Hadiri Peresmian Vihara Di Medan, Yenni Wahid Mengaku Gelisah Soal Toleransi Yang Semakin Terkikis

Yenni Wahid/Ist
Yenni Wahid/Ist

Rasa kasih sayang antar sesama manusia tanpa memandang berbagai perbedaan yang ada menjadi kebutuhan untuk dapat tumbuh bersama.


Karena itu, rasa kasih sayang harus senantiasa dipupuk agar tumbuh subur dalam hati sanubari manusia.

Demikian disampaikan Yenni Wahid saat menghadiri peresmian gedung Buddhayana Dharmasala di Vihara Borobudur, Jalan Imam Bonjol, Medan, Sabtu (4/12/2021).

Hadir dalam peresmian Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah, Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Amin Untario, Ketua Badan Pendiri Vihara  Borobudur Romo Phoa Krishnaputra, Ketua Yayasan Vihara Borobudur Lindawati Rusli, Walikota Medan Bobby Nasution dan Forkopimda Kota Medan. 

Dalam sambutannya, Yenni mengaku selama ini dirinya jarang menghadiri kegiatan secara langsung. Namun pada kegiatan ini, Ia hadir langsung karena rasa cinta yang mengalir dari ayahnya Abdul Rahman Wahid (Gusdur) dan YM. Bhante Ashin Jinarakhitta Mahastavira (Sukong).

"Sukong dan Gusdur banyak memiliki kesamaan. Sukong tokoh Buddha yang punya hubungan baik dengan berbagai agama. Welas kasih yang dimiliki keduanya adalah inspirasi dan ini yang dibutuhan dunia apalagi anak muda sekarang yang banyak merasakan kegelisahan," ujar Yenni Wahid.

Dunia media sosial yang mengubah pertemuan atau interaksi secara virtual  membuat rasa saling mengerti atau welas kasih mulai hilang. 

"Sekarang antara kita jarang sekali berinteraksi secara fisik apalagi anak-anak kita mereka mungkin sudah jarang bermain bersama teman-temannya. Padahal itu adalah kebutuhan yang dimiliki oleh seorang manusia agar bisa tumbuh seutuhnya dan mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan. Sosial media kita gak perlu mengembangkan rasa saling mengerti, kalau enggak suka unfollow saja," ujarnya.

Karena hal ini, lanjutnya anak-anak muda pada saat ini sangat minim atau tidak terlalu dibekali dengan kemampuan untuk bisa berinteraksi dengan baik. 

"Akhirnya yang terjadi adalah kegelisahan mereka maunya instan saja. Padahal untuk bisa menumbuhkan pohon yang tinggi harus mau menanam bibit menyirami menjaga dari hama dan memastikan kena sinar matahari proses panjang tidak bisa dari langsung dalam waktu 3 bulan langsung jadi pohon besar kecuali namanya pohon singkong tapi nggak bisa mengharapkan pohon jati," ceritanya.

Untuk itu ia berharap Vihara Borobudur melalui Buddhayana Dharmasala bisa menjadi tempat untuk lebih banyak lagi mempraktekkan rasa cinta terhadap sesama. 

"Menjadi tempat dimana kita bisa lebih banyak menyemai cinta dan lebih banyak vibrasi ketenangan vibrasi compassion atau welas asih bisa menyebar ke seluruh masyarakat kita karena saya percaya gelombang itu punya peran besar makin banyak orang yang mengeluarkan vibrasi yang menenangkan lewat doa lewat meditasi ini akan menjadi alat untuk menurunkan suhu di masyarakat. Peranan bapak dan ibu sekalian terutama para anggota Sangha menjadi sangat besar untuk bisa menurunkan suhu di masyarakat lewat doa dan lewat Darma karena itu saya ingin mengucapkan selamat atas peresmian ini," tutupnya.