Kasus Reynhard Sinaga, PPI Swedia: Tingginya Pendidikan Tidak Menentukan Seseorang Bermoral Baik

Kasus pemerkosaan yang dilakukan Reynhard Sinaga seorang masiswa program doktoral tercatat sebagai kasus kejahatan seksual terbesar di Inggris Koordinator Pusat PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Swedia Adinda Smaradhana R yang juga merupakan Mahasiswi S2 KTH Royal Institute of Technology, Swedia dalam tanggapannya terhadap kasus RS tersebut mengatakan bahwa pendidikan yang tinggi tidak menentukan seseorang bermoral baik. "Orang dengan pendidikan tinggi belum tentu memiliki pemahaman yang baik untuk berperilaku/bermoral baik pula", ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOLSumut Sabtu (11/1/2020) malam. Faktor penentu perilaku banyak sekali. Bisa dari pola asuh orang tua, juga bagaimana penanaman nilai-nilai moral ditanamkan kepada anak semenjak dini, sambungnya. Menurut Adinda untuk menghindari terjadinya hal serupa (kejahatan moral/asusila) pemerintah Swedia melakukan penanam nilai-nilai moral yang telah mengaturnya dalam kurikulum pendidikan di Swedia. "Pendidikan disini dibagi antara pendidikan yang sifatnya eksak (matematika, bahasa, dll) dan pendidikan karakter. Penanaman nilai2 bagaimana kita bertoleransi, tidak membully teman, harus berteman dengan siapapun, tidak berlaku kasar, diajarkan pula di sekolah", katanya. Menurutnya hal tersebut karena pemerintah Swedia paham bahwa posisi sekolah adalah membantu peran dari pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah (istilahnya perpanjangan tangan). "Jadi semenjak dini, anak tidak hanya diajarkan untuk berprestasi dalam hal memiliki nilai tinggi dalam subject yang diajarkan di kelas tetapi juga dilatih untuk paham peran nya sebagai manusia yang beradab", pungkasnya. [R]


Kasus pemerkosaan yang dilakukan Reynhard Sinaga seorang masiswa program doktoral tercatat sebagai kasus kejahatan seksual terbesar di Inggris Koordinator Pusat PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Swedia Adinda Smaradhana R yang juga merupakan Mahasiswi S2 KTH Royal Institute of Technology, Swedia dalam tanggapannya terhadap kasus RS tersebut mengatakan bahwa pendidikan yang tinggi tidak menentukan seseorang bermoral baik. "Orang dengan pendidikan tinggi belum tentu memiliki pemahaman yang baik untuk berperilaku/bermoral baik pula", ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOLSumut Sabtu (11/1/2020) malam. Faktor penentu perilaku banyak sekali. Bisa dari pola asuh orang tua, juga bagaimana penanaman nilai-nilai moral ditanamkan kepada anak semenjak dini, sambungnya. Menurut Adinda untuk menghindari terjadinya hal serupa (kejahatan moral/asusila) pemerintah Swedia melakukan penanam nilai-nilai moral yang telah mengaturnya dalam kurikulum pendidikan di Swedia. "Pendidikan disini dibagi antara pendidikan yang sifatnya eksak (matematika, bahasa, dll) dan pendidikan karakter. Penanaman nilai2 bagaimana kita bertoleransi, tidak membully teman, harus berteman dengan siapapun, tidak berlaku kasar, diajarkan pula di sekolah", katanya. Menurutnya hal tersebut karena pemerintah Swedia paham bahwa posisi sekolah adalah membantu peran dari pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah (istilahnya perpanjangan tangan). "Jadi semenjak dini, anak tidak hanya diajarkan untuk berprestasi dalam hal memiliki nilai tinggi dalam subject yang diajarkan di kelas tetapi juga dilatih untuk paham peran nya sebagai manusia yang beradab", pungkasnya.