Kiai Ali: Meski ISIS Sudah Hancur, Tetap Waspadai Ideologi Khilafah

Kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah hancur lebur setelah kekhalifahan mereka di dua negara itu habis. Baghouz adalah wilayah ISIS terakhir yang berhasil dikuasai Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat.

Meski ISIS di Suriah dan Irak sudah hancur, ideologi khilafah dan kekerasan yang selama ini diusung organsisasi ‘hitam’ itu harus tetap diwaspadai. Apalagi, ideologi itu sudah banyak menyebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Belum lagi, nanti para mantan anggota ISIS yang pernah ‘berkhianat’ ke negaranya dengan bergabung dengan ISIS di Suriah, bisa pulang ke negaranya.

"Ingat munculnya kelompok-kelompok radikal, baik Islam maupun non-Islam itu sesungguhnya by design (direncanakan). Jadi itu tidak lahir begitu saja, tetapi ada skenario. Mereka memasukkan gagasan khilafah yang didesain begitu rupa dengan tujuan untuk mengacak-acak Indonesia,” ujar Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI KH. Ali M. Abdillah di Jakarta.

Memang, lanjut kiai Ali, ISIS telah kalah di Suriah. Tapi ideologi mereka yang sudah terlanjur menyebar harus diwaspadai. Artinya, masyarakat awam yang menjadi sasaran penyebaran ideologi itu perlu kita pagari.

Penyebaran ideologi kekerasan sangat masif terutama menyasar pelajar sekolah umum dan mahasiswa perguruan tinggi umum, juga di lingkungan kantor dan lembaga. Terlebih di era media sosial (medsos) ini, ia menjelaskan bahwa counter yang baik dengan menetralisir isu-isu yang dilempar di medsos dan langsung direspon secara argumentatif.

"Kalau mereka menggunakan dasar Alquran dan Hadits, maka kita juga harus melakukan itu. Lalu kalau mereka menggunakan argumentasi sejarah, maka kita juga harus bisa menyampaikan itu. Kalau hanya menggunakan argumentasi rasional, maka kita juga harus bisa memainkan argumentasi rasional itu," tutur ketua Mahasiswa Ahlith Thariqah An Nahdliyya DKI Jakarta ini.

Dosen Pasca Sarjana Universitas NU Indonesia (Unusia) ini mengaku sudah banyak menemukan mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah bertobat dan kembali menjadi warga negara yang baik.

"Mereka masuk HTI ada bai’atnya, maka kalau keluar juga harus dibai’at. Ini harus kita waspadai, meskipun HTI secara kelembagaan sudah dilarang pemerintah, tetapi ide dan gagasan khilafah masih mendominasi pikiran-pikiran mereka," terangnya.

Selain itu, lanjut Ali, untuk membuat keseimbangan dalam mengcounter paham kekerasan dan khilafah harus dilakukan secara bersama-sama, berjamaah, dan tidak usah malu-malu lagi. Pasalnya penyebaran dan korbannya sudah banyak.

"Kalau kelompok mayoritas seperti Nahdlatul Ulama (NU) masih diam, maka akan banyak orang lagi yang menjadi korbannya," ujarnya.

Selain itu, menurut dia, lembaga formal dan nonformal dan organisasi kemasyarakatan harus bersama melakukan langkah strategis dalam meng-counter gagasan khilafah.

"Organisasi yang istiqomah dalam meng-counter gerakan khilafah itu adalah NU. Dari pusat sampai daerah, NU konsisten dengan perjuangan ini, termasuk badan otonomi dan lembaga-lembaga di bawahnya," tegasnya yang juga menjabat Sekretaris Awwal Imdla’iyyah di Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah NU ini.

Ia sepakat di era digital dan medsos, penyebaran paham ini sangat luar biasa. Apalagi sekarang semua orang bisa menjadi dai atau mubalig di medsos.

Ia yakin kalau dai atau mubalig bisa membina secara intensif tentang pemikiran keislaman yang utuh, moderat, tasamuh (lemah lembut dan pemaaf), maka mereka yang membaca di medsos tentang isu dan pemikiran khilafah, akan kreatif dan bertanggungjawab melakukan perlawanan dengan gagasan Islam yang utuh, moderat, dan tasamuh tersebut.

Menurutnya, harus dilakukan semacam roadshow ke daerah-daerah untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda, baik mahasiswa dan masyarakat umum. Mereka harus diberikan ‘senjata’ untuk meng-counter di medsos berupa tulisan, meme, video pendek seperti yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Damar Institute melalui workshop dan pelatihan Matan Cinta Damai di Ponpes Al Rabbani, Cikeas, Bogor pada 29-31 Maret 2019.

"Ini sangat bagus sekali, efeknya sangat bagus sekali. Setelah pikiran mereka kita isi dengan basic spiritual, lalu kemampuan teknik untuk meng-counter di medsos juga dilatih dengan teknik-teknik teknologi terbaru. Ibarat mereka sudah kita persenjatai sebagai seorang pejuang di garda terdepan karena bagaimanapun peran generasi muda ini yang harus kita dukung, kita arahkan, supaya mereka bisa menjadi kader-kader yang istiqomah dalam menjaga NKRI ini," pungkasnya.[R]


Kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah hancur lebur setelah kekhalifahan mereka di dua negara itu habis. Baghouz adalah wilayah ISIS terakhir yang berhasil dikuasai Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat.

