Ironi 'Sumut Bermartabat' Dan Jadwal Seleksi Komisi Yang Serba Rahasia

Ilustrasi/net
Ilustrasi/net

Situasi yang sangat ironis saya kira sedang terjadi di Sumatera Utara yang selalu digadang oleh Gubernur Sumut Edy Rahmayadi sebagai era 'Sumut Bermartabat'. Situasi ini saya sorot terkait tahapan seleksi calon Komisi Informasi Publik (KIP) Sumatera Utara dan seleksi Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Utara yang kini sedang berproses.

Seleksi KIP Sumut saat ini sudah hampir sampai pada tahap final dimana para peserta segera memasuki tahapan uji kepatutan dan kelayakan yang akan digelar di Komisi A DPRD Sumatera Utara. Progresnya lebih cepat karena pelaksanaannya memang lebih awal dibanding seleksi calon anggota KPID Sumatera Utara yang kini masih dalam tahap awal yakni masih melewati pemeriksaan berkas.

Lantas ironisnya dimana?. Ironis karena tahapan ini selalu diwarnai ketidakjelasan jadwal. Tentu saja dari sisi kewajaran, kondisi ini menurut pendapat saya adalah sebuah hal yang tidak wajar dan tentu saja meruntuhkan martabat dari seleksi itu sendiri.

Seyogyanya, para peserta yang mengikuti seleksi ini berhak mendapatkan informasi yang utuh mengenai jadwal tahapan yang akan mereka ikuti. Begitulah menurut saya cara untuk membuat seleksi ini bermartabat, selain tentunya materi seleksi dalam setiap tahapan yang dibuat sangat detail sehingga memperlihatkan kapasitas dan kualitas masing-masing peserta seleksi. 

Dalam setiap pengumuman, baik tim seleksi KIP Sumut maupun tim seleksi KPID Sumut tidak menjelaskan jadwal pasti mengenai lanjutan dari seleksi yang akan diikuti oleh peserta yang lolos untuk tahap selanjutnya. Pada pengumuman mereka hanya selalu mengingatkan agar peserta selalu memperhatikan pengumuman lanjutan pada laman yang mereka cantumkan. Apa iya, calon peserta selalu dihadapkan pada jadwal yang tak pasti?

Pertanyaannya adalah apakah jadwal pasti belum tersusun dengan rapi?. Saya kira ini ironi kedua yang membuat kita miris. Apa iya tim seleksi yang konon katanya diisi oleh orang-orang yang sangat kompeten tidak mampu membuat jadwal pasti untuk setiap tahapan seleksi?.

Kalau itu yang terjadi, sepertinya seleksi yang ada masih jauh dari kata 'Sumut Bermartabat'