasla juga turut membawa Tim Sumut merebut Emas PON 1969 di Surabaya setelah di Final mengalahkan DKI Jakarta.

Kiprahnya sebagai penjaga gawang andalan Tim Nasional Indonesia (PSSI) juga meraih prestasi sebagai Juara King's Cup di Thailand (1968), Juara Merdeka Games (1969), Juara Pesta Sukan Singapura (1972), Juara Djakarta Anniversary Cup 1972. Ronny Pasla juga nyaris membawa Timnas Indonesia lolos ke Olimpiade 1976. Sayang di partai akhir PPD 1976 Indonesia kalah dari Korea Utara dalam drama adu penalti.

Atas prestasinya yang gemilang sebagai kiper PSMS, Ronny yang berdarah Manado yang dijuluki 'Macan Tutul' mendapat penghargaan sebagai Warga Utama Kota Medan (1967) yang diberikan oleh Walikota Sjoerkani. Kiprahnya di sepakbola dan Timnas PSSI sebagai kiper andalan sejak 1968 hingga pensiun 1985 dalam usia 38 tahun dianugerahi Piagam dan Medali Emas dari PSSI (1968), Atlet Terbaik Nasional (1972), Penjaga Gawang Terbaik Nasional (1974).

Selama karir sebagai kiper banyak pengalaman Ronny yang amat berkesan. Salah satu di antaranya, tatkala Tim Santos Brazil yang diperkuat pesepak bola legendaris Pele, tur ke Asia termasuk Indonesia pada 24 Juni 1972. Dalam laga Timnas Indonesia dan Santos itu Ronny berhasil menahan eksekusi penalti Pele, kendati Indonesia akhirnya kalah 2-3. Demikian juga ketika mengawal gawang PSMS ketika melawan PSV Eindhoeven pada 1971 di Medan. Walau PSMS kalah 0-4 tetapi penampilan Ronny mengundang decak kagum pelatih dan bintang PSV kala itu seperti Guus Hiddink. Demikian juga penampilannya ketika mengawal gawang Timnas ketika berujicoba dengan Benfica yang diperkuat Eusebio pada 1972 dan penampilan gemilangnya ketika membwa Timnas Indonesia mengalahkan Timnas Uruguay yang dipersiapkan untuk Piala Dunia 1974 dengan skor 2-1. Penampilan gemilangnya membuat para bintang Uruguay seperti Ladislao Mazurkiewicz, Pedro Rocha dan Fernando Morena mati kutu.

Mencari Tukang Es Balok

Sederet pengalaman dan kiprah Ronny di persepakbolaan tanah air ternyata tidak membuatnya lupa akan seseorang yang hingga saat ini disebutnya Tukang Es Balok. Menurutnya, seorang tukang es balok di Stadion Teladan Medan saat dirinya muda ikut berjasa dibalik kisah suksesnya sebagai pemain sepak bola.

Kisah itu terjadi pada awal tahun 60-an ketika Ronny Pasla yang waktu itu masih pelajar sangat ingin menonton PSMS di Teladan. Tapi saat itu ayahnya tidak bisa menemani dan uang sakunya tidak cukup untuk membeli tiket. Namun nasib baik menyertai dirinya ketika itu karena seorang tukang es balok meminta dirinya untuk ikut membantu mengangkat es balok (untuk kebutuhan pemain) ke dalam stadion dengan imbalan bisa menonton di dalam stadion. Dan akhirnya Ronny muda beserta seorang pemuda ikut membantu dan Ronny muda bisa menonton tim idolanya.

Menonton di Stadion Teladan ini jugalah yang membuat Ronny semakin termotivasi untuk bisa menjadi seorang pemain sepak bola.

Usai pertandingan Ronny mencari tukang es balok tersebut namun tidak terlihat lagi. Dan hingga menjadi kiper utama PSMS Medan, Ronny terus berusaha mencarinya namun tak kunjung ketemu. Niat Ronny Pasla adalah untuk mengucapkan terima kasih. Dan hingga kini Ronny Pasla terus berdoa untuk tukang es balok tersebut.  Jika masih hidup semoga diberi keberkahan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan jika sudah wafat semoga ditempatkan Tuhan di sisi-NYA

Ronny Pasla kemudian pindah ke Persija usai memperkuat Sumut di PON 1973 akibat mutasi tugas dari tempatnya bekerja. Dan pada era kompetisi Galatama Ronny Pasla memperkuat Indonesia Muda.

Keberhasilan Ronny Pasla inilah sepertinya yang kelak menjadi kisah kesuksesan kiper - kiper asal Medan dan PSMS menjadi kiper sukses di Timnas seperti Taufik Lubis, Jampi Huatauruk, Ponirin Meka, Eddy harto, Benny Van Breukelen, Donny Latuperissa, Sahari Gultom hingga Markus Horison.

Kini Ronny Pasla lebih banyak mengisi hidupnya dengan melatih tenis di sekolah tenis miliknya di Jakarta.