Meski ISIS di Suriah dan Irak sudah hancur, ideologi khilafah dan kekerasan yang selama ini diusung organsisasi ‘hitam’ itu harus tetap diwaspadai. Apalagi, ideologi itu sudah banyak menyebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Belum lagi, nanti para mantan anggota ISIS yang pernah ‘berkhianat’ ke negaranya dengan bergabung dengan ISIS di Suriah, bisa pulang ke negaranya.

"Ingat munculnya kelompok-kelompok radikal, baik Islam maupun non-Islam itu sesungguhnya by design (direncanakan). Jadi itu tidak lahir begitu saja, tetapi ada skenario. Mereka memasukkan gagasan khilafah yang didesain begitu rupa dengan tujuan untuk mengacak-acak Indonesia,” ujar Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI KH. Ali M. Abdillah di Jakarta.

Memang, lanjut kiai Ali, ISIS telah kalah di Suriah. Tapi ideologi mereka yang sudah terlanjur menyebar harus diwaspadai. Artinya, masyarakat awam yang menjadi sasaran penyebaran ideologi itu perlu kita pagari.

Penyebaran ideologi kekerasan sangat masif terutama menyasar pelajar sekolah umum dan mahasiswa perguruan tinggi umum, juga di lingkungan kantor dan lembaga. Terlebih di era media sosial (medsos) ini, ia menjelaskan bahwa counter yang baik dengan menetralisir isu-isu yang dilempar di medsos dan langsung direspon secara argumentatif.

"Kalau mereka menggunakan dasar Alquran dan Hadits, maka kita juga harus melakukan itu. Lalu kalau mereka menggunakan argumentasi sejarah, maka kita juga harus bisa menyampaikan itu. Kalau hanya menggunakan argumentasi rasional, maka kita juga harus bisa memainkan argumentasi rasional itu," tutur ketua Mahasiswa Ahlith Thariqah An Nahdliyya DKI Jakarta ini.

Dosen Pasca Sarjana Universitas NU Indonesia (Unusia) ini mengaku sudah banyak menemukan mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah bertobat dan kembali menjadi warga negara yang baik.

"Mereka masuk HTI ada bai’atnya, maka kalau keluar juga harus dibai’at. Ini harus kita waspadai, meskipun HTI secara kelembagaan sudah dilarang pemerintah, tetapi ide dan gagasan khilafah masih mendominasi pikiran-pikiran mereka," terangnya.

Selain itu, lanjut Ali, untuk membuat keseimbangan dalam mengcounter paham kekerasan dan khilafah harus dilakukan secara bersama-sama, berjamaah, dan tidak usah malu-malu lagi. Pasalnya penyebaran dan korbannya sudah banyak.

"Kalau kelompok mayoritas seperti Nahdlatul Ulama (NU) masih diam, maka akan banyak orang lagi yang menjadi korbannya," ujarnya.

Selain itu, menurut dia, lembaga formal dan nonformal dan organisasi kemasyarakatan harus bersama melakukan langkah strategis dalam meng-counter gagasan khilafah.

"Organisasi yang istiqomah dalam meng-counter gerakan khilafah itu adalah NU. Dari pusat sampai daerah, NU konsisten dengan perjuangan ini, termasuk badan otonomi dan lembaga-lembaga di bawahnya," tegasnya yang juga menjabat Sekretaris Awwal Imdla’iyyah di Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah NU ini.

Ia sepakat di era digital dan medsos, penyebaran paham ini sangat luar biasa. Apalagi sekarang semua orang bisa menjadi dai atau mubalig di medsos.

Ia yakin kalau dai atau mubalig bisa membina secara intensif tentang pemikiran keislaman yang utuh, moderat, tasamuh (lemah lembut dan pemaaf), maka mereka yang membaca di medsos tentang isu dan pemikiran khilafah, akan kreatif dan bertanggungjawab melakukan perlawanan dengan gagasan Islam yang utuh, moderat, dan tasamuh tersebut.

Menurutnya, harus dilakukan semacam roadshow ke daerah-daerah untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda, baik mahasiswa dan masyarakat umum. Mereka harus diberikan ‘senjata’ untuk meng-counter di medsos berupa tulisan, meme, video pendek seperti yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Damar Institute melalui workshop dan pelatihan Matan Cinta Damai di Ponpes Al Rabbani, Cikeas, Bogor pada 29-31 Maret 2019.

"Ini sangat bagus sekali, efeknya sangat bagus sekali. Setelah pikiran mereka kita isi dengan basic spiritual, lalu kemampuan teknik untuk meng-counter di medsos juga dilatih dengan teknik-teknik teknologi terbaru. Ibarat mereka sudah kita persenjatai sebagai seorang pejuang di garda terdepan karena bagaimanapun peran generasi muda ini yang harus kita dukung, kita arahkan, supaya mereka bisa menjadi kader-kader yang istiqomah dalam menjaga NKRI ini," pungkasnya.