Jokowi Harusnya Minta Maaf, Bukan Ajak Warga Bersyukur Soal Covid-19

Tangkapan layar cuitan Hinca Panjaitan/repro
Tangkapan layar cuitan Hinca Panjaitan/repro

Pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengajak masyarakat Indonesia bersyukur karena Indonesia dianggap mampu mengelola pandemi Covid-19 dinilai tidak tepat.


Sebab, hingga saat ini data orang terkonfirmasi covid-19 masih menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Politisi Partai Demokrat, Hinca Panjaitan mengatakan kata 'mensyukuri' yang disampaikan Joko Widodo tersebut kurang tepat.

“Mensyukuri ‘Indonesia mampu kelola Covid-19’ kurang tepat pak. Angka kasus positif, angka kematian, bertambah setiap hari. Signifikan pula. Harusnya bapak meminta maaf,” tegasnya dalam akun Twitter pribadi, Senin (11/1).

Eks Sekjen DPP Partai Demokrat Hinca Pandjaitan mengakui bahwa mengucap rasa syukur memang harus senantiasa diucapkan setiap insan yang masih diberi nafas kehidupan. Namun berkaca pada data yang ada, Presiden Joko Widodo sebaiknya lebih mengedepankan kata-kata yang lain.

"Kanselir Jerman, Angela Merkel yang pada akhir tahun lalu meminta maaf kepada warga Jerman. Merkel tidak jumawa dan tidak mengklaim keberhasilan lantaran banyak nyawa rakyatnya yang hilang karena pandemi," tulis Hinca lagi.

Di Indonesia, angka kematian Covid-19 sudah mencapai 24 ribu jiwa.

“Apa itu patut kita syukuri? Tidak tuan. Tidak,” tegas Hinca.

Adapun ajakan Presiden Jokowi agar masyarakat bersyukur karena Indonesia mampu mengelola pandemi Covid-19 disampaikan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-48 PDIP.

Dia menjelaskan bahwa Indonesia berhasil mengendalikan masalah kesehatan dan perekonomian di saat pandemi.

"Walau pandemik belum berlalu, tapi kita bersyukur bahwa kita termasuk negara yang mampu mengelola tantangan ini. Penanganan kesehatan yang bisa dikendalikan dengan terus meningkatkan kewaspadaan dan pertumbuhan ekonomi yang sudah naik kembali sejak kuartal 3 lalu meski dalam kondisi minus," kata Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Minggu (10/1).