Gubernur Sumut: Data Covid Melandai Bukan Alasan Abaikan Prokes

Gubernur Edy Rahmayadi/RMOLSumut
Gubernur Edy Rahmayadi/RMOLSumut

Kasus Covid-19 Sumatera Utara (Sumut) mengalami penurunan yang signifikan. Sejak 26 September 2021 kasus harian Covid-19 Sumut di bawah angka 100.


Namun Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengingatkan ini bukan alasan menurunkan kedisiplinan Protokol Kesehatan (Prokes).

Penurunan kasus Covid-19 di Sumut seiring dengan semakin masifnya vaksinasi. Sampai Oktober 2021,  vaksinasi Sumut mencapai 47% (target 50% di akhir bulan ini). Edy Rahmayadi mengingatkan perkembangan Covid-19 masih tidak terduga sehingga Prokes tetap menjadi senjata utama dalam melawan Covid-19.

“Kita harus belajar dari negara lain, Inggris misalnya cakupan vaksinasi dan tracing mereka sangat tinggi, tetapi sampai saat ini penyebaran Covid-19 di sana tinggi juga. Jadi, Prokes masih senjata utama kita bersamaan dengan vaksinasi. Kedua ini upaya kita melawan pandemi,” kata Edy Rahmayadi, usai pertemuan dengan Forkopimda dan FKUB Sumut di Aula Tengku Rizal Nurdin, Jalan Sudirman Nomor 41, Medan, Jumat (29/10).

Berdasarkan data covid-19.go.id ada penurunan kepatuhan menggunakan masker di Sumut. Per 9 Agustus 2021 kepatuhan mengenakan masker 0% di tingkat <60%, 9,09% untuk tingkat 61-75%, 45% untuk tingkat 76-90%, dan 45% untuk tingkat 91-100%. Namun, 11 Oktober tingkat kepatuhan di <60% bertambah menjadi 13,64%.

Begitu juga dengan jaga jarak, pada 16 Agustus tingkat kepatuhan di bawah 60% berada di angka 5,26% sedangkan 11 Oktober bertambah menjadi 40,91%. Ada peningkatan signifikan pada kelompok yang kurang patuh prokes di Sumut.

“Ada kelonggaran dari pemerintah, mobilitas kita semakin tinggi, tetapi itu juga dibarengi Prokes yang mulai kendur. Saya sangat berharap masyarakat tetap disiplin Prokes, kita tidak ingin ada gelombang ketiga di Sumut karena lalai dalam Prokes,” tegas Edy Rahmayadi.

Sementara itu, Kapolda Sumut RZ Panca Putra Simanjuntak mengatakan yang perlu diwaspadai dalam waktu dekat ini Natal dan Tahun Baru (Nataru). Berkaca dari pengalaman sebelumnya, usai peringatan hari besar terjadi lonjakan kasus Covid-19.

Lonjakan kasus Nataru tahun lalu dimulai akhir Januari 2021, puncaknya di 10 Februari dengan 224 kasus. Disusul Imlek akhir Januari dan Idulfitri di bulan Mei, ini juga bertepatan dengan memaraknya varian delta sehingga terjadi lonjakan besar Covid-19 bulan Agustus dengan puncaknya 2.045 kasus per harinya.

“Kita sedang merumuskan formula yang tepat menghadapi Nataru, tentunya ini perlu kesepakatan bersama dengan berbagai pihak, mempertimbangkan pemulihan ekonomi dan sebagainya. Walau begitu, mencegah sirkulasi virus Covid-19 tetap yang utama, karena itu masyarakat jangan lalai Prokes,” tegas Panca